"The only way out of the labyrinth of suffering is to forgive"
-Jhon Green-
♣️♣️♣️
Sudah hampir satu bulan Naveen dan Princess menjauh bagaikan orang asing. Entah disengaja atau tidak, kini mereka sudah jarang berpapasan. Mungkin karena Naveen yang selalu datang ke Sekolah menjelang bel masuk berbunyi, sementara Princess datang lebih pagi bersama Giovani. Atau bisa juga karena Naveen yang lebih memilih makan di jam istirahat kedua, sementara Princess tetap di jam istirahat pertama.
Tapi yakinlah kalau kali ini adalah sebuah Takdir. Mereka dipertemukan di Perpustakaan Sekolah, karena mendapat jatah piket membersihkan Perpus. Padahal, selama satu tahun lebih mereka bersekolah di sini, tak sekalipun jadwal piket mereka bisa samaan, meski selalu dipilih acak oleh Staff Perpus.
Jadi percayalah kalau kali ini memang sebuah Takdir.
"Waktu kalian cuma satu jam seperti biasa ya," kata Bu Rani selaku Staff Perpus.
Naveen dan Princess mengangguk. Di tangan mereka sudah memegang kemoceng untuk membersihkan debu pada Rak dan meja. Satu jam sepertinya cukup untuk membuat mereka saling membunuh dalam diam.
Tak ingin terlalu larut dalam euforia rindu di hatinya, Princess segera mengalihkan itu dengan berjalan cepat menuju susunan buku yang berantakan. Dia membuat dirinya sibuk, bahkan terkesan berlebihan. Selesai pada satu Rak buku, Princess pindah ke Rak buku lainnya dan terus seperti itu hingga satu barisan panjang Rak buku diselesaikannya hanya dalam waktu lima menit.
Sementara apa yang Naveen lakukan? Dia hanya diam memandangi Princess.
Princess terus mengalihkan matanya agar tak menatap Naveen, entah itu dengan cara menunduk atau menoleh ke arah lain. Dia tak ingin melihat wajah Naveen, takut bila nanti malah menangis saking rindunya.
Karena Naveen tak juga bergerak dari situ, maka Princess berinisiatif untuk pergi ke Rak-Rak lain. Dia berjalan melewati Naveen, tetap dengan kepala menunduk.
Deg!
Jantung Princess rasanya ingin berhenti ketika ada yang menahan pergelangan tangannya. Tentu saja Naveen lah pelakunya, tanpa harus melihat pun Princess mengenali sentuhan itu.
Naveen manarik tangan Princess lalu membawa gadis itu ke dalam pelukan yang begitu erat. Dia bisa merasakan ketegangan dari tubuh Princess yang sama sekali tidak merespon pelukan darinya. "Im sorry..." bisik Naveen.
Mendengar permintaan maaf itu, tubuh Princess meleleh bagaikan Es yang dipanaskan. Dia menangis. Dia membalas pelukan Naveen. Mereka menumpahkan segala kerinduan yang terpendam selama ini, meresapi betapa hangat dan nyamannya saat ini.
"Gue nggak kuat, gue nyerah. Gue nggak mau jadi orang asing lagi buat lo," bisik Naveen kembali.
Princess makin terisak, dia tak bisa berkata apa-apa selain meneteskan air mata.
•✤✤••✤✤•
Canggung, satu kata itulah yang tepat untuk mewakili sebuah pertemuan yang telah lama dipisahkan. Namun hal itu tidak berlaku untuk Naveen dan Princess, keduanya malah terlihat akrab seperti dulu lagi.
"Eh, bego! Itu tempatnya bukan di situ, lo nggak baca judulnya dulu?" maki Naveen saat Princess memasukkan buku IPA ke deretan buku IPS.
Princess tercengir. Dia menarik kembali buku tadi dan kali ini meletakkannya ke tempat yang bener. "Nav, capek..." keluhnya dengan bibir melengkung ke bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendshit (KOMPLIT)
Roman pour Adolescents(Bab Masih Lengkap) Mempunyai seorang sahabat yang sangat Famous di sekolah, bukanlah hal yang membanggakan bagi Princess. Malah dia merasa itu sangat menyusahkan. Setiap saat, ada saja cewek-cewek yang mengganggunya dengan menitip salam, surat, ata...
