Feeling of Being an Enemy🍁

1.2K 75 15
                                    

Bismillah,
Ini bukan bagian dari cerita FOBAE atau pun extra part. Tapi sebatas curhatan seorang (AivAtko31)

Cerita ini dimulai Mei/ juni 2019.
Dan tamat juni 2020.

Setahun😂

Makasih buat yang ngikutin cerita ini dari awal, ataupun yang baru baca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Makasih buat yang ngikutin cerita ini dari awal, ataupun yang baru baca. I love you

Waktu itu entah lagi booming atau apa, banyak banget temen-temen yang curhat soal "Cinta Beda Agama"

Sebenarnya yang curhat sebelumnya juga banyak tentang itu, tapi pas awal-awal 2019 jadi lebih banyak banget, maybe karena mereka sudah semakin gede dengan relasi yang semakin luas. Jadi mereka mulai mengenal orang-orang dengan latar yang berbeda.

Kelas 3 SD, aku punya teman karib nonis, doi asal Timor Timur. Sering tuker-tukeran cerita tentang agama. Bahkan aku dibolehin dia baca kitabnya, dan suka aja. Tapi teteplah,

Ya muqollibal qulub tsabbit qalbi ala diinik.

Wahai zat pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

Terus kelas 5 SD aku juga ada teman main sepak bola nobis, cowok. Jujur gw suka sama dia. Bukan dalam artian cinta, nggak lah. Bocah tau apa sih! Gw suka karena dia selain ganteng dan manis dia baik banget, walau sering berantem gara-gara rebutan bola sih. Dan gimana ya, sejak saat itu gw jadi ngerti. Kalau beda agama, suku, budaya, etc sebenarnya tuh gak masalah. Gak ganggu. Nggak se-serem dan se-ekstrem omongan orang-orang. Cuma kadang emang suka rasis, walau kadang cuma niat bercanda.

Tapi lingkungan beda, jelas cara bercandanya juga beda. Nggak semua bisa menerima candaan yang merepet ke rasis. So, makanya kenapa gw disini sempat bahas rasis dikit. Biar nyadar, klo rasis itu karena kurangnya pengetahuan kita sama sesuatu itu.

Dan soal cinta beda agama, makanya gw cukup berani ngasih saran ke temen2 gw. Karna gw juga 'sedikit' tahu tentang itu. Karena emang dari SD udah banyak yang curhat naksir temen gw yang nonis tadi.

Tapi ya gitu...

Rata-rata semua ceritanya sama. Jadi saranku ya 11 12 lah ke setiap orang.

Berakhir di menghapus rasa dan melupakan.
So, akhirnya aku terinspirasi buat cerita ini karena gw rasa ada yang pernah ngerasain hal yang sama tentang ini.

Dan jadilah cerita ini...

[Feeling of Being an Enemy🍁]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Feeling of Being an Enemy🍁]

Artinya: perasaan yang menjadi musuh. (Kadang perasaan emang gak sesuai keinginan. Jadi sering berantem kan sama diri sendiri.)

Karena kembali lagi kayak curhatan mereka tentang ini semua. Intinya sama, RASA INI NGGAK SEHARUSNYA ADA.

Makanya, awal2 gw mau bikin cerita sad ending. Tapi gegara komentar2 yang gak rela, yaudah deh aku satuin aja mereka. Dan jadinya panjang banget ini.

Makanya sesuai dengan makna judulnya, banyak banget kegalauan-kegalauan yang mungkin bikin kalian bosen bacanya karena saking banyaknya.

Tapi itulah gais. Rasa ini emang gak mudah.

Dan aku nggak asal ngarang soal "skeptis sama islam" dan "pindah agama"

Karena jujur aja, gw udah pernah ngalamin dimana gw ngerasa hati gw ragu sama islam. Ada saatnya, ketika seseorang di posisi yang down, terus orang2 islam disekitaran yang 'katanya' saudara malah jadi kayak musuh karena suka nggak sadar  klo omongan, tingkah laku, dan tatapan mereka menghakimi orang lain.

Dan gw ngerasa lebih dirangkul sama temen2 yang nonis. Bahkan sama keluarga mereka gw ngerasa lebih disayangi.

Saat itu (kelas 10) gw sering nanya ke diri sendiri,

Benarkah islam ini agama yang benar? Aku menganut islam sejak lahir. Sama kayak temen2 ku yang nonis sejak lahir. Bisa aja aku ngerasa agama ini bener karena emang ini yang kuanut sejak lahir?

Dan ngubah pendirian sama apa yg kita percayai dari lama itu susah. Sama seperti islam yang melihat nonis itu murtad, agama lain juga. Mereka punya alasan pembenaran ke agama mereka sendiri. Sampai akhirnya gw capek dan suka nanyain hal aneh,

Buat apa gw hidup?

Itu beneran, dan ternyata temen2 juga ngerasain hal ini beberapa tahun kemudian. Mereka sering nanya,

Kenapa Allah nyiptain perbedaan?

Kenapa Allah naruh rasa ini klo gak boleh?

Dan kenapa Allah jahat? (aku juga pernah sih, astagfirullah)

Dan saat itu juga gw jadi punya jawaban dari sebuah jawaban yang menimbulkan pertanyaan. (rumit ya)

Gw jadi percaya,

Nggak semua pertanyaan harus ada jawabannya sekarang.

Itu yang banyak orang bilang, kadang kesel sih klo udah tanya dan dijawab gitu. Tapi beneran, kadang jawaban gak bisa dijawab orang lain. Harus kita sendiri yang ngejawab, lewat perasaan. Dan itu butuh waktu, suatu hari ketika kita merasakan, mengerti, lalu paham. Semua itu bakalan terjawab.

Udah ah, bawel banget aku.
Ini aku curhat aja sih.

Sekali lagi makasih udah mau baca cerita ini❤😭💙

Sekali lagi makasih udah mau baca cerita ini❤😭💙

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(ini cover yang di kwikku hehe.)
Yang disana aku up versi revisi 1.

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang