48. Melupakanmu 🍁

839 123 4
                                    

Sebesar apa pun rasa kecewa yang kupunya untukmu, nyatanya ia tak pernah lebih besar dari rasa cinta yang kupendam untukmu.

Surabaya, 02 Januari.

Bahkan rindu ini membuncah saat di depanmu, tapi mati-matian kutahan demi kewarasan otakku.

🍁🍁🍁

Sepulang dari memilih kado, Vira minta diturunkan dulu di toko buku langganannya. Ia turun dari mobil, lalu masuk ke dalam toko dan mengucap salam, "Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam, eh, Neng Vira. Masuk-masuk," ajak pemilik toko yang sangat mengenal Vira. Vira celingukan di dalam toko, dan iru menarik perhatian Pak Gun-pemilik toko.

"Cari apa, Neng?"

"Buku diary putih yang kayak biasanya, nggak ada, Pak?" tanya Vira.

"Oh, habis, Neng. Diborong sama orang tadi," jawab Pak Gun.

"Yah, masak satu aja nggak ada sih, Pak Gun?"

"Habis, Neng. Warna lain juga nggak ada. Tinggal ini satu aja," ujar Pak Gun mengangkat diary berwarna candy pink.

"Pink? Tinggal ini? Hitam atau warna lain beneran nggak ada?" tanya Vira memastikan, ia membolak-balik diary pink itu.

"Nggak ada, Neng. Distributornya juga baru kirim lagi bulan depan." Pak Gun menggelengkan kepalanya.

Vira menghela napas pasrah, demi apa! Usianya sudah 29 tahun dan ia harus menulis di buku semencolok ini?

"Ya Allah, Pak. Saya hampir kepala tiga masak dikasih buku begini, mana ini gambarnya barbie."

Pak Gun tertawa sejenak, "Neng Vira tuh masih imut, nggak keliatan kok. Masih kayak ABG."

Vira tertawa, "Bisa aja, Pak Gun." Akhirnya, Vira memutuskan membeli buku itu walau dengan setengah hati. Tidak ada pilihan lain...

Sesampainya di mobil, "Tumben bukunya nyala gitu?" tanya Reza dengan raut geli.

"Sssttt, diem deh." Vira sedang tidak mood menanggapi gurauan kakaknya. Mobil melaju, membelah jalanan yang lengang sebelum akhirnya ikut bergabung ke jalan raya yang ramai.

🍁

Vira menyesap kopi hitam ditangannya seraya menatap bulan yang menggantung di langit. Ia meletakkan cangkirnya, meraih buku diary yang tadi dibelinya. Ia mengamati buku itu, "Kau tahu? 2 tahun ini aku menghabiskan 13 buku diary. Dan semuanya putih, kau sendiri yang berbeda. Aku jadi tidak tega mau menulis sesuatu yang galau." Vira bermonolog, "So, kamu jadi temen curhatku aja ya." lanjutnya sembari mengusap permukaan buku itu. Sepertinya ini pertanda jika ia harus berhenti menulis tentang kesedihan.

Vira menatap ke depan, dari sini, kerlip lampu rumah-rumah terlihat seperti kunang-kunang. Tidak banyak yang berubah dari Surabaya 2 tahun belakangan ini. Hanya semakin sesak bangunan, semakin ramai, dan semakin panas kalau siang. Vira meneteskan air matanya, lalu terisak seraya memeluk diary pink itu.

"Aku masih tidak mengerti, kenapa dia pergi? Kapan ia kembali? Apa ia benar-benar akan kembali?" Vira terisak.

"Dua tahun aku menunggu, tapi ia juga tak kunjung datang. Kemana janjinya yang dulu? Dia bilang dua minggu, tapi sampai sekarang nggak ada kabar. Aku capek. Dia bohong!" Vira terisak, tangisnya terdengar amat pilu.

"Alen, kamu kemana?" gumamnya lirih.

Vira menatap rembulan, "Apa aku salah percaya sama kamu? Tapi kenapa kamu tega buat aku berharap?" tanya Vira dalak hati. Ia kembali menangis, kali ini ia tak lagi menutupi kesedihannya, ia akan menangis sepuasnya. Sampai ia lelah.

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang