Waktu telah berlalu begitu cepat, meninggalkan setiap kenangan yang sempat terukir indah. Namun bagi Princess, waktunya telah berhenti tepat di saat Naveen pergi. Dia merasa tak ada lagi kehidupan, hanya ada keheningan dan kegelapan.
Tiga bulan, bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula, Princess masih tetap sama. Dia hidup, menjalani aktivitas seperti apa yang orang-orang inginkan, tapi hidup yang hanya bernafas, tidak benar-benar hidup.
Kepergian Naveen merupakan pukulan paling menyakitkan untuk Princess. Dia masih tidak bisa menerimanya sehingga siapapun dilarangnya untuk bicara kalau Naveen sudah tak ada. Dia ingin tetap hidup dengan menganggap Naveen masih ada dan sedang pergi jauh.
Dengan harapan, suatu saat Naveen akan kembali.
TIN!
Keyra menyentuh punggung tangan Princess, membuat anak gadisnya itu menoleh datar padanya. "Lori sudah jemput," beritahunya.
Princess pun bangun dari duduknya dan menyalami Mamanya. Dia segera keluar dari Rumah untuk menemui Lori yang telah menunggu di luar.
Ya, kini Lori menjadi sangat perduli pada Princess. Lori bilang, dia akan menggantikan Naveen untuk menjaga gadis itu. Meski rasanya mustahil ada yang bisa menggantikan posisi Naveen, tapi Lori tetap berusaha mencobanya.
Princess masuk ke dalam mobil, hanya memberikan senyum tipis yang teramat dipaksakan sebagai sapaan untuk Lori.
"Berangkat sekarang?" tanya Lori.
Princess mengangguk.
Selama perjalanan menuju Sekolah, Lori begitu banyak bicara. Dia menceritakan apa saja yang menarik dan bertujuan untuk menghibur Princess. Gadis itu hanya akan menanggapi dengan senyuman tipis saat cerita Lori memang sangat lucu.
"Tadi udah sarapan?" tanya Lori, dia sudah kehabisan bahan untuk dijadikan candaan.
"He-em," jawab Princess.
"Bagus. Sarapan memang penting. Biar jam pertama yang membosankan bisa dilewati tanpa suara perut yang keroncongan."
Princess diam saja.
Lori menoleh menatap Princess, tak ada perubahan pada gadis itu. "Gue boleh nanya satu hal nggak?"
Princess terpaksa menoleh dan menatap Lori.
Melihat mata Princess yang masih sarat akan kesedihan, nyali Lori ciut. Dia pun menggelengkan kepala dengan cepat, "nggak jadi. Nggak penting juga," ujarnya salah tingkah.
Princess pun tidak bertanya, menunjukkan kalau dia tidak penasaran. Malah, dia kembali diam dan bertingkah seakan-akan hanya ada dirinya sendiri di dalam mobil itu.
"Gue seneng bisa antar jemput lo," ujar Lori kemudian. Sungguh dia telah kehabisan bahan obrolan.
"Makasih, Lor," Princess menjawab tanpa menoleh dan dengan ekspresi datar.
Lalu keadaan hening kembali.
"Lo nggak suka ya gue anter jemput?" kali ini Lori penasaran dengan jawaban Princess.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendshit (KOMPLIT)
Teen Fiction(Bab Masih Lengkap) Mempunyai seorang sahabat yang sangat Famous di sekolah, bukanlah hal yang membanggakan bagi Princess. Malah dia merasa itu sangat menyusahkan. Setiap saat, ada saja cewek-cewek yang mengganggunya dengan menitip salam, surat, ata...
