Di mobil, Princess sama sekali tak berkata apa-apa. Meski Lori sudah berusaha mengajaknya bicara dengan mambahas topik lain, dia tetap diam saja dan menoleh pun tidak. Princess nampak gelisah, dia berulangkali menunjukkan ekspresi tidak tenang hingga sesekali melihat layar ponsel lalu berakhir dengan wajah kecewa.
"Kamu tenang aja, aku bakal ngomong baik-baik ke Naveen. Dia pasti bisa ngerti," ucap Lori lagi.
Mobil sampai di depan rumah Princess, tanpa berpamitan Princess langsung keluar dari dalam mobil itu. Dia berlari masuk ke dalam, mengabaikan Lori yang menatap ke arahnya.
"Eh, sayang, kamu kenapa?" tanya Keyra begitu cemas. Princess sudah lama tidak menangis sejak Naveen kembali, dan sore ini anaknya itu kembali mengeluarkan air mata. "Apa kesehatan Naveen memburuk?"
Princess menggeleng. Dia memeluk Mamanya dan menangis seperti anak kecil. "Naveen nggak mau ketemu Princess lagi. Naveen marah, Ma..." ceritanya.
"Loh, kenapa? Kamu salah apa emang?"
"Naveen tau hubungan Princess sama Lori. Dia marah. Dia nggak mau ketemu sama Princess lagi," tangis Princess semakin pecah.
Keyra ikut bingung dibuatnya. "Kamu nggak jelasin ke Naveen emang?"
"Udah, Ma. Tapi terlambat buat Naveen. Dia udah terlanjur punya pemikiran sendiri dan nggak mau dengerin penjelasan Princess."
Keyra mengusap punggung Pruncess yang semakin keras menangis. "Naveen kenapa harus marah sama kamu? Bukannya kalian nggak ada hubungan apa-apa sebelumnya?"
Princess tak ingin menjelaskannya. Mungkin memang hanya dirinya dan Naveen saja yang tau bagaimana hubungan mereka berdua. Meski status menekankan kata sahabat dalam hubungan mereka, tapi yang terjadi sebenarnya adalah lebih dari itu.
"Ya udah, kamu sabar ya. Mama yakin Naveen nggak mungkin marah lama-lama sama kamu. Kalian berdua itu sifatnya sama, kalau marah cuma di saat emosi doang. Tapi kalau sudah lama, pasti menyesal. Naveen pun begitu nanti," bujuk Keyra.
"Tapi kali ini beda, Ma. Naveen tuh bukan cuma marah, tapi juga kecewa. Orang yang udah kecewa biasanya akan sulit memaafkan. Mama tau kan kalau Lori itu sahabat Naveen."
Keyra mengangguk. "Kamu harus kasih Naveen waktu, setelah itu baru kamu ngomong lagi baik-baik ke dia. Siapa tau dia akan mengerti."
Setelah mendengar nasehat panjang lebar dari Keyra dan cukup membuat hatinya lega, Princess pun kembali ke kamarnya. Dia mengunci pintu dari dalam, pertanda tak ingin diganggu.
Ada yang hilang bagi Princese, seperti sebuah kekosongan yang membuat hidupnya terasa hampa dan biasa saja.
•✤✤••✤✤•
Lori kembali ke Rumah Sakit untuk bicara empat mata pada Naveen. Dia mengabaikan usiran Naveen dan tetap masuk ke dalam lalu duduk di sofa. Mama Naveen yang pengertian meninggalkan mereka berdua.
"Nav, terserah lo mau denger atau nggak, tapi gue bakal tetap di sini sampe gue jelasin semuanya ke elo dengan sejelas-jelasnya," kata Lori dengan nada tegas.
Naveen memalingkan wajah, pura-pura sibuk pada ponsel dengan volume game yang begitu keras.
"Gue nggak tau lo masih inget atau nggak, dulu gue pernah bilang kalau gue suka sama Princess. Gue pernah minta izin ke elo buat deketin dia seandainya lo emang cuma anggap dia sahabat. Tapi saat itu lo diem aja, makanya gue nggak bergerak sama sekali. Karena gue hargain banget perasaan lo."
Naveen tetap berpura-pura fokus pada game walau telinganya sangat jelas mendengar penuturan Lori.
"Dan kesempatan itu datang di saat lo dinyatakan meninggal dunia. Lo boleh sebut gue jahat karena memanfaatkan keadaan lo untuk ngerebut Princess dari lo. Tapi asal lo tau, niat gue bener-bener bukan untuk ambil dia dari lo. Tapi karena gue pikir lo udah nggak ada dan Princess butuh seseorang yang emang bisa gantiin posisi lo."
Naveen lelah berpura-pura bermain game padahal sebenarnya dia hanya menekan layar sembarangan. Dia pun menoleh pada Lori. "Dan sekarang lo tau gue masih hidup, apa lo bakalan balikin Princess ke gue lagi?"
Pertanyaan itu membuat Lori terpaku menatap Naveen. Kemudian dia berdiri dan menepuk pundak Naveen. "Gue akan lepasin dia, tapi bukan buat lo. Asalkan Princess sendiri yang minta, gue bakal lepasin dia."
Naveen tersenyum sinis. "Bilang aja lo nggak akan lepasin dia. Karena lo tau, Princess nggak akan pernah mau nyakitin siapapun meski dia sendiri tersakiti."
Ucapan Naveen itu bagaikan pedang yang menghunus hati Lori begitu dalam, sakit rasanya. "Gue nggak pernah maksa Princess buat nerima cinta gue," tekannya.
"Lo kasih dia pilihan?" tanya Naveen.
"Nav, gue juga cinta sama Princess. Gue sama sekali nggak berniat untuk main-main sama dia. Apa lo nggak bisa kasih gue kesempatan buat buktiin, kalau gue bisa lebih baik dari siapapun selain elo."
Naveen mengepalkan tinju di tangannya, pertentangan batin yang dia hadapi adalah antara cintanya dan persahabatannya. Dia sadar Lori sebenarnya tidak bersalah. Hanya saja rasa cintanya pada Princess tak ingin mengerti itu sedikit saja.
"Lo tenang aja, saat Princess menyerah sama gue dan lebih milih lo, gue dengan lapang dada akan lepasin dia. Gue akan kembalikan hak lo ke tempatnya."
"Atau kalaupun elo mau minta dia buat lepasin gue, silahkan. Cinta gue nggak egois kok, Nav. Gue nggak akan pertahanin seseorang yang nggak mau bertahan sama gue," lanjut Lori lagi sebagai penutup.
Lalu Lori pergi dari situ, meninggalkan Naveen sendirian.
•✤✤••✤✤•
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendshit (KOMPLIT)
Fiksi Remaja(Bab Masih Lengkap) Mempunyai seorang sahabat yang sangat Famous di sekolah, bukanlah hal yang membanggakan bagi Princess. Malah dia merasa itu sangat menyusahkan. Setiap saat, ada saja cewek-cewek yang mengganggunya dengan menitip salam, surat, ata...
