[BTS - Namjin/Monjin]
Namjoon tak pernah terlalu religius, apalagi memperdulikan kehakikian asal semesta. Namun jika diperbolehkan mengetahui sesuatu dari sang penguasa jagat raya, Namjoon akan memilih untuk bertanya--tentang bagaimana seorang Ki...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
Anak itu tidak bersalah.
Aku tahu benar, dan sadar bahwa ini bukan salahnya. Seorang anak kecil yang kutemukan di sudut kamar, meringkuk berselimut mantel longgar, sedang menangis sembari mendekap boneka kelinci yang dibuatkan ayahnya sebelum pergi meninggalkan rumah. Ayah yang memintanya duduk di ruangan temaram, asing, berbekal sekantong permen diiringi sepatah janji bahwa dirinya akan segera kembali. Ayah yang tertawa lirih selagi mengelus rambut anak tersebut, berkata jika semuanya akan baik-baik saja. Ayah yang meninggalkannya dengan tergesa-gesa dan tak pernah terdengar lagi.
Adikku.
Usianya belum genap tiga puluh saat kabar itu datang lewat seorang petinggi pasukan. Satu-satunya yang tersisa darinya, pistol berlambang dandelion, diantarkan beberapa jam kemudian. Tidak, aku tidak menangis. Tangisan hanya untuk mereka yang berhati lemah. Orangtua kami telah pergi jauh lebih dulu dan aku sama sekali tak ingin bersedih. Ini pilihannya, sebuah keputusan yang diambil bertahun-tahun sebelum semuanya terjadi. Pemikirannya yang jauh ke depan seolah berhasil meramal tentang peristiwa yang berlangsung di pusat pemerintahan, pagi buta.
"Kami turut berduka atas apa yang terjadi pada Jenderal Kim. Kami sungguh-sungguh meminta maaf dan menyesal karena tak mampu melindungi beliau."
Kurasa mereka bahkan tak perlu meminta maaf. Musuh yang dihadapi bukanlah manusia, dan aku tahu lebih baik dari sekedar memaki para anak buah yang tumbang tanpa melakukan perlawanan berarti. Aku yakin adikku bisa menjaga dirinya sendiri, kalau saja dia lebih berkonsentrasi pada tujual asal. Tentang mengapa dia harus berada di sana, mengenakan seragam pasukan pertahanan, serta bersiaga di garda depan memimpin para prajurit lainnya. Hanya memikirkan negara, bukan malah melindungi lelaki itu.
Iblis dari Naglfar.
Adikku menyebutnya sebagai suami, tapi sampai kapanpun, aku tak akan sudi menerimanya menjadi anggota keluarga. Sejak awal Seokjin datang bersama Namjoon, aku sudah menduga ada yang tidak beres. Mungkin dia memang sanggup menaklukkan banyak orang dengan senyuman dan wajah yang memukau, tapi tidak dengan mataku ini. Pandangan nanarnya ketika Namjoon sibuk menatap ke arah lain, raut kosongnya tiap mendapati seragam adikku tergantung gagah di ruang tengah, juga ekspresi terkejut yang ditunjukkannya tatkala terpergok membalut luka akibat teriris pisau.
Darah Seokjin berwarna jingga.
Aku bukan kakak yang suka mengadu pada adikku tentang perangai atau hal-hal yang tidak kusukai dari suaminya, dan Namjoon sadar jika kakaknya sangat membenci kebohongan.
"Katakan manusia jika dia memang manusia."
Tapi Namjoon tak menjawab. Tak pernah. Begitu pula sewaktu dia datang di suatu malam, membawa seorang anak kecil yang tertidur di bahunya sembari menyandang sebuah tas dan ransel besar. Para pelayan sibuk menyiapkan keperluan, sementara Namjoon memilih bersimpuh di hadapanku. Nyaris tak bergerak.