Aku tetep sayang kamu, meski tasbih rosariomu tak bisa gantikan tasbih sholatku.
Malang, 30 November
Dibawah langit senja yang memukau, aku selalu menemukanmu tersenyum untukku.
🍁🍁🍁
Vira mengirimkan pesan pada Alen untuk memberitahu jika mereka akan pulang besok dari pesantren. Ya, selama di pesantren mereka tinggal terpisah. Membuat mereka tidak bisa seenaknya bertemu. Vira bersyukur, meski Alen berbeda keyakinan dengan para penghuni pesantren, lelaki itu tetap menghargai aturan-aturan di pesantren dengan baik.
Ting,
Alen:
'Mie Ayam Cak Man. Sekarang'Vira menghela napas, lelaki ini memang tetap saja bossy. Yang dimaksud Mie Ayam Cak Man itu adalah sebuah warung besar yang berjarak lima ratus meter dari pesantren. Selama di sini, penah sekali ia dan Alen bertemu di sana. Dan ini mungkin akan jadi yang kedua. Saat dulu ia masih tinggal di Malang, warung itu adalah langganan Vira. Ia kenal baik dengan penjualnya, siapa sangka penjual Mie Ayam itu hapal diluar kepala kitab-kitab kuning yang Vira saja bahkan tidak ingat judulnya.
Vira menatap jam di ponselnya,
15.43 WIB.
Masih ada waktu yang cukup banyak sebelum magrib. Vira meraih tas selempang kecil yang hanya berisi uang dan ponsel. Lalu pergi menemui Alen.
🍁
Alen sedang memakan mie ayam, ditemani beberapa ibu-ibu yang duduk di depannya dan memerhatikan Alen penuh minat. Alen berusaha tidak peduli meski ia sangat tidak nyaman, setidaknya ia tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari mereka karena mulutnya tengah mengunyah makanan.
Ia sudah biasa di sini, karena ia selalu menghabiskan waktu di sini setiap magrib hingga isya'. Pada saat itu suasana pesantren akan sangat sepi karena jadwal mengaji. Itu juga yang membuat Alen mau tidak mau harus ditinggal sendiri di kamar. Jadilah setiap menjelang magrib ia kemari untuk menghabiskan waktu bekerja lewat laptopnya. Setidaknya di sini lebih ramai orang lalu lalang dan ia tidak benar-benar sendirian. Ini aneh, di New York Alen menyukai sepi dan sendirian. Disini, ia justru menghindari itu. Entahlah.
"Assalamualaikum, Mas Yud" suara seorang gadis yang familiar mengusik rungu Alen.
"Waalaikumussalam, eh Vira. Kok jarang mampir kesini, aku kangen lho" lelaki itu tersenyum pada Vira dan dibalas tawa renyah oleh Vira.
"Bisa aja, Mas Yud. Om Man mana?"
"Kamu itu, setiap kesini yang dicariin bapak mulu. Anaknya ini lho gak pernah dicariin"
"Ih, Mas Yud. Bercanda mulu dari tadi" Vira menggelengkan kepalanya seraya tersenyum cerah.
"Duduk sana, temenmu dikerubungi fansnya tiap hari. Nanti pesenanmu tak anter ke sana" ujar lelaki yang dipanggil Mas Yud itu.
"Vira kan belum pesan apa-apa" Vira mengernyit bingung.
"Nggak usah pesan udah hapal diluar kepala" jawab lelaki itu yang kini mulai mengambil mangkok.
"Mie ayam kuah banyak, telur puyuh dua tusuk, pentol ukuran medium satu. Nggak pakai kubis, tapi pakai sawi dikit. Bawang goreng dikit, daun bawang sama seledri secukupnya. Sama tambahan garam sepucuk sendok, sambel tiga sendok, nggak pake saos, pake kecap dikit" jawab lelaki itu dengan suara di yang dibuat-buat seperti anak kecil. Vira tertawa menatap kekonyolan itu. Sudah bertahun-tahun tapi lelaki ini masih mengingatnya. Vira jadi menyesal tidak sering-sering kemari.
"Makasih, Mas Yud. Maaf Vira jarang ke sini" ujar Vira dengan raut sendu.
"Udah santai aja. Masak reunian malah sedih-sedihan? Senyum dong, Vira kan bukan anak cengeng yang suka ngompol waktu dikejar ayam jago Pak Jamad" raut wajah Vira langsung berubah menjadi kesal karena kejadian memalukan masa kecilnya diingat lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
FEELING OF BEING AN ENEMY [End]✔️
Spiritual[ KISAH ROMANS BEDA AGAMA ]💙 #1 dalam spiritual (10/07/21) #1 dalam beda agama (20/01/21) #1 dalam billionair (03/08/21) #1 dalam Traveler (26/03/20) #25 dalam i love you dari 1,53k (27/05/20) #25 dalam hijrah (12/08/21) #15 dalam enemy (01/06/20) ...