Sudah hampir 2 minggu Naveen dirawat di Rumah Sakit, kondisinya sudah sangat membaik. Gips di kedua kakinya telah dilepas, meski begitu Naveen belum diperbolehkan berjalan dulu. Luka-luka di tubuh Naveen pun sudah mengering. Lebam di wajahnya sudah tidak ada, kini dia tampan kembali.
Setiap hari, Princess selalu mendangi rumah sakit untuk menemui Naveen. Entah itu sepulang sekolah, malam harinya, atau sengaja bolos saat dia ingin waktu yang lama bersama cowok itu.
"Gimana kalau gue nggak bisa jalan lagi?" tanya Naveen mengenai kakinya.
"Jangan ngomong sembarangan. Dokter bilang lo bakal bisa jalan asalkan sabar dan mau ikut terapi. Ngerti?"
"Gue bahkan nggak bisa gerakin jari-jari kaki gue," beritahu Naveen. Dia memandangi kakinya yang cuma diam tak bergerak sedikit pun.
"Naveen, jangan pesimis. Gue yakin kok pasti bisa," bujuk Princess memberikan semangat.
"Kalau tetap nggak bisa?"
"Gue nggak bakal ninggalin lo," jawab Princess.
Naveen tersenyum hambar. "Mana ada cewek yang mau sama cowok cacat," sindirnya pada diri sendiri.
"Naveen stop ngomong ngaco kayak gitu! Lo pasti bisa jalan lagi. kalaupun nggak bisa, gue bakal tetep di samping lo untuk jadi kaki buat lo."
Naveen tersenyum mendengarnya. "Kapan lo mau jawab pernyataan cinta gue?"
Kaki Princess seketika termundur. Dia tak sanggup menatap Naveen saat ini. Harusnya jawaban itu dia berikan saat Naveen tiba-tiba hilang. Jawaban yang akhirnya tidak terucap dan membuatnya menerima Lori.
"Kok lo diem?"
Princess menggelengkan kepala. "Lo belum makan, kan? Gue suapin ya."
Naveen menatap Princess lekat-lekat. Dia merasa ada yang aneh pada gadis itu. Princess sering menolaknya secara sadi, tapi tidak pernah diam saja seperti ini.
"Apa ada yang berubah saat gue nggak ada kemaren?" tanya Naveen kemudian.
"Hah, apanya yang berubah? Nggak ada."
Naveen menerima suapan yang diberikan oleh Princess. Wajah gadis itu mengatakan hal yang sebaliknya.
"Lo harus makan yang banyak biar bisa segera pulang dari Rumah sakit ini. Gue bosen tau datang kesini mulu," omel Princess, mengalihkan topik.
"Bosen datang kesini atau bosen ngurusin gue?"
"Nav, lo kok ngomongnya selalu kayak gitu sih?!" marah Princess.
Naveen mengangkat bahunya. "Gue ngerasa nggak berguna aja," jawabnya.
"Karena lo masih sakit. Nggak ada yang mikir kayak gitu, jangan sensitif deh!"
"Lo beneran nggak bakalan ninggalin gue kan?"
"Kalau gue mau ninggalin lo, nggak mungkin gue dateng ke puncak buat lo."
Naveen tersenyum lebat. "Kiss me," mintanya.
Dan tanpa berpikir lama, Princess menciumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendshit (KOMPLIT)
Teen Fiction(Bab Masih Lengkap) Mempunyai seorang sahabat yang sangat Famous di sekolah, bukanlah hal yang membanggakan bagi Princess. Malah dia merasa itu sangat menyusahkan. Setiap saat, ada saja cewek-cewek yang mengganggunya dengan menitip salam, surat, ata...
