Sebuah Penjelasan

4.1K 278 2
                                        

Sejak kejadian semalam, Silva maupun Vano tidak saling bertegur sapa. Mereka berdua bersikap sangat-sangat cuek dan acuh tak acuh. Bahkan teman-teman mereka berdua bingung dengan apa yang terjadi diantara keduanya.

Vano dan Devan dipanggil ke BK karena ulah mereka berkelahi kemarin. Mereka diberi peringatan oleh BK. Tapi meskipun sudah diingatkan beberapa kali, itu semua tidak mempan bagi Vano.

Semua guru juga memakluminya jika Vano bersikap seperti, karena para guru tahu jika kedua orang tuanya tidak jauh berbeda saat sekolah. Pak Aldo, dan bu Karina memang sama-sama alumni SMA Andromeda. Mereka berdua terkenal most wanted di sekolah tersebut.

Tingkah Aldo dan Karina jauh lebih parah daripada tingkah Vano. Mereka berdua sering berdebat dan sering masuk BK. Bahkan, Aldo juga sering balapan liar dengan gengnya maupun geng lain. Jadi, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifat yang dimiliki Vano pun juga tidak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya dulu.

"Vano, Vano, berapa kali sih ibu harus ngingetin kamu supaya tidak berantem mulu." Bu Rissa berdecak marah.

"Saya baru akan berhenti berantem jika misteri MH370 terpecahkan, misteri segitiga bermuda ditemukan, jika ada yang mengetahui nama Allah yang ke seratus. Bisa melihat telinga sendiri tanpa bantuan cermin atau benda lainnya, dan jika Soekarno menjadi presiden lagi." Vano menjawab dengan enteng.

"Kamu sudah gila atau bagimana? Nama Allah yang seratus kan hanya diketahui oleh Allah semata dan para nabi serta rosul-Nya."

"Ya maka dari itu-- ibu pasti tahu maksud saya."

"Kamu itu memang benar-benar aneh."

"Ibu bisa menganggap saya apa pun. Kalau gitu saya pamit--"

"Pamit kemana?!"

"Kembali ke kelas lah, Bu."

"Kalau kamu sampai bolos, awas aja!"

Vano tidak menghiraukan ancaman Bu Rissa. Dia berjalan menuju ke kelasnya, saat melewati kelas XI IIS 5, dia melihat Renata yang dibully habis-habisan oleh teman sekelasnya.

"Heh! Lo itu harusnya keluar dari sekolah ini."

"Bikin malu aja!"

"Dibayar berapa lo semalam?"

Renata hanya mengepalkan tangannya supaya tangisnya tidak pecah. Dia sudah biasa menerima perlakuan seperti itu dari teman-temannya. Tidak ada satu pun orang yang mau membantu ataupun melindunginya.

Saat Vano hendak masuk, dia melihat Silva datang bersama dengan beberapa anggota pengurus OSIS yang lainnya. Saat melihat Vano, Silva menghentikan langkahnya.

"Kalian yang umumin pengumumannya di kelas XI IIS 5 aja. Gue harus bantu yang lain," alibi Silva untuk menghindari Vano.

Silva berbalik badan menuju anak tangga. Vano yang melihat jelas Silva yang sengaja menghindar darinya, mencoba mengejarnya. Dia melupakan tujuannya untuk menemui Renata.

"Silva!" panggil Vano tapi Silva tidak merosponnya.

Vano menarik tangan cewek itu hingga posisi mereka saling berhadapan.

"Mau apa lagi sih?! Gak puas dengan kemarin?!" Silva menaikkan oktaf bicaranya.

"Dengerin dulu--"

"Gue harus dengerin apa?! Lebih baik lo gak usah deketin gue lagi! Lo urus saja Renata! Pikiran lo selalu ke Renata, kan? Kenapa lo malah disini bukannya membela Renata yang dibully sama teman-temannya?!"

"Lo cemburu lihat gue dekat sama Renata?"

"Cemburu hanya untuk orang yang memiliki perasaan ke orang tersebut. Emangnya gue punya perasaan ke lo? GAK ADA SAMA SEKALI!"

Silvano [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang