[ KISAH ROMANS BEDA AGAMA ]💙
#1 dalam spiritual (10/07/21)
#1 dalam beda agama (20/01/21)
#1 dalam billionair (03/08/21)
#1 dalam Traveler (26/03/20)
#25 dalam i love you dari 1,53k (27/05/20)
#25 dalam hijrah (12/08/21)
#15 dalam enemy (01/06/20)
...
Denting sendok dan garpu mengisi heningnya meja makan di rumah keluarga Vira. Vira meletakkan sendok di atas piring, membaliknya. Tangan kanannya terulur mengambil segelas air putih, ia meminumnya, melegakan tenggorokannya yang kering. Vira menatap ragu ke arah setiap anggota keluarganya. Berusaha mencari-cari raut kekecewaan atau ekspresi apapun yang menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya.
Nihil. Ekspresi mereka biasa-biasa saja, atau memang sengaja mereka atur seperti itu agar Vira tidak sedih dan kecewa. Tapi justru karena ketidaktahuannya ini ia jadi merasa sedih. Seolah mereka tidak mau membagi perasaannya pada Vira, ia hanya merasa... Tidak cukup dipercaya.
Vira jadi menyesali pilihan kuliahnya dulu, di saat-saat seperti ini andai ia mengambil jurusan psikologi, ia pasti bisa menebak raut-raut yang disembunyikan. Tapi yah, untuk saat ini Vira hanya bisa menyesali tanpa bisa memperbaiki semua. Jadi penyesalannya sama sekali tidak berguna kini.
"Dihadapan semua keluargamu, sekarang. Will you marry me, Vira?" Alen membuka kotak beludru berwarna biru tua dan menyodorkannya pada Vira.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bingung, ia edarkan matanya ke sekitar dan tatapannya jatuh pada Reza. Lelaki itu menatapnya dengan raut tak terbaca. Lalu tatapannya beralih pada kedua orang tuanya yang berdiri di dekat pintu sembari tersenyum. Seolah mendukung Vira untuk menganggukkan kepalanya.
Vira kembali menatap Alen yang terlihat menunggu dengan sabar. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya, terlihat sangat kaku dan tak seperti biasanya. Vira menatap Alen canggung, rasanya ia tidak tahu harus apa. Ia hanya ingin tenggelam di tempatnya berdiri, ia ingin menghilang kemanapun, dan jauh dari situasi ini. Ia tidak siap, ketakutan itu nyata di pelupuk matanya. Tapi di satu sisi, ada kebahagiaan membuncah di dadanya. Ada haru, tak percaya, dan berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu.
"Apa yang terjadi jika aku salah menjawab?" pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuatnya pening seketika.
"Jangan jatuh cinta sama cowok nonmuslim, sakit. Jarang yang bisa bersatu sampai ke pernikahan dan langgeng. Kalaupun dia masuk islam, itu hanya sebagai syarat untuk bisa menikahi cewek islam.
"Setelah beberapa tahun menikah, dia pasti kembali lagi ke agama asalnya. Apa ya namanya, ah iya 'kristenisasi' jadi mau gak mau yang cewek cuma punya dua pilihan. Cerai atau murtad." Sekelebat bayangan ucapan salah seorang teman Vira ketika SMA terlintas di otaknya.
Saat itu Vira tak terlalu peduli, ia tidak pernah pacaran apalagi berpikir sampai ke jenjang pernikahan. Yang benar saja? lulus SMA saja belum. Pernikahan? Baginya itu masih terlalu jauh jika dipikirkan sekarang. Dan ia menyesalinya karena itu terjadi padanya, saat ini.
"Vira?" panggil Alen menyadarkan Vira dari pikirannya sendiri.
Vira kembali menatap Alen, menampilkan senyum permintaan maaf. Bibirnya terasa kering dan kaku, tapi ia sudah memutuskan jawabannya.