[ KISAH ROMANS BEDA AGAMA ]💙
#1 dalam spiritual (10/07/21)
#1 dalam beda agama (20/01/21)
#1 dalam billionair (03/08/21)
#1 dalam Traveler (26/03/20)
#25 dalam i love you dari 1,53k (27/05/20)
#25 dalam hijrah (12/08/21)
#15 dalam enemy (01/06/20)
...
Karena manis dan pahit berjalan seiring, kamu tidak bisa menyangkalnya dengan hanya menerima salah satunya saja.
Malang, 15 November
Nikmatnya manis tidak akan terasa sebelum mencecap pahit terlebih dahulu.
🍁🍁🍁
Mobil yang ditumpangi Vira dan Alen membelah jalanan yang lengang. Vira masih enggan menatap Alen. Ia masih marah, kesal, dan entah perasaan apa saja yang kini berjubel di hatinya. Alen melirik Vira yang terus menatap ke luar jendela. Lelaki itu tetap diam, bukannya tak tahu jika gadis itu tengah merajuk. Tapi Alen tetap diam karena memberikan waktu untuk Vira meredakan kekesalannya.
Vira menoleh ke arah Alen ketika mobil itu menepi di sebuah tempat makan. Tanpa mengatakan apapun, lelaki itu keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Vira. Vira sebenarnya tidak mau turun. Tapi ia juga lapar. Karena Vira bukan orang yang suka jaim hanya karena marah. Vira langsung ikut turun.
Vira menghentikan langkahnya ketika Alen berjalan ke arah tempat makan bertuliskan McD. Ayolah? Makanan seperti ini bisa ditemukan di Jakarta, Surabaya, atau diluar negeri sekalipun. Jadi apa istimewanya? Jauh-jauh ke Malang malah makan di tempat yang ada dimana-mana. Kan nggak seru?
Well, Malang itu kota kuliner. Yang benar saja melewatkan makanan khas demi makanan umum?
Alen ikut berhenti ketika menyadari Vira sudah tertinggal beberapa meter di belakangnya. Alen menghampiri Vira yang masih terdiam di tempat. Belum sempat Alen bertanya, Vira sudah berbalik dan berhenti di pinggir jalan raya. Alen segera menyusul Vira, lalu menggandeng tangan gadis itu ketika mereka menyeberang jalan raya yang cukup ramai itu. Ah, mungkin tidak cukup ramai, bisa dibilang lumayan macet.
Mereka berdua langsung menjadi sorotan lantaran wajah khas bule milik Alen. Tapi lelaki itu seolah tak peduli, dan terus mengikuti Vira yang tetap tidak mau bicara. Hingga mereka tiba di seberang jalan, Vira langsung berbelok ke kiri dan terus mengabaikan Alen. Hingga langkah keduanya terhenti di sebuah papan bertulis "Bakso Khas Malang"
Malang dikenal juga sebagai kota bakso. Jadi ke Malang tanpa mencoba bakso? Kurang banget!
Senyum Vira langsung merekah ketika melihat gambar bakso terpampang besar disebuah banner. Kangen banget! Vira langsung menarik tangan Alen yang masih terpaku ditempat. Lelaki itu bahkan menatap ragu tempat makan itu. Memang bukan restoran atau caffe, walaupun di pinggir jalan tapi ini juga bukan kedai tenda. Sudah ada meja, kursi, dan sebuah televisi. Sebenarnya jika menuruti ingin Vira, makanan di kedai-kedai tenda rasanya lebih enak dan harganya juga lebih meriah. Tapi ia masih memikirkan Alen yang mungkin belum terbiasa dengan itu semua. Jadilah ia membawa Alen ke sebuah tempat makan yang cukup besar dengan menu yang lebih bervariasi.
Mereka sudah duduk di sebuah meja dengan tiga kursi. Vira langsung membuka buku menu, matanya berbinar ketika melihat gambar-gambar bakso terpampang disana. Ada bakso bakar, bakso beranak, bakso panjang, bakso jawa, bakso mercon, bakso urat, bakso kerikil, bakso londho, dan bakso-bakso lainnya. Vira langsung memesan satu porsi bakso urat dan bakso beranak ukuran paling kecil. Serta seporsi bakso panjang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.