8. Berdua

25.4K 1.1K 25
                                        

"Tolong jangan buat gue nyaman, kalau pada akhirnya lo ninggalin gue."
-Keyla Clarista

❤❤❤

Setelah mereka berdua membersihkan perpustakaan, mereka memutuskan ke kantin karena sudah waktunya istirahat, banyak pasang mata yang sekarang melihat ke arah Alvan dan Keyla.


Jika dilihat lihat memang Alvan dan Keyla terlihat cocok karena mereka sama sama most wanted .

Banyak perempuan yang memilih mundur untuk mendekati Alvan daripada mereka harus disandingkan dengan Keyla.

"Lo mau pesen apa biar gue pesenin, hari ini gue traktir lo," ucap Alvan.

"Ehm bakso sama es teh aja deh," jawab Keyla.

"Eh lo sini," teriak Alvan memanggil salah satu laki-laki adik kelasnya, tangannya melambai memerintahkan adik kelas itu menghampirinya.

"A...da apa ya kak," ucap adik kelas itu sedikit takut melihat Alvan, bagaimana tidak takut tampang Alvan saja terlihat tegas, apalagi karena hukumannya kemarin membuat Alvan menjadi terkenal seantero sekolah karena kenakalannya.

"Tolong pesenin bakso 2 sama es teh 2, nih uangnya kembaliannya buat lo" ucap Alvan memberikan uang senilai 50 ribu ke adik kelasnya itu.

"I...iya kak," jawab adik kelas itu lalu pergi untuk membelikan pesanan Alvan.

"Apaan sih lo kenapa malah nyuruh adik kelas katanya lo yang pesenin," ucap Keyla, dia merasa jika Alvan sangat semena-mena.

"Gue mager, liat aja tuh mang Ijan lagi rame banget," jawab Alvan sambil menunjuk ke arah gerobak mang Ijan yang terdapat beberapa murid mengerubungi.

"Ya lain kali jangan suruh-suruh orang lain dong, kan kasian dia," ucap Keyla.

"Iya deh cantik" jawab Alvan sambil mengedipkan sebelah matanya dan dijawab Keyla dengan memutar bola matanya, menurut Keyla pujian yang diberikan Alvan itu hanya bualan semata. Lagi-lagi godaan itu tidak mempan untuk Keyla, dan Keyla bukanlah orang yang mudah melibatkan perasaannya.

🌻🌻🌻

Waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah, dan saatnya para siswa siswi kembali kerumah masing masing.

"Eh gue balik dulu ya," ucap Keyla ke teman teman kelasnya yang sekarang tersisa 5 orang saja, yang lainnya sudah langsung pulang setelah bel berbunyi tapi beda dengan Keyla yang menunggu di kelas dulu sampai halte sedikit sepi.

"Iya hati-hati Key," jawab mereka serempak.

Keyla keluar dari sekolah dan seperti biasa dia pulang naik bis.

Keyla mendapati bis yang sudah ada didepannya, kemudian dia menaiki bis itu.

Alvan menghela nafasnya ketika melihat Keyla sudah menaiki bis. Yah, rencananya kali ini gagal, padahal tadi Alvan berniat mengantarkan Keyla pulang.

🌻🌻🌻

Alvan telah sampai dirumahnya, dia memikirkan tentang taruhannya bersama Nando, "gue harus bisa menangin taruhan itu, demi motor gue, enak aja Nando ngambil motor kesayangan gue," sebenarnya meskipun motor itu diberikan kepada Nando, Alvan bisa dengan mudah meminta motor kepada papanya lagi, tapi entah kenapa merelakan motor itu sedikit berat untuk Alvan.

Alvan melangkahkan kaki ke balkon kamarnya, memandang bintang bintang dan yang menghiasi langit, "kalau diliat liat Keyla emang cantik sih," dia menghela sedikit nafasnya, "apa gue tertarik beneran ya sama dia?" Tanyanya kepada diri sendiri.

Alvan merasa aneh pada dirinya padahal seumur-umur dia belum merasakan jatuh cinta kepada perempuan, tiba-tiba saja rasanya berbeda saat bertemu dengan Keyla.

Alvan memasuki kamarnya, menutup pintu balkon yang terhubung dengan kamar lalu merebahkan badannya dikasur, baru saja dia pindah ke sekolah yang baru sudah banyak kejadian yang dia alami seperti ini.

Pintu kamar Alvan tiba-tiba terbuka, membuat sipemilik kamar terkejut, "mama," pekik Alvan.

Diana memasuki kamar putranya, "Alvan, kok belum tidur?" Tanya Diana.

Alvan menarik selimutnya hingga batas dada, "iya habis gini tidur ma."

Diana duduk ditepian kasur, "Alvan kemarin kamu bolos kan?"

Alvan terkejut bagaimana mamanya bisa tahu hal tersebut. Mampus, hari ini Alvan tidak ingin disidang oleh mamanya. "Nggak kok ma."

"Alvan jujur sama mama," ucap Diana.

Alvan mencoba menghilangkan rasa gugupnya, "iya, tapi gak kemarin udah lama."

Diana menghela nafasnya, "kamu ini, kan mama sudah memperingati jangan sampai bikin ulah Alvan, kamu mau di DO lagi dari sekolah?"

Alvan menggeleng, "nggak." Alvan beranjak dari tidurnya, "tapi ma, Alvan kan cowok kalau gak bikin ulah gak asik."

"Gak asik gak asik, terus kalau di DO lagi bisa asik gitu?"

Alvan menggeleng lagi, "ya nggak juga sih, papa tahu soal ini ma?"

Diana mengusap bahu anaknya, "untung aja papa kamu gak tahu, tadi mama yang ditelpon dari pihak sekolah, karena ulah kamu."

"Maaf ma," ucap Alvan sambil menunduk merasa sedikit bersalah, oh hanya sedikit.

"Lain kali jangan di ulangi lagi."

Alvan menunjukkan cengirannya, "gak janji."

Diana sudah pasrah menghadapi putranya ini, "ya sudah cepet tidur, besok sekolah," ucap Diana lalu meninggalkan kamar Alvan.

"Apaan mentang-mentang papa pihak berdonasi, semua sikap gue di sekolah harus dilaporin ke papa," gerutu Alvan tidak terima, "gak sekalian aja panggilan orang tua gitu, kesel gue."

Hai hai
Gimana nih ceritanya?

Jangan lupa buat voment
Makasih banyakkkk

KEYVANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang