Tit
Tit
Tit
Suara alat pendeteksi jantung. Di samping alat itu terdapat Prilly yang tak sadarkan diri di atas bangsal rumah sakit.
Dokter dan beberapa suster yang berada disampingnya tengah sibuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya.
Disisi lain Ali memandang pintu ruang UGD dengan cemas sambil merintikan air mata.
Bukan hanya Ali, disana juga terdapat keluarga Prilly beserta kedua sahabatnya yang juga ikut menangis.
"Maafin Ali ya tan. Ali gagal jagain Prilly." ucap Ali merasa bersalah seraya menundukkan kepalanya.
Mama Prilly menepuk sebelah pundak Ali.
"Bukan nak Ali, ini semua bukan salah kamu. Ini sudah takdir." Mama Prilly berusaha tersenyum menenangkan Ali, meskipun sekarang ini hatinya tengah shock mendapati putri kesayangannya tengah terbaring di rumah sakit.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan UGD itu.
"Keluarga pasien?" tanya dokter itu lembut.
"Saya dok! gimana keadaan anak saya dok?" tanya mama Prilly cemas.
"Kami sudah mengeluarkan peluru yang berada di dalam bahu pasien." ucap dokter. Semua orang yang berada disana menarik nafas lega.
"Namun, ada sedikit kendala." Dokter menghentikan ucapannya.
"Kenapa dok?" Kini Ali yang bertanya.
"Begini, kami sedikit kesusahan saat mengambil peluru yang berada di dalam bahu pasien yang cukup dalam. Sehingga menyebabkan sedikit gangguan pada pergerakan sendi pasien pada nantinya." jelas dokter.
"Apa pasien sudah sadar dok?" Jessica memandang ke arah dokter.
"Mungkin sebentar lagi."
"Apa kami boleh menjenguknya dok?" tanya Ali.
"Ya boleh, tapi nanti saat pasien sudah dipindahkan ke ruangan rawat, dan kalian harus menjenguknya secara bergiliran. Karena pasien masih perlu banyak istirahat." Semua orang yang berada di sana mengangguk.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Dokter itu pun pergi meninggalkan ruang UGD.
⚡
Setelah Prilly sudah di pindahkan ke ruangan rawat. Ali tengah menemani Prilly sambil memegang tangannya.
"Prill kenapa lo nyelamatin gue? kenapa lo gak biarin aja gue mati? Kenapa?!" Ali menangis ia benar-benar merasa bersalah sekarang. Hatinya benar-benar sakit melihat orang yang dicintainya tengah terbaring lemah di hadapannya.
"Harusnya gue yang ada di sini, harusnya gue yang berbaring di sini. Bukan lo."
"Maaf Prill, maaf...." Ali mencium tangan Prilly menumpahkan tangisan, dan rasa kecewanya.
Tak lama Ali merasakan pipinya tengah di pegang lembut oleh seseorang. Ia menoleh ke arah pemilik tangan tersebut, dan mendapati Prilly tengah tersenyum lemah sambil memegangi pipinya menggunakan tangan kirinya.
"Ja-ngan nangis. Lo jelek!" ejek Prilly lemah.
Ali terkekeh geli melihat tingkah gadis itu. Di saat dirinya sedang sakit masih sempat-sempatnya Prilly mengejek Ali.
"Ya, lo emang gak pernah nganggep gue ganteng," balas Ali.
"Makanya jangan kepedean jadi orang," cibir Prilly.
Ali tertawa. Sungguh benar-benar kejadian langkah. Seharusnya orang sakit yang baru sadar itu benar-benar lemah dan tak bisa melakukan apa-apa. Namun, berbeda dengan Prilly di saat sadar ia malah langsung menggoda Ali.
"Lo itu aneh!" seru Ali.
"Biarin. Wlek!" Prilly menjulurkan lidahnya. Hal itu membuat mereka sama-sama tertawa.
"Aw!" pekik Prilly saat ingin menggerakkan tangan kanannya.
"Pelan-pelan jangan terlalu dipaksakan." ucap Ali khawatir.
"Sampai kapan gue harus kayak gini?" tanya Prilly melirik bahunya yang diperban.
"Ya... sampe lo sembuh lah," balas Ali sederhana.
"Lo nyebelin!" Prilly mengerucutkan bibirnya.
Ali terkekeh, "Lo tenang aja mulai sekarang gue yang akan jadi tangan kanan lo."
Ali menggenggam lembut tangan Prilly meyakinkan gadis itu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Prilly tersenyum menatap Ali.
Makasih li.
Vote&coment
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bad Boy✓
FanfictionKebut - kebutan , dunia malam itu semua sudah biasa untukku. Menjadi cowok yang brandal , angkuh , dingin itulah sifatku. Tapi, semua itu perlahan mulai berubah saat aku bertemu dengannya, gadis dengan mata hazel coklat membuat teduh siapapun yang m...
