🎈Dendam Giovani

31.9K 2.6K 120
                                        

Lori begitu marah saat Princess mengirimkannya beberapa Foto yang dikirimkan oleh Giovani. Untung dia memang belum tidur, sehingga saat Princess menelponnya, Lori langsung menerima panggilan itu. Awalnya Lori merasa gila kalau harus membawa Princess ke Puncak untuk menyelamatkan Naveen, tapi bujuk rayu gadis itu menghantarkan mereka berdua berada dalam perjalanan saat ini.

Ya, diam-diam Princess menyelinap keluar dari Rumahnya. Bukannya tak perduli pada perasaan Orang tuanya, hanya saja Princess tak ingin terlambat bertindak sehingga akan mencelakai Naga.

"Sampe bener Naveen ada di sana, aku bakalan bunuh Giovani!" maki Lori sambil memukul setir. Dia merangkul Princess yang terus saja menangis, gadis itu tak henti-hentinya memandangi foto Naveen yang dikirimkan oleh Giovani.

"Aku takur, Lor. Andai ini emang cuma jebakan Giovani, harapan aku kalau Naveen masih hidup akan benar-benar lenyap."

"Kamu harus kuat, Princess. Terlepas dari bener atau nggak semua yang Giovani katakan, kita akan tetap membuktikannya. Tapi satu hal yang pasti, Giovani memang ada di balik ini semua." Mata Lori berkilat-kilat penuh emosi.

"Empat bulan lebih aku hidup dengan harapan kalau Naveen pasti kembali, rasanya hari ini harapan itu udah di depan mata..."

Tiba-tiba Lori terdiam. Dia menyadari sesuatu saat ini, yaitu bila Naveen memang masih hidup, itu artinya dia akan kehilangan Princess.

Membayangkan itu membuat Lori buru-buru menggelengkan kepala mengusir pikiran jeleknya. Dia percaya Princess tidak akan melakukan itu padanya. Princess sudah berjanji akan mencoba, jadi Lori yakin Princess tidak akan ingkar janji hanya karena Naveen kembali.

"Aku sahabatan sama Naveen udah dari kecil banget, jadi ini sebabnya kenapa saat dia pergi aku benar-benar merasa kehilangan," beritahu Princess, seakan mengerti kegelisahan Lori.

"Aku tau," jawab Lori.

Princess memeluk pinggang Lori. Pikirannya tiba-tiba terbelah menjadi beberapa bagian. Belum apa-apa dia sudah memikirkan bagaimana jika Naveen tau dia dan Lori memiliki hubungan, apakah Naveen akan marah?

•✤✤••✤✤•

"Papaaaaaa!" Keyra berteriak histeris di dalam kamar Princess. Dia baru saja akan membangunkan putrinya itu lantaran harus ke Sekolah. Tapi begitu masuk ke kamar, Princess tidak ada dimana pun.

Rayen datang tergopoh-gopoh sambil mengancingi seragam kerjanya. "Kamu kenapa teriak-teriak?" tanyanya cemas.

"Princess, Pa. Princess nggak ada!!"

Mata Rayen seketika melebar. Dia langsung mengecek kamar mandi, kosong. Jantungnya terasa akan lepas dari sangkarnya, kepergian Princess membuatnya cemas bukan main.

"Dia pasti ke Puncak, Pa. Dia pasti nemuin Giovani," tangis Keyra pun pecah. "Kenapa Princess nggak mikirin keselamatannya, kenapa?!"

Rayen langsung berlari ke bawah diikuti oleh Keyra. Dia mengambil ponsel dan menelepon salah seorang Team kepercayaannya di RIA.

Keyra menunggu dengan gelisah, pikirannya terus dihantui oleh kekhawatiran luar biasa akan keselamatan Princess.

"Kita bagi tugas. Kamu datang ke Rumah Naveen dan ceritakan segalanya pada Orang tua Naveen. Aku akan ajak Team untuk menyusul Princess."

Keyra memegang tangan suaminya itu dengan kuat. "Bawa Princess kembali dalam keadaan selamat, Pa," mohonnya.

Rayen mengangguk tegas. "Aku nggak akan biarin anak kita celaka, kamu tenang aja."

Keyra pun melepaskan Rayen.

Rayen mempersiapkan semua senjata yang akan diperlukan untuk misi kali ini. Dia terpaksa melanggar peraturan RIA demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus, yaitu Princess dan Naveen. Kalaupun setelah ini pangkatnya akan diturunkan dari kepemimpinan tertinggi RIA, maka Rayen siap dengan itu.

Keyra sendiri sebagai Komandan dari Folimer, tentu akan mendapatkan sangsi karena tidak melaporkan kasus ini pada pihak kepolisian lebih dulu. Karena seorang Agent Rahasia, baru bisa bertindak setelah Polisi menyerahkan kasus itu pada mereka, bukan dengan cara melangkahi seperti ini.

Tapi siapapun bisa melakukan segala hal untuk anak mereka, termasuk Rayen dan Keyra.

•✤✤••✤✤•

Hari sudah pagi saat Lori dan Princess sampai di Puncak. Mereka masih mencari titik dari lokasi yang Giovani kirimkan. Udara dingin puncak membuat tubuh Princess sedikit menggigil, masalahnya dia lupa memakai jaket sehingga hanya mengenakan piyama tidur berbahan tipis.

Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah Villa sederhana, yang menjadi titik akurat dalam lokasi tersebut.

"Kamu yakin mau turun sendirian?" tanya Lori. Dia khawatir bila Giovani hanya menjebak Princess, maka keselamatan gadis itu akan sangat teramcam.

"Nggak akan terjadi apa-apa, Giovani nggak akan melakukan hal yang buruk sama aku," Princess meyakinkan.

Tok. Tok. Tok.

Princess dan Lori terkejut saat ada yang mengetuk kaca jendela mobil mereka. Pelakunya seorang pria tak dikenal dengan penutup kepala berbahan rajut.

"Turun!" suruh Pria itu, memamerkan sebuah pistol.

Princess dan Lori saling lirik, mereka begitu cemas namun berusaha untuk tenang.

"Boss nyuruh kalian berdua masuk," suruh pria itu.

Boss?

Givani kah?

Princess dan Lori pun digiring masuk ke dalam Villa tersebut dengan pistol di belakang tubuh mereka. Begitu sampai di dalam sebuah ruangan, seringaian jahat Giovani langsung menyapa mereka.

"Anjing!" teriak Lori. Dia sudah ingin memukul Giovani tapi para kawanan cowok itu menaham Lori sambil mengancam dengan pistol di kepala.

Jujur, Princess ketakutan, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat tenang. "Apa mau lo?" tanyanya pada Giovani.

"Mau gue?" Giovani tertawa. Lalu tawa itu lenyap dan berganti dengan menatap Princess serius, "elo," ucapnya sinis dengan sorot mata mengerikan.

"Gue bunuh lo, brengsek!!" teriak Lori. Dia meronta ingin melepaskan diri, tapi para kawanan Giovani malah memukul belakang kepalanya hingga dia jatuh ke lantai dengan kepala pening.

"Lori!" Princess cemas bukan main. Dia mulai sedikit gentar, sekujur tubuhnya merinding. "Ma-mana Naveen?"

"Hahaha. Sabar, sayang. Kamu baru aja dateng, masa udah nanyain Naveen sih. Itu menyakiti perasaanku," ujar Giovani sambil mengusap rambut Princess.

Princess mengelak dari elusan itu, dia jijik disentuh oleh Giovani. "Lo psycho, Giov," desisnya.

"Hahaha. Oh ya?" Giovani tertawa dengan keras. Kemudian diam dengan wajah sangar kembali. "Lebih psycho mana, Naveen yang udah perkosa adik gue terus dibuang ke jalanan atau gue?"

Princess terkejut mendengarnya, begitupun Lori.

"Nggak, lo bohong! Gue kenal Naveen, dia nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu!!" teriak Princess.

"Lo pikir gue sedendam ini, karena hal sepele? No... Princess. Semua cerita tentang keluarga gue, itu bohong. Kebenarannya adalah Naveen sudah membunuh Adik gue."

Princess menggelengkan kepala, masih tak percaya.

Fakta barunya adalah selama ini Giovani bukan mengincar Princess, melainkan Naveen. Princess hanyalah alat yang ingin dia gunakan untuk balas dendam.

•✤✤••✤✤•

So guys... Gimana-gimana?

🔥🔥🔥

Friendshit (KOMPLIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang