2. Day Light ... apa?! 🍁

2.3K 322 42
                                    

2. Day Light ... apa?! 🍁

:::

Banyak sekali asumsi bertahan karena minimnya komunikasi. Mereka bertahan pada diamnya, dan membiarkan kesalahpahaman menjadi pengacau.

-New York, 08:42 pm.
Masih di hari yang sama.

🍁

Gadis kecil itu terlihat berdiri di balik jendela kamar hotelnya. Ia mengamati sekitar, lampu-lampu menerangi jalan dan gedung-gedung tinggi. Membuat kesan sibuk melekat pada kota ini.

Ia sendiri heran, kenapa ia memilih ke New York? Bukan perancis yang dikenal dengan kota Parisnya dan romansa tempat-tempatnya? Atau Korea? Negeri ginseng yang tetap unggul di segi fashion itu?

Mengapa ia memilih New York? Kota yang tak pernah tidur. Sebelas dua belas dengan jakarta.

Apa sebegitu terobsesinya dia dengan pohon maple yang terkenal itu? Hingga ia sampai terbang sejauh ini? Yah, mungkin saja.

Ah, entahlah!

Tapi inilah suratan takdirnya, entah kejutan apa yang akan ia dapat nanti di New York. Ia hanya bisa menunggunya, dan mempersiapkan diri untuk menyambut kejutan itu. Biasanya ia selalu semangat dengan hal baru, yang artinya ia akan belajar lebih banyak lagi. Tapi kali ini ... ia sedikit ragu.

"Hoammm..."

Ia menutup mulutnya yang tengah menguap. Kata ayahnya dulu, "Biar setan nggak masuk ke mulut."

Terlepas dari benar atau tidaknya, ia yakin ayahnya selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Dan setelah dia beranjak remaja, ia baru mengerti. Bukan setan masuk ke mulut. Tapi setan tertawa melihatnya yang tidak ada bedanya dengan buaya atau binatang. Yah, simple-nya manusia tak beradab atau tak beretika. Bahasa gaulnya ... Akhlakless-gak ada akhlak!

Matanya terasa panas dan berat. Sepertinya ia harus tidur cepat. Mungkin Ia masih jetlag. Padahal jika di Indonesia, ia biasa tidur pukul 12 malam atau jam 1.

Vira kembali membuka ponselnya. Beruntung sekali ia tiba saat New York mengalami musim gugur. Waktu sholatnya sebelas-dua belas dengan Indonesia. Berbeda jika ia ke sini saat musim semi atau musim lainnya.

Benefit-nya lagi, shubuh di sini jam 6. Jadi ia tak perlu repot bangun pagi-pagi. Hehe :v

Ia tidak habis pikir, jika ia ke sini pada bulan juni, musim semi. Dimana ia harus bangun jam 3 pagi untuk shubuh. Padahal jika di Indonesia, orang-orang masih qiyamul lail dan ia sendiri ... tidur. Upps...

Dan mengejutkannya lagi, semakin maju waktu shubuhnya, semakin molor isya-nya. Bayangkan saja, jam 10 lebih ia baru bisa melaksanakan sholat isya' karena masuk waktu isya pada pukul 10 malam. Hmm ... berbanding terbalik dengan waktu isya di bulan desember.  Jam 18.00 sudah masuk waktu sholat isya. Yah, mungkin karena musim dingin. Jadi Allah memberikan rukhsoh (keringanan) sehingga diberi waktu tidur yang lebih panjang.

Alhamdulillah sekali.

🍁🍁🍁

Perbedaan waktu yang sebelas jam lebih lambat dari Waktu Indonesia Barat (WIB) membuatnya mau tak mau harus pintar beradaptasi untuk mengatur jadwal. Seperti kemarin, ia berangkat pukul 6 pagi pada 12 oktober. Dan tiba pada hari yang sama di New york.

Penerbangan tercepat yang bisa ditempuh. 21 jam 20 menit.

Ia pikir akan tiba di hari berikutnya, tapi ia lupa dengan perbedaan waktu 11 jam yang membuatnya tiba di New York pukul 05.00 pm. Yah, jam 5 sore tanggal 12 Oktober di New York. Setara dengan jam 4 shubuh tanggal 13 Oktober di Indonesia.

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang