.
.
Seokjin spontan menarik selimutnya menutup kepala begitu sinar matahari menerobos celah tirai kamar besar itu, juga merasakan sisi kanannya melesak—
Namjoon, pikirnya acuh. Hanya karena mereka sedang berlibur, bukan berarti Namjoon akan patuh untuk menghabiskan waktu di tempat tidur, apalagi cuacanya sedang cerah. Jimin (yang menolak tidur di kamarnya sendiri dan beringsut semalaman di sisi Namjoon) juga sepertinya sudah bangun, karena Seokjin tak lagi mendapati bahu empuknya mendesak manja minta dipeluk. Tidak peduli jam berapa, Seokjin tetap tak mau beranjak. Sudah beruntung dapat cuti sekaligus liburan ke Jeju, dia memutuskan untuk melewatkan semuanya dengan tidur selama mungkin, persetan dengan semua pekerjaan dan lembar-lembar laporan. Dilarang keras mengganggu Kim Seokjin yang sedang hibernasi, atau dia tak akan sungkan menghajar siapapun yang berani menyuruhnya bangkit. Lagipula ini masih hari pertama, semalaman dia sudah murah hati menata isi koper karena Namjoon terlanjur ambruk begitu mereka tiba di hotel, belum termasuk setengah jam membujuk Jimin agar mau tidur di kamarnya sendiri, meski sia-sia.
Baru saja dia hendak berguling, sebentuk lengan melingkar di pinggangnya sambil menyibak selimut dengan hati-hati, napas Seokjin berhembus keras seolah gigi taringnya mendadak memanjang, siap menggigit. Tadinya.
Sampai di satu titik ketika hidungnya mengendus aroma segar yang familiar disertai kecupan lembut di leher dan kulit pundak.
"Seokjin," suara berat nan bersemangat berbisik lembut, Seokjin yakin bulu kuduknya sampai berdiri. "Bagaimana kalau jalan-jalan ke pantai bersama Jimin? Sebentar lagi jam makan siang lho, katanya ingin makan lobster, setelah itu kita bisa main seharian."
"Main apa, maksudmu?"
"Uno, atau berpelukan sambil nonton televisi, jangan berpikiran buruk dulu dong."
"Nggrrwwww...." Seokjin menggerung gusar, selimutnya ditarik lagi, tapi kepala Namjoon bersikeras ikut menyusup, malah pegangannya jadi meraba kemana-mana dan Seokjin mulai geli, "Jangan ganggu aku, pergi sana."
Pria berusia kepala tiga itu beringsut maju hingga Seokjin bisa mendengarnya tertawa di samping telinga, "Ayo bangun, jangan tidur terus, nanti makin gendut."
Seokjin mengangkat kepala dan melirik sekilas, "Biar!" desisnya acuh lalu membenamkan kepala di gundukan bantal. Namjoon belum menyerah, ditiupnya anak rambut halus di tengkuk Seokjin dengan sedikit menggoda.
"Tidak mau menemaniku berenang? Kolam di hotel ini besar dan bagus sekali. Aku bisa memesan tempat di privat area supaya kamu bisa berenang sepuasnya sendirian."
Tetap bertahan walau mulai kepingin, Seokjin berbalik menghadap Namjoon dengan setengah mengantuk, mata terbuka perlahan tak rela seperti diminta bebersih jalanan usai hari bebas kendaraan.
"Hngg........berenang," erangnya lirih, reflek menyandarkan kepala di dada lelakinya dan balas beringsut enggan. Jari-jari Namjoon bergerak mengelus rambutnya sementara bibirnya ditempelkan ke pipi Seokjin, kulit pasangannya yang hangat selalu terasa nyaman dan Namjoon suka aroma tubuhnya yang wangi bedak bayi. Badannya merapat otomatis selagi Seokjin bergumam tak jelas di antara lipatan piyama, lengan Namjoon mengelus sisi punggung Seokjin dan pria itu mendesah senang.
"Turun ya?"
"Mmmm....cium dulu."
Tentu saja Namjoon menurut, dipagutnya bibir bawah Seokjin dengan sayang sembari menekan tubuh mereka berhimpitan, lengan melingkar memeluk pinggul yang ramping dan mengusap perlahan ke arah punggung. Seokjin menghela napas panjang ketika mereka selesai berpagut, keinginan untuk bergelung malas kembali datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHUAI | HANDSOME (NamJin)
Fanfiction[BTS - Namjin/Monjin] Namjoon tak pernah terlalu religius, apalagi memperdulikan kehakikian asal semesta. Namun jika diperbolehkan mengetahui sesuatu dari sang penguasa jagat raya, Namjoon akan memilih untuk bertanya--tentang bagaimana seorang Ki...
