chapter 2

3.7K 148 0
                                        

Kau punya waktu tapi tak punya cara untuk mengendalikannya


           *HugMe_Mr.Demon*

Setelah aku kerja part time di sebuah Supermarket, niatnya aku akan langsung ke Rumah sakit untuk menemui Bibi. Aku akan menunggu di halte bus, namun kejutan datang. Seorang pria menghampiriku bersama mobil sportnya itu. Lalu dia membuka kaca mobilnya lalu membujuku untuk ikut dengannya.

"Mau ku antar Mrs. Grace? "

"Call me Sia, Mr. Demon? "

"Oke, lalu bagaimana dengan tawaranku, Sia? "

"Tak perlu, aku bisa sendiri."

"Are you sure jam 8 malam kau akan pulang sendirian?"

Sebenarnya bukan masalah besar toh aku sudah biasa pulang malam sendiri. Tapi ada satu momok besar yang mendasariku untuk menerima tawarannya. Aku harus lekas menemui Bibi.

"Baiklah Mr. Demon, tetapi jangan minta balas budi karena aku tak punya apapun."

"Tentu saja Sia"

Senyum tipisnya membuatku merasa rindu dengan dirinya saat masa kecilku aku benar-benar ingin melempar sepatuku di mukanya.

"Come on Sia!"

Aku masuk ke mobil mewahnya itu atau lebih tepat mobil sempitnya itu, tetapi syukurlah mobilnya terasa nyaman, apa karena harganya mahal?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku masuk ke mobil mewahnya itu atau lebih tepat mobil sempitnya itu, tetapi syukurlah mobilnya terasa nyaman, apa karena harganya mahal?

"Kau ingin makan? " Dia menatapku sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya.

"No, thanks."

"Kelihatannya tidak begitu." Dia mendengar suara dangdutan di perutku, astaga aku malu sekali, aku mempermalukan diriku sendiri di hadapannya, rasanya aku ingin menenggelamkan diriku dilaut merah tapi kan aku tak punya paspor untuk ke sana, bodoh kau Sia.

Kami sampai di sebuah cafe, dia memesankan makanan yang sangat aku sukai, pancake salah satunya. Apa dia masih ingat aku waktu kecil dia sering membelikannya untukku. APA SEKARANG DIA INGAT!!!

"Makanlah!"

"Kau mengenalku Mr. Demon?" Aku benci mulutku, dia sangat berani menanyakan hal ini padahal hatiku ingin menyembunyikannya.

"Tentu saja, kau mahasiswa di kelasku dan sekarang aku mengajakmu makan."

Aku menggeleng-gelengkan kepala lantas berkata, "Bukan itu yang aku maksud!"

"Lalu seperti apa? " Dia memancingku dengan senyum piciknya.

"Aku hanya merasa dejavu saat melihatmu."

"Dejavu? "

"Ya, dulu sekali aku punya tetangga yang menyebalkan mirip denganmu. Aku membencinya!"

Hug Me Mr.DemonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang