18. PERGI 🍁

1.1K 160 7
                                    

Katakan padaku, mana yang lebih sakit. Disakiti oleh kejujuran yang menyakitkan atau dihibur oleh kebohongan yang semu.

-New York, 31 Oktober

Berada di titik persimpangan, dimana kenyataan terlihat seperti mimpi buruk.

🍁

Alen melangkah ke arah rumah besar milik Jenny. Ah, sebenarnya rumahnya juga. Tapi Alen lebih suka di apartemennya. Meskipun begitu, setiap hari ia selalu menyempatkan diri bertemu atau paling tidak menelpon Jenny. Hanya Jenny yang Alen punya saat ini. Dan Vira, mungkin. Entahlah, tapi Alen merasa gadis itu terlalu sulit. Firasatnya justru mengatakan jika Vira akan pergi dan Alen akan kembali merasakan kehilangan.

Oh ya, dan apa-apaan soal Jenny menyebut ayah dan ibunya datang. Hei! Apa dia sudah lupa jika orang tua Alen sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu? Lebih tepatnya saat Alen masih berusia delapan tahun.

Jika memang Jenny ingin menyuruh Alen pulang, kenapa harus membawa orang tuanya yang sudah meninggal. Apa ia kira arwah gentayangan masih berlaku di zaman millenial seperti ini?

Ah, Jenny. Tanpa perlu membuat alasan yang tidak logis, Alen pasti pulang kapanpun Jenny mau. Sudahlah, biarkan Jenny dengan segala sifat uniknya itu.

Alen membuka pintu ruang keluarga.

"Jenny, aku tidak meng-" Alen menghentikan kata-katanya kala melihat ada orang lain bersama Jenny.

Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah Alen. Alen melihat dua orang lain itu dengan kening berkerut. Alen menatap Jenny yang tatapannya tak seperti biasanya. Ada apa ini?

"Kemarilah, Alen" panggil Jenny dengan suara tegas namun masih lembut. Ini tidak biasa. Jenny tak pernah memanggil nama Alen padanya. Kemana panggilan 'si tampanku, cucu jahannam, cucu durhaka, cucu bawel, dan cucu-cucu yang lainnya'.

Alen mendekat ke arah Jenny.

Jenny mengode Alen untuk duduk di sofa sebelahnya. Alen duduk, sembari menatap Jenny bingung. Lalu tatapannya beralih pada dua orang yang duduk di hadapannya. Alen merasa aneh karena ditatapi terus-menerus oleh dua orang asing ini. Apa mereka teman Jenny? Tapi mereka jelas lebih muda. Mungkin seusia ayah dan ibunya jika mereka masih hidup hingga sekarang.

Ah, tapi Jenny memang punya teman di semua kalangan usia.

Alen tersenyum ramah pada keduanya. Dan menjabat tangan mereka secara formal.

"Namanya Alen, ah aku lupa jika kalian pasti sudah tahu" Jenny membuka suara.

Mereka mengangguk, lalu menatap Alen dengan sendu. Bahkan wanita itu sudah menangis di bahu yang Alen pastikan itu adalah suaminya.

"Maaf,," ujar wanita itu lirih.

Alen mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud ucapan wanita itu dan tidak tahu juga wanita itu bicara dengan siapa.

Alen menatap Jenny bingung. Dan Jenny, masih bertahan dengan tatapan kosongnya. Alen semakin bingung karena di ruangan besar itu hanya terdengar isakan wanita itu. Tanpa sepatah katapun mampu menjelaskan keadaan yang terjadi saat ini.

Jenny meraih sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kertas, dan lusuh. Sepertinya sudah lama. Dan Jenny menyerahkannya pada Alen.

Alen membukanya, dan kertas lusuh itu adalah sebuah surat.

Ketika ia membukanya, banyak lekukan yang sepertinya bekas remasan yang di sengaja. Bahkan di ujung kertas surat yang ia pegang saat ini, ada bekas api. Semacam terbakar, membuat kata awalan surat itu hilang.

Tapi Alen bisa menduga jika itu tanggal dan tahunnya yang menghilang. Selain itu, semua bagian surat itu lengkap.

Alen langsung terfokuskan oleh sebuah nama yang tertulis di kertas lusuh itu. Dan itu, nama ayahnya.

🍁🍁🍁

Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah seorang wanita cantik yang tak pernah Vira lihat sebelumnya. Ia mengerjapkan matanya, dan wanita itu tersenyum ramah padanya.

Vira menyentuh kepalanya yang terasa pening. Ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal kepalanya. Ah, diperban ternyata. Ini pasti karena ulah para lelaki tidak tahu sopan santun itu. Ia ingat benar ketika lelaki itu menyeretnya ke sebuah kamar. Bahkan mereka melepas hijabnya secara paksa. Dan ia masih kukuh memegangi selembar kain itu, hingga salah satu dari mereka menarik kasar hijabnya. Membuat Vira terjatuh, dan marena memberontak ia didorong kasar sampai kepalanya terantuk ujung ranjang.

Setelah itu, Vira kembali diseret dan Vira sempat merasa tubuhnya melayang sebelum ia merasa dilempar ke atas ranjang, meski empuk rasanya tetap sakit. Mereka bahkan merobek gamisnya dengan brutal. Tak cukup itu saja, mereka juga menciumnya paksa. Vira merasakan sakit karena lelaki itu menggigit bibirnya hingga berdarah. Vira jijik mengingat apa yang telah mereka lakukan pada tubuhnya. Ia merasa sangat tidak dihargai sebagai seorang wanita. Hal yang paling membuatnya miris adalah, mereka menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita berhijab.

"Hey, are you okay?" suara itu membuat kesadaran Vira kembali.

Vira yang masih lemas hanya bisa mengangguk. Tapi yang terjadi justru kepalanya yang semakin pening.

"Ah, jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kau baru sadar. Ini minum dulu, pakai sedotan saja agar kau tidak perlu bangun" wanita itu mengarahkan sedotan ke bibir Vira.

Ah, siapa wanita ini? Dia seperti malaikat. Baik sekali. Apa wanita ini juga yang menolongnya malam itu? Jika iya, maka Vira benar-benar berhutang budi pada orang sebaik ini.

Sesaat kemudian, ingatan kejadian malam itu terputar lagi di otaknya. Membuat Vira kembali termenung. Apa para lelaki itu sudah mengambil keperawanannya? Apa saja yang sudah para lelaki itu lakukan pada tubuhnya? Vira terdiam. Ia tidak menangis ataupun terisak. Hatinya perih, sakit, dan seakan mati rasa.

"Hey, kamu melamun lagi? Kenapa? Ada yang sakit? Atau ada yang kamu butuhkan?" tanya wanita itu. Dan Vira menggeleng pelan, membuat kepalanya berkedut lagi.

"Sudah kubilang, jangan banyak bergerak. Dasar bandel" wanita itu tertawa renyah. Membuat Vira tersenyum kecil.

Yahh, Vira memang bandel dan keras kepala. Sudah banyak yang bilang begitu. Dan malam itu adalah hal terburuk yang pernah dialaminya karena kebandelan dan keras kepalanya Vira. Membuat senyum itu menghilang dalam sekejap. Dan langsung beralih pada getir yang merasuk di dadanya.

Hmm, bukannya penyesalan memang selalu terasa di akhir?

.

TBC💙💙💙
Jangan lupa vote n komen ya :)
.
Sorry, part ini flat banget
Aku beneran lagi suntuk banget mau uprak.
.
Besok aku persami nih, dan seninnya langsung uprak. Sad banget huaaa...

Doakan upraknya lancar ya 💚
Thanks for support me🙏❤

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang