🎈Fakta lama

32.2K 2.9K 302
                                        

Princess duduk lemas bersandar pada dinding di hadapan peti jenazah. Dia tak mengeluarkan air mata, namun kepedihannya terlihat jelas dari caranya menatap peti itu. Semua hal tentang Naveen bergelantungan di depan mata, serasa cowok itu sedang mencoba mengingatkannya tentang apa saja yang pernah mereka lewati bersama.


"Hey..." Lori duduk di samping Princess. Dia pun tampak terpukul, bahkan sejak awal dia mengikuti segala proses ditemukannya jenazah Naveen.

Princess diam saja, menoleh pun tidak.

"Gue mau kasih tau lo rahasia besar yang mungkin nggak akan pernah terbongkar andai Naveen masih ada di sini," ujar Lori.

Princess menoleh pada Lori, "apa?"

"Sebenernya yang selama ini naruh bunga dan puisi di meja lo adalah Naveen."

Kedua mata Princess terbelalak, dia menegakkan posisi duduknya dan menatap Lori dengan seksama. Jadi bukan Giovani? Bagaimana mungkin?

"Naveen yang suruh penjaga sekolah kita buat naruh bunga itu pagi-pagi. Terus pas jam istirahat, kalau bukan dia biasanya gue yang disuruh."

Princess menutup mulutnya dengan telapak tangan, diiringi dengan air matanya yang menetes. "Jadi selama ini gue..." dia memejamkan matanya. "Oh Tuhan..." Princess memijat keningnya sendiri, mengutuk kebodohannya.

"Sorry, harusnya gue nggak kasih tau lo soal ini. Karena ini cuma akan bikin lo makin sedih. Tapi gue cuma pengen lo tau gimana perasaan Naveen sama lo, dengan dia yang masih ada di bumi ini."

"Harusnya gue tau kalau itu dia. Gue harusnya tau..." tangis Princess. Dia tersedu-sedu, meratapi bertapa menyesalnya dia saat ini. Berulang kali Naveen memberikan kode, bahkan bicara terang-terangan tentang cinta cowok itu padanya, tapi Princess selalu mengelak.

"Naveeeeeennnn!" jerit Princess. Dia langsung berdiri dan memeluk peti jenazah itu. Semua orang semakin sedih melihat Princess seperti itu, bahkan Mamanya Naveen sampai pingsam kembali.

"Jangan tinggalin gue. Harusnya lo kasih gue kesempatan, jangan kayak gini Nav..." tubuh Princess luruh ke lantai, kakinya sudah tak kuat lagi.

Lori langsung menghampiri Princess dan memeluk gadis itu. "Sabar, Princess. Kita semua sedih di sini, relain dia pergi..." bisiknya.

Princess makin menangis, meraung bagaikan anak kecil. Dia tak perduli pada semua orang yang mungkin menganggapnya berlebihan.

"Bilang ke Naveen untuk bangun, Lor. Bilang ke dia kalau gue juga cinta sama dia. Bilang Lor, bilang!!" jerit Princess.

Lori makin mempererat pelukannya agar Princess tak menyakiti diri sendiri. "Dia pasti tau. Dia udah tau..." balas Lori.

"Nggak. Dia nggak tau. Gue nggak pernah bilang. Tolong Lor, bangunin Naveen sekarang..."

Karena sudah tak kuat lagi menahan gemuruh menyakitkan di tubuhnya, Princess pun pingsan dalam pelukan Lori. Dia langsung dibawa ke kamar Naveen untuk diistirahatkan dan dijaga oleh Mamanya.

•✤✤••✤✤•

Princess memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit. Dia berusaha untuk duduk tapi rasanya seluruh tubuhnya itu remuk, tak memiliki tenaga sama sekali.

"Princess..."

Panggilan itu menyadarkan Princess kalau dia telah selesai dengan dunia mimpinya, dimana masih ada Naveen di sana.

"Mama..." panggil Princess, lemah sekali.

"Iya sayang, ini Mama." Mata sembab Keyra menunjukkan kalau dia sudah banyak menangis.

"Ini cuma mimpi kan, Ma? Naveen nggak bener-bener pergi, kan?" tanya Princess dengan tatapan kosong.

"Princess, ikhlaskan, Nak. Kamu jangan mempersulit jalan Naveen lagi. Dia sudah tenang di sana..." bujuk Keyra.

Princess tak ingin mendengarnya. Dia memasang wajah tak ingin perduli pada kata-kata Mamanya itu. "Ma, apa ini kamar Naveen?" tanya Princess berusaha menahan air matanya.

"Iya sayang." sementara air mata Keyra sudah jatuh kembali.

"Apa Princess bisa ditinggalkan sendiri aja di sini?"

"Kamu beneran mau sendiri aja?" tanya Keyra cemas.

"Iya Ma. Please..." mohon Princess.

"Ya udah, lakukan apapun yang kamu mau. Tapi jangan lakukan hal yang bodoh, kamu masih punya Mama dan Papa. Ngerti?"

Princess mengangguk.

"Sabar ya, sayang." Keyra mencium kening Princess dengan penekanan yang cukup dalam. Dia masih meneteskan air mata, menangis untuk banyak hal.

Setelah Keyra pergi, Princess duduk dan mengamati kamar itu. Ada satu frame yang memajang fotonya dan Naveen, frame itu diletakkan persis di samping tempat tidur sehingga sangat mudah untuk terlihat. Princess pun mengambilnya, mengusap foto itu dengan tatapan nanar.

"Nggak lucu sama sekali, Nav. Candaan lo kali ini keterlaluan, gue bener-bener nggak suka. Ayolah Nav, lo tau kan gue paling nggak bisa marah sama lo, tapi kenapa kali ini lo bikin gue bener-bener marah sampe rasanya gue mau teriak dan bangunin lo saat ini juga."

"Gue masih nggak bisa percaya kalau lo udah nggak ada. Rasanya kayak mimpi aja, bener-bener mustahil." Princess menyeka air matanya.

"Nav, lo bahkan nggak ninggalin kode apapun kalau lo mau pergi secepat ini dan gue nggak yakin lo udah pergi."

"Di dalam peti itu bukan lo, Kan? Dia pasti orang lain. Iya Kan, Nav?"

Princess menggigit bibirnya, susah sekali menahan air matanya untuk tak jatuh. Dia tak ingin pandangannya terhalangi oleh kabut air mata, dia ingin menatap foto Naveen dengan jelas.

"Kenapa bisa kayak gini, Nav? Lo kemana sebenernya, kenapa nggak bilang ke gue kalau lo mau pergi. Andai lo bilang, gue nggak akan izinkan dan kejadian ini nggak mungkin ada."

"Gue sayang sama lo, Nav. Tolong jangan tinggalin gue..." Princess memeluk frame foto itu dan menangis keras.

Kenyataan memang sangat pahit, lebih tidak menyenangkan saat kamu merasa ini hanyalah sebuah mimpi tapi semua orang menyangkalnya dan mencoba menyadarkanmu kalau ini sebenarnya nyata.

•✤✤••✤✤•

Siapa yg nangis, ngaku?

Siapa yg auto girang bukan kepalang, ngaku?



Love,
Moms.

21 juli 2019.

Friendshit (KOMPLIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang