Di pagi yang cerah gadis cantik bernama Prilly sedang berjalan di koridor sekolah dengan tatapan yang lesu. Saat sampai di depan kelasnya ia melihat Ali yang menatapnya dengan tersenyum.
"Hai!" sapa Ali. Namun, tak dihiraukan oleh Prilly ia langsung menaruh tas ranselnya di atas kursi, kemudian hendak pergi dari. Namun, saat berbalik tangannya langsung dicekal oleh Ali.
"Hei, lo mau kemana?" tanya Ali.
"Bukan urusan lo!." ucap Prilly, kemudian melepaskan cekalan tangannya dari tangan Ali. Prilly hendak pergi. Namun, saat ia baru sampai di pintu depan kelas Ali berdiri mengejarnya, dan langsung mencekal kembali tangan Prilly.
"Prill gue minta maaf sama lo, atas sikap gue kamarin. Gue gak bermaksud bikin lo marah." ucap Ali yang merasa bersalah.
Prilly berbalik, dan kini ia menatap mata elang Ali, "Li, gue kan udah bilang sama lo, jangan minta maaf sama gue. Tapi, minta maaf Nikky!" ujar Prilly.
"Iya ok gue akan minta maaf sama dia. Tapi, gue pengen nanya sama lo. Kenapa lo kemarin kelihatan marah banget sama gue?" tanya Ali.
"Gue gak suka sama sifat lo yang pemaksa, dan egois itu, dan asal lo tau aja gue bukan cuma marah sama lo. Tapi gue juga marah sama Nikky. Karena menurut gue sifat kalian ke gue itu terlalu berlebihan." jelas Prilly kesal sambil menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Ali.
"Sorry kalau selama ini sifat gue ke lo terlalu berlebihan, itu karena ada hal lain yang membuat sifat gue berlebihan ke lo." jelas Ali.
"Hal lain apa?" tanya Prilly.
"Hal lain... kalau gue..."
"Gue...
"Gue sebenarnya...
Ali menghela nafas, "Gue sebenarnya suka sama lo."
"Hah, gak, lo bercanda kan? lo pasti bercandakan?" tanya Prilly tak percaya.
"Gak Prill, gue serius. Saat pertama kali gue nolongin lo waktu lo hampir mau jatuh dari gerbang sekolah, dan menatap mata lo. Gue seperti merasakan sesuatu yang berbeda, seseuatu yang belum pernah gue alami, sebuah rasa yang belum pernah gue rasakan seumur hidup gue, dan saat gue tepis perasaan itu, justru perasaan itu semakin besar." ucap Ali.
Prilly yang tak menyangka apa yang barusan ia dengar dari Ali, kemudian berlari pergi ntah kemana. Ia tak peduli dengan Ali yang terus memanggil-manggil dirinya.
"Prill! Prilly! Prill!!!"
"Aaarrgghh...!!!" teriak Ali frustasi, lalu meninju tembok kelas yang berada dihadapannya. Ia tak peduli dengan rasa sakit di tangannya, menurutnya rasa sakit di tangannya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Di satu sisi ia merasa lega karena dapat mengungkapkan perasaannya ke Prilly. Namun, di sisi lain ia takut Prilly akan menjauhi dirinya, dan ia tidak bisa menerima hal itu.
⚡
"Gak, ini gak mungkin, ini gak mungkin!" gumam Prilly sambil menatap pantulan dirinya yang berada di cermin westafel.
"Gak, gak mungkin Ali suka sama gue." gumamnya lagi, kemudian membuka keran air, dan membasuh wajahnya.
"Tapi tadi dia ngungkapin perasaannya ke gue, trus gue harus jawab apa, sementara gue belum tau perasaan gue sebenarnya sama Ali." gumamnya lagi. Namun kali ini ia menunduk menatap keran air yang masih terbuka.
Prilly menutup keran air itu, kemudian menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Namun kini dengan wajah yang masih basah, "Apa gue harus jaga jarak dulu ya sama Ali?"
#vote&coment
( Jadilah pembaca yang Bijak!!! ) 👌👍👍
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bad Boy✓
FanfikceKebut - kebutan , dunia malam itu semua sudah biasa untukku. Menjadi cowok yang brandal , angkuh , dingin itulah sifatku. Tapi, semua itu perlahan mulai berubah saat aku bertemu dengannya, gadis dengan mata hazel coklat membuat teduh siapapun yang m...
