Author pov
Tuk
Tuk
Tuk
Bunyi suara yang dihasilkan oleh pulpen yang diketuk-ketuk diatas meja menggema di sebuah ruangan. Tiba-tiba pulpen itu berhenti mengeluarkan suara ketukannya, karena suara pintu di ruangan tersebut yang terbuka menampakkan seorang lelaki berseragam SMA yang tengah berdiri di balik pintu tersebut.
"Ali silahkan masuk!" ucap seseorang yang mengetuk pulpen tadi, dan tak lain adalah pak Bandi.
"Duduk!" perintah pak Bandi yang menyuruh Ali untuk duduk di sebuah bangku yang ada di depan meja pak Bandi dan mereka sekarang duduk berhadapan.
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Ali dingin.
"Bapak memanggil kamu kesini untuk mempersoalkan tentang nilai kamu Ali." jawab pak Bandi.
"Memang kenapa dengan nilai saya pak?" tanya Ali lagi dengan nada yang masih sama.
Pak Bandi menghela nafas dan mulai menjawab,
"Ali sebentar lagi kamu akan mengahadapi UTS, dan sementara itu Ujian Nasional juga sudah di depan mata, kalau nilai kamu masih merah semua seperti ini, bagaimana kamu akan lulus?"
"Maaf pak, saya akan berusaha untuk memperbaiki nilai saya." ujar Ali seraya menudukkan kepala.
"Bapak hargai keputusan kamu. Tapi, bapak sudah menemui seseorang yang akan menjadi patner belajar kamu." ucap Pak Bandi.
"Patner Belajar? Siapa Pak?" tanya Ali bingung sambil mengangkat satu alis tebalnya.
Belum sempat pak Bandi menjawab tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan ucapan pak Bandi. Mereka menoleh ke arah pintu tersebut.
"Masuk!"
Pintu sedikit terbuka, lalu seorang gadis yang juga berpakaian SMA menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Maaf pak, apa bapak memanggil saya?"
Tanya gadis itu.
"Oh iya Prilly ayo silahkan masuk!"
Ternyata tak lain, dan tak bukan gadis itu adalah Prilly, ia pun langsung masuk.
"Duduk!" Prilly pun duduk di sebuah bangku yang berada tepat disamping Ali.
"Ehmm... maaf pak sebelumnya ada apa ya bapak memanggil saya?" tanya Prilly sopan.
"Begini ya Prilly, Bapak ingin kamu menjadi patner belajar untuk Ali!"
"Apa? Patner?" tanya Prilly bingung.
"Iya, Bapak mau kamu membantu Ali belajar untuk bisa memperbaiki nilainya Ali menjadi lebih baik." jelas pak Bandi.
"Jadi patner saya dia Pak?" tanya Ali tak percaya.
"Iya memangnya kenapa? Lagian dari hasil keseluruhan nilai, dan murid yang Bapak survey. Bapak sudah yakin bahwa Prilly cocok jadi patner belajar kamu."
"Tapi, kenapa harus saya pak, kenapa tidak murid-murid yang lain saja? Kan masih banyak murid-murid di sekolah ini yang lebih pintar dari saya. Bukannya saya tidak mau hargain keputusan bapak. Tapi, sayakan masih anak baru disini, dan saya belum ngasih apa-apa buat sekolah ini dengan prestasi yang saya milliki." ujar Prilly.
"Saya rasa dengan nilai kamu yang bagus itu sudah cukup memberikan sebuah prestasi buat sekolah ini, dan itu membuat Bapak bangga sama kamu, dan Bapak sudah yakin kamu lah yang cocok jadi patner Ali. Kamu mau kan?
Ingat tidak boleh pelit dalam berbagi ilmu. Bapak percaya sama kamu." jelas pak Bandi lagi.
Prilly menghela nafas lalu berkata,
"Baiklah kalau Bapak memaksa, saya akan menjadi patner belajar untuk Ali. Saya akan membuat ia bisa memperbaiki nilainya supaya menjadi lebih baik. Saya janji!"
"Baik, Bapak percaya padamu Prilly, dan kalian boleh beristirahat kembali." ucap pak Bandi seraya tersenyum.
"Terima kasih Pak." ucap Ali dan Prilly kompak, kemudian mereka pun keluar dari ruang guru.
⚡
"Jadi kapan lo mau ngajarin gue?" tanya Ali memandang Prilly.
Prilly mulai berfikir sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding, "Eumm... gimana kalau setiap hari sabtu gue akan ngajarin lo, dan sabtu besok kita sudah bisa mulai belajar."
"Oke, gimana kalau belajarnya dirumah gue?"
"Baik, gue akan datang kerumah lo jam 09:30"
"Oke gue tunggu."
#vote&coment
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bad Boy✓
FanfictionKebut - kebutan , dunia malam itu semua sudah biasa untukku. Menjadi cowok yang brandal , angkuh , dingin itulah sifatku. Tapi, semua itu perlahan mulai berubah saat aku bertemu dengannya, gadis dengan mata hazel coklat membuat teduh siapapun yang m...
