3. Downtown Tour dan Nenek Pelupa🍁

1.9K 269 38
                                    

3. Downtown Tour dan Nenek Pelupa🍁

:::

Faktanya, hal mengejutkan selalu menjadi yang sulit terlupakan dalam hidup. Dan kamu. Adalah salah satu kejutan terbaik di hidupku.

~New York, 13 Oktober
On the way mengikuti tur di bus.

🍁🍁🍁

Vira tampak mengeluarkan kacamata hitamnya dari dalam sakunya. Ia lalu mengenakannya di atas kepala. Membuatnya tampak stylist namun tanpa mempertontonkan aurat.

Ia duduk di kursi deret ketiga dari depan. Ia mengintip pemandangan kota New York dari jendela transparan di sisi kirinya. Baginya, cara paling simple dan praktis selama jalan-jalan ke New York  adalah dengan ikutan tur di bus. Ia tidak perlu bingung dengan tujuan, apalagi takut nyasar di negeri orang.

Tinggal duduk manis di dek atas bus, pasang headset lalu mendengarkan audio guide yang menerangkan sejarah serta informasi setiap kawasan dan landmark di New York.

Ia bisa bersantai sambil melihat setiap skyscrapers dan orang-orang lalu lalang di kota yang dijuluki "The City That Never Sleeps."

Dalam tur yang berdurasi sekitar kurang lebih 2 jam ini, ia dibawa berkeliling downtown New York. Dari Times Square, Theatre District, Rockefeller center, Empire State building, Chinatown, Koreatown, The Village, SoHo, NoHo, Wall Street, Battery Park, Garment district, lalu kembali lagi ke Times Square. Hal itu membuatnya lebih tahu dengan kota yang akan didiaminya selama seminggu ini.

Yah, anggaplah ini sebuah perkenalan. Sehingga ia bisa evaluasi jadwal agar lebih efisien. Benefit-nya, dengan ikutan tur ini ia bisa punya gambaran lebih jelas tentang kemana ia akan pergi setelah ini.

Berhubung ia mengikuti tur saat pagi hari, perjalanan masih bisa dikatakan lancar. Tidak banyak macet yang harus ia lalui saat tur tadi.

Setelah downtown tour selesai, bus kembali ke tempat semula ia naik. Ia membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Ia memasukkannya kedalam ransel lalu memakai ranselnya. Ia menoleh ke sekelilingnya. Para penumpang sedang bergantian antri untuk turun. Pandangannya menoleh ke kursi 2 deret di belakangnya.

Ada seorang perempuan lansia, terlihat dari rambutnya yang semuanya memutih. Ia menoleh ke sekitarnya.

"Nenek itu nggak turun ya?" batinnya bingung.

Ia mendekat ke arah nenek berambut putih itu. Sebenarnya, ia tidak tega untuk membangunkan karena melihat betapa lelapnya beliau tidur. Tapi jika nenek ini tertinggal di bus, apa keluarganya tidak akan cemas? Dan kemana mereka sekarang? Setega apa keluarga yang meninggalkan tetua keluarganya keluar sendirian tanpa pengawasan?

Ia bergerak mendekati nenek itu. Ia sedikit ragu, hingga akhirnya ia menepuk pelan pundak nenek itu untuk membangunkan.

Ajaib!

Nenek itu bangun. Sembari mengucek mata, ia mendumel dalam logat inggrisnya yang kental.

"Lisa! Sudah kubilang jangan bangunkan aku. Biar si tampanku yang membangunkanku!" ujarnya bersungut-sungut.

Vira yang tak tahu apapun hanya terdiam kikuk.

"Maaf nek, saya ..."

Baru saja Vira membuka mulut, nenek itu memotong kalimatnya.

"Nenek? Hey! Kurang ajar sekali kau, Lisa! Aku masih muda. Kau yang nenek-nenek. Enak saja! Aku adukan kau pada si tampanku agar memecatmu!"

Kali ini, nenek itu berujar dengan lebih keras. Membuat beberapa orang yang di antrian menatap ke arah mereka.

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang