23. Welcome back Indonesian 🍁

1K 161 8
                                    

Sejauh dan selama apapun seseorang pergi, ia akan selalu kembali untuk pulang.

~New York, 06 November

Di penghujung masa yang memaksaku harus melupakanmu.

🍁🍁🍁

Vira memandangi Alen yang tertidur di ranjangnya selepas menangis tadi. Vira sebenarnya tidak tega meninggalkan pria ini sendirian. Tapi Vira harus melakukannya. Demi kebaikan semuanya.

Vira membelai rahang Alen. Kemudian mengusap pucuk kepalanya. Tidurnya terlihat pulas dan tenang. Vira menyentuh kantung mata Alen yang terlihat menghitam

Otak Vira kembali memutar kejadian beberapa jam yang lalu,

"Aku butuh kamu" bisik Alen sendu kemudian menenggelamkan wajahnya di bahu Vira.

Vira merasakan bahunya basah. Ia menoleh ke arah Alen, dan mendapati tubuhnya sedikit bergetar. Vira mengelus tangan Alen yang memeluk tubuhnya.

"Kalau kamu mau cerita, mungkin aku bisa jadi pendengar yang baik" tawar Vira.

Hanya hening dan suara isak Alen yang terdengar beberapa saat. Vira berusaha melepas pelukan Alen pada tubuhnya, namun Alen malah mengeratkan pelukannya.

"jangan. Biarkan seperti ini" suara Alen terdengar serak di telinganya.

Vira diam. Menuruti kemauan Alen yang tak mau mengalah.

"Emm, Jenny-" Vira menghentikan ucapannya. Takut menanyakan sesuatu hal. Alen melepas pelukannya dan duduk bersila di atas ranjang, tepat di hadapan Vira. Vira membenarkan duduknya menghadap Alen, ikut bersila di depan pria itu. Vira mengamati penampilan Alen. Rambut berantakan dengan mata dan hidung memerah. Pipinya sedikit basah dengan wajah sembap.

Mereka hanya saling menatap dalam hening. Akhirnya Vira meraih tangan Alen dan menautkan jemarinya. Seolah dengan itu ia bisa memberikan kekuatan pada Alen. Alen menatap Vira lalu tersenyum tipis. Amat tipis.

Vira bisa melihat Alen yang menghela napas berat. Dalam benaknya bertanya-tanya tentang apa yang dialami pria ini.

"Ayah dan Ibuku datang" Alen mulai membuka suara.

Vira menelengkan wajahnya, seolah bertanya 'lalu?'

"Aku membenci mereka semua"

Alen menatap ke luar jendela. Tatapan matanya nampak terluka. Vira tetap diam, berusaha menahan diri untuk berkomentar. Terkadang, seseorang curhat hanya karena butuh didengar.

"Aku benci semua orang. Mereka semua mengkhianatiku. Aku dibohongi selama seumur hidupku!" suara Alen meninggi seolah kemarahan itu begitu besar karena terlalu lama dipendam.

Vira mengeratkan tautan jemarinya pada Alen. Satu tangannya mengelus punggung tangan pria itu.

Alen memejamkan matanya, berusaha meredamkan emosinya.

"Aku hanya anak pungut" suara Alen serak saat mengatakan itu. Bersamaan dengan itu, air mata Alen mengalir begitu saja di sela matanya yang terpejam erat.

Vira tidak suka ini. Alen tidak boleh lemah begini. Ia tidak mau pergi dengan keadaan pria di depannya sedang frustasi.

Vira menyentuh pipi Alen. Menghapus air mata Alen dengan jemari mungilnya yang lentik.

Alen perlahan membuka matanya dan menahan tangan Vira di wajahnya. Vira tercekat karena kedekatan keduanya. Napas hangat Alen terasa membelai wajahnya, Vira menatap netra Alen. Mata hazel yang selalu membuatnya terpaku.

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang