Jika bisa memilih, terperangkap dalam cinta tidak akan pernah masuk dalam opsi hidupku.
Surabaya, 13 November
Kalau kamu sadar diri, seharusnya kamu pergi tanpa harus dipinta
🍁🍁🍁
Vira menatap gusar ke arah Anita yang masih terpaku di tempat. Lalu ia menatap khawatir ke arah Alen dan Reza. Vira hendak merengkuh ibunya. Tapi ia terlalu takut untuk mendekat meski hanya beberapa langkah jarak keduanya. Vira menunduk kala netranya bersua dengan netra ibunya. Ada kecewa, sedih, dan entah perasaan apa di balik mata yang berkaca-kaca itu. Ia tidak tahu. Lebih tepatnya tidak siap untuk tahu.
Hingga dirasakannya lengan Vira dalam genggaman seseorang. Vira mendongakan wajahnya, menatap ibunya yang memegang lengannya kemudian menuntun Vira ke arah dua lelaki yang tengah berdiri di ruang tamu. Degub jantung Vira tak beraturan. Ada ketakutan yang nyata, serta was-was yang melingkupi diri Vira.
Tepat saat mereka berpijak di depan dua lelaki itu, Vira merasakan genggaman di lengannya itu terlepas. Vira menatap iba ke arah Alen yang menatap datar tanpa ekspresi. Vira tahu, Alen tengah bingung akan situasi sekarang, dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan ia juga baru saja tiba, dan disambut oleh sesuatu yang pastinya tak terduga olehnya.
"Maaf, siapapun kau. Bisakah kau pergi?" tanya ibunya dalam bahasa inggris pada Alen. Alen mengerutkan keningnya bingung, namun ia segera menetralkan kembali wajahnya.
"Ok. Maaf sudah mengganggu. Tapi sepertinya ada kesalahpahaman di sini?" Alen masih belum mencerna kejadian tadi. Tapi sepertinya memang ada yang salah dengan semua ini.
Reza menatap Alen dengan raut wajah yang memperlihatkan jelas jika ia tidak suka dengan pria itu.
"Jika kau sadar diri telah diusir, seharusnya kau pergi sekarang" ujar Reza tenang, namun penuh penekanan.
Vira meneguk ludahnya, merasakan suasana yang sangat tidak nyaman di sekitarnya.
Vira menatap Alen yang menatap Reza tajam. Kedua lelaki itu tampak menebarkan aura permusuhan, membuat Vira ngeri hanya karena melihatnya.
Jemari Vira saling memilin, gugup. Dengan keraguan dan ketakutan yang terlihat nyata di matanya, Vira menyentuh lengan atas Alen. Membuat lelaki itu menatap ke arah Vira. Reza menatap tajam telapak tangan Vira yang menyentuh lengan Alen. Anita masih diam, mengawasi anak-anak muda di depannya.
Alen menatap Vira yang tampak seperti hendak menangis. Tangan Alen terulur untuk menangkup pipi Vira. Vira menatap Alen terkejut, dengan mata yang sedikit bergerak melirik ke arah kakaknya. Reza menatap Vira penuh selidik dan menahan diri untuk memukul Alen lagi.
Vira berusaha keras untuk tidak peduli. Ia menatap Alen penuh penyesalan. Vira nenggenggam tangan Alen yang berada di pipinya,
"Pergilah, kumohon" Kali ini, ia tak bisa lagi membendung air mata. Air mata Vira tiba-tiba saja mengalir di pipinya tanpa bisa dicegah.
Alen seolah menatap Vira tidak setuju. Tapi wajah Vira yang memelas dan seolah tak berdaya membuat Alen menghela napas pasrah.
Alen mengeluskan jemarinya di pipi Vira yang basah,
"Baiklah, aku pergi. Tapi aku pasti kembali. Jangan menangis lagi" ujar Alen lalu mengecup kening Vira. Vira memejamkan matanya, lalu segera terbuka lebar saat Alen melepasnya. Vira langsung sigap berdiri di depan Reza. Menghalangi lelaki itu memukul Alen lagi.
"Bedebah! Dia berani menciummu!" bentak Reza tak terima. Vira menahan dada Reza dengan tangannya.
Vira menatap Alen yang sempat kebingungan saat akan pergi. Vira mengangguk dengan tatapan memelas, memohon Alen segera pergi. Alen pun mengangguk, memaksa kakinya untuk berjalan menjauh dari rumah Vira.
"Kak" Vira masih terus menahan Reza yang masih terlihat berambisi untuk menghajar Alen.
Setelah mobil Alen menghilang di tikungan, Vira melepas lengan kakaknya dengan tatapan penyesalan yang amat kentara di matanya. Reza berbalik, menatap tajam ke arah Vira. Tampak jelas sorot kemarahan di netra cokelat Reza yang biasanya selalu teduh. Namun tatapan Reza berubah gusar kala sang ibu langsung masuk ke kamar dengan air mata yang mengalir di pipinya. Vira menatap Reza yang sekarang berlari dan mengetuk-ngetukan jemarinya di pintu jati yang terkunci rapat dari dalam.
"Bun, ini salah Reza Bun. Maafin Reza yang gak bisa jaga amanah bunda" berbeda dengan Vira, Reza memang memanggil Anita dengan sebutan 'Bunda'. Karena memang Reza teramat dekat dengan kedua orangtuanya jika dibandingkan Vira.
Vira menunduk penuh perasaan bersalah. Air matanya terus mengalir tanpa henti, mengalir di pipi lalu menggantung di belahan dagunya. Lalu jatuh membasahi lantai keramik di bawahnya.
Vira menatap gusar ke arah kakaknya yang tak balas menatapnya. Seolah sengaja menghindar. Vira menghampiri Reza, hendak meminta maaf. Namun Reza langsung berlalu begitu saja tanpa mengacuhkan Vira.
Vira masih mengikuti Reza tanpa berani suara, hingga sampai di depan kamar Reza. Reza berhenti tanpa menyentuh kenop pintu.
"Ngapain di sini" suara Reza terdengar sangat dingin. Membuat dada Vira bergemuruh karena takut.
"Ma-af, Kak" hanya itu yang mampu Vira katakan.
"Gausah minta maaf kalau penyesalan aja kamu gak punya" ucapan Reza membuat Vira terbelalak. Kenapa kakaknya bisa berpikir begitu? Jelas-jelas Vira sangat merasakan penyesalan itu.
"Menyesal itu berarti gak akan diulangi lagi. Bukan cuma ngerasa gaenak ke orang lain." lanjut Reza tanpa menatap Vira. Vira hanya diam mendengarkan Reza, perlahan ucapan itu terasa menusuk ulu hati Vira. Membuatnya sesak. Tak terpungkiri, ego Vira terusik mendengarnya.
"Kemana Vira yang dulu? Aku tahu, kamu mau berubah dan nggak hanya stuck di tempat. Tapi seharusnya ke arah yang lebih baik. Bukan sebaliknya! Jika dibandingkan sekarang, aku benar-benar kecewa" ucapan Reza terdengar tajam di telinga Vira.
"Hanya karena cinta buta kamu ke manusia, kamu pertaruhin iman kamu?" sindir Reza tajam. Vira mengerutkan keningnya, tidak terima.
"Aku tahu kakak marah. Tapi kakak gak perlu nuduh sembarangan, apa maksud kakak aku nggak punya iman lagi?" Vira berujar dengan emosi yang melanda hatinya.
"Imanmu cuma sebatas di bibir. Buktinya apa? Kamu biarin lelaki itu cium kamu. Bahkan dihadapan Bunda!" kali ini intonasi Reza naik, membuat Vira kaget.
"Kamu masuk club sampai hampir diperkosa gara-gara dia. Dan kamu masih belain dia! Kamu gandengan tangan, tatap-tatapan, cium-ciuman sama orang yang bukan mahram kamu. Kalau emang iman itu masih ada, dimana rasa malu kamu? Nggak ada kan? Karena emang udah kamu gadaikan sama cinta omong kosongmu sama dia" Reza menutup pintu dengan keras setelah mengatakan itu. Dan Vira, langsung terduduk di lantai dengan tangis yang pecah.
'Kalau emang iman itu masih ada, dimana rasa malu kamu?'
'Imanmu cuma sebatas di bibir.'
'Hanya karena cinta buta kamu ke manusia, kamu pertaruhin iman kamu?'
Suara Reza terus terngiang di telinga Vira. Membuat kepalanya pening dengan sesak yang terasa menohok tanpa ampun.
TBC 💙💙💙
Jangan lupa like n komen ya 💓🙃
Hope you like itThanks for everything i love you ❤

KAMU SEDANG MEMBACA
FEELING OF BEING AN ENEMY [End]✔️
Spiritual[ KISAH ROMANS BEDA AGAMA ]💙 #1 dalam spiritual (10/07/21) #1 dalam beda agama (20/01/21) #1 dalam billionair (03/08/21) #1 dalam Traveler (26/03/20) #25 dalam i love you dari 1,53k (27/05/20) #25 dalam hijrah (12/08/21) #15 dalam enemy (01/06/20) ...