Sudah tiga hari Naveen menghilang dan semua orang panik mencarinya. Karena tak bisa menunggu lagi, maka keluarga melaporkan ini pada pihak kepolisian. Orang tua Naveen melaporkan kehilangan anaknya yang sudah terjadi selama 3X24 jam.
"Pa, apa Papa nggak bisa bantu untuk cari Naveen? Papa kan punya banyak Team, semuanya selalu berhasil di tangan Papa. Tolong, Pa..." minta Princess pada Papanya.
Rayen menghela nafas. "Princess, kalau kasus ini sudah berada di tangan polisi dan mereka masih melakukan penyelidikan, maka Team Agent Rahasia tidak boleh bertindak dulu. Ini melanggar etika pekerjaan, Papa dan Team yang dikirim akan mendapatkan sangsi atas tindakan itu."
"Apa jabatan lebih penting buat Papa?" tanya Princess marah. Dia tak mengerti apapun kecuali menemukan Naveen dengan segala cara.
"Princess, bukan seperti itu. Tapi..."
"Ma, Princess cuma ingin tau dimana Naveen. Sudah tiga hari dia hilang, apa kalian tau gimana rasanya hati aku saat ini?!" tanya Princess meledak-ledak.
"Princess, biarkan polisi lebih dulu bekerja. Bila memang nanti tidak ada hasilnya, maka Papa akan meminta kasus ini untuk dilimpahkan kepada Agent Rahasia," jelas Rayen.
"Kelamaan Pa! Terus apa yang Papa lakuin selama ini? Giovani masih aja berkeliaran, Papa nggak pernah serius!" sentak Princess. Dia langsung berlari ke kamarnya, lalu mengunci pintu dari dalam.
Princess naik ke ranjangnya, memeluk guling dan menangis sesenggukan.
"Naveen pulang... Tolong, aku udah takut banget..." lirihnya dalam isak tangis.
Seperti orang yang kehilangan akal sehat, Princess menghubungi nomor Naveen. Meski nomor itu sudah tidak pernah aktif lagi, Princess terus saja menghubunginya.
"Naveen... Tolong hubungin aku..."
Tiga hari bukanlah waktu yang bisa dimaklumi bila Naveen menghilang tanpa jejak seperti ini. Memang sudah biasa bila seorang anak laki-laki tidak pulang ke rumah untuk beberapa hari bagi setiap orang tua, tapi itu karena orang tua tau anaknya berada dimana atau bersama siapa. Dan Naveen ini beda, tidak satupun teman-temannya yang tau keberadaannya. Naveen tak ada yang menghubungi mereka, bahkan Princess.
•✤✤••✤✤•
KRIIINNGGG!!
Telepon rumah berbunyi di jam tengah malam, membuat seisi Rumah terbangun karenanya. Sementara Princess yang memang tidak bisa tidur, langsung berlari turun ke bawah karena mengira itu telepon dari Naveen.
Princess lebih dulu menggapai gagang telepon dibanding Keyra. "Ha-halo," sapa Princess.
Rayen dan Keyra duduk di sofa, menunggu.
Princess tak mendengar apa-apa kecuali suara tangis tersedu-sedu. Dia mengenal suara itu berasal dari Mamanya Naveen. "Ta-Tante, kenapa nangis?" tanya Princess dengan bibir bergetat. Feeling-nya begitu jelek, dia yakin ini bukanlah berita baik.
"Princess... Naveen... Naveen..." Mama Naveen kembali menangis, bahkan lebih terisak dari sebelumnya.
"Tante, Naveen kenapa? Naveen udah pulang? Tante jangan bikin Princess takut!!!" teriak Princess.
"Naveen kecelakaan, motornya masuk ke jurang dan terbakar..."
Seketika gagang telepon terlepas dari tangan Princess. Dia tak menangis, tapi wajahnya datar, dingin dan tanpa ekspresi. Dia lantas berdiri, "salah sambung, Ma. Bilang ke orang itu kalau Naveen baik-baik aja. Dia pasti salah," ujar Princess pada Mamanya.
Keyra mengerutkan keningnya, dia langsung mengambil alih telepon dan bicara pada Mama Naveen. Setelah tau kabar terbarunya, Keyra menangis dan meraung persis seperti Mamanya Naveen tadi.
Princess menggelengkan kepala, tetap dengan wajah datarnya. "Kalian kenapa sih? Naveen tuh cuma lagi pergi aja, dia bakal pulang kok. Dia cuma lagi ngerjain kita aja," saat mengatakannya Princess tak bisa menahan air matanya jatuh, meski wajahnya tetap berusaha tenang.
Keyra langsung memeluk Princess, dia menangis. "Kamu harus ikhlas, Princess."
Rayen terduduk lemah di sofa, dia merasa begitu bersalah karena tak membantu proses pencarian Naveen.
Princess meronta melepaskan pelukan Mamanya. "Mama jangan bicara sembarangan, Naveen baik-baik aja!!" bentaknya.
"Princess..." lirih Keyra.
"Naveen nggak mungkin pergi, Ma!! Dia masih hidup! Naveen udah janji dia nggak akan ninghalin aku!"
Keyra menggeleng, dia tau persis bagaimana rasanya mendengar berita kehilangan seperti ini. Dulu, dia pun pernah berada dalam posisi seperti ini dimana Rayen dinyatakan meninggal dunia.
Brak!
Princess pingsan.
•✤✤••✤✤•
Setelah Princess sadar dari siuman, dia langsung minta pada Orang tuanya untuk mengantarnya ke Rumah Naveen. Sepanjang perjalana dia terus menangis dalam pelukan Keyra.
"Ma, ini bohong kan? Pasti berita ini salah kan?" tanya Princess berulang kali. Dia benar-benar tak ingin mengakui kepergian Naveen, sangat berat dan terasa mustahil terjadi secepat ini.
"Princess, kamu boleh nangis sepuas kamu. Teriak kalau perlu. Mama nggak akan larang. Mama tau gimana rasanya. Lakukan, Nak..." suruh Keyra.
Princess pun berteriak, meraung dengan keras hingga Keyra ikut menangis. Rayen yang duduk di samping sopir, sama terpukulnya dengan mereka berdua. Berulangkali dia mengusap wajahnya, mencoba untuk tidak menangis.
Begitu sampai di Rumah Naveen, kondisi sudah lumayan ramai. Sanak keluarga berdatangan, juga tetangga sekitar. Bahkan di depan rumah Naveen sudah dipasangi bendera kuning.
Princess berlari menerobos semua orang yang sedang berduyun-duyun masuk. Kakinya terhenti saat melihat Mamanya Naveen menangis memeluk sebuah peti berwarna putih yang ada di lantai. Sementara Papa Naveen terduduk lemas di dekat peti, dibantu berbagai orang untuk tegar.
Melihat Mamanya Naveen menangis seperti itu, semua terasa sangat nyata. Princess meneteskan air matanya tanpa suara, melangkah pelan dengan kaki yang mulai gemetar.
"Tante..." panggil Princess.
"Princess!!" Mama Naveen langsung memeluk Princess dan menangis lebih keras. "Naveen... Naveen sudah pergi," rintihnya.
Princess tak mau mengakuinya, dia tak merespon apa-apa kecuali kakinya yang terus melangkah mendekati peti. Saat Princess ingin membuka tutup peti tersebut, seorang wanita berumur menghalanginya.
"Jangan dilihat Nak, tidak ada yang bisa dilihat," beritahunya.
Princess merasa nafasnya sesak. Dia memejamkan mata dan semakin banyak meneteskan buliran bening. Dia menoleh ke Orang tuanya sedang memberikan semangat pada Orang tua Naveen.
"Kakak..."
Princess menoleh ke seorang anak perempuan yang memeluknya, dia adalah adiknya Naveen bernama Navisha. Adik kesayangan Naveen satu-satunya. Dia pun tak kuasa memeluk gadis belia itu dan menangis bersama-sama.
"Kak Naveen nggak mungkin pergi. Kak Naveen udah janji mau kasih aku kado yang besar saat aku ulang tahun nanti. Kak Naveen nggak boleh pergi," lirih Navisha.
Princess tak tau harus berkata apa, dia sendiri tak ingin memperyainya. Dia menatap peti putih itu sambil berkata lirih dalam hati, "lo jahat. Lo udah ninggalin banyak janji yang nggak bisa lo tepatin. Selain sama Navisha, lo juga janji sama gue untuk nggak akan ninggalin gue, Nav..."
Tak bisa menahan diri, Princess mengabaikan semua larangan orang dan membuka tutup peti itu. Wajahnya terdiam, memang tak ada yang bisa dilihat lagi. Kecuali sesuatu yang nampak terbakar hangus hingga begitu hitam.
Lalu pingsan.
•✤✤••✤✤•
Apa yang kalian rasakan setelah baca part ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendshit (KOMPLIT)
Teen Fiction(Bab Masih Lengkap) Mempunyai seorang sahabat yang sangat Famous di sekolah, bukanlah hal yang membanggakan bagi Princess. Malah dia merasa itu sangat menyusahkan. Setiap saat, ada saja cewek-cewek yang mengganggunya dengan menitip salam, surat, ata...
