[ KISAH ROMANS BEDA AGAMA ]💙
#1 dalam spiritual (10/07/21)
#1 dalam beda agama (20/01/21)
#1 dalam billionair (03/08/21)
#1 dalam Traveler (26/03/20)
#25 dalam i love you dari 1,53k (27/05/20)
#25 dalam hijrah (12/08/21)
#15 dalam enemy (01/06/20)
...
Aku bisa merangkai kata menjadi sesuatu karya yang indah. Tapi aku tak bisa merangkai cerita nyataku seindah itu.
Malang, 16 November
Faktanya, menyangkal kenyataan jauh lebih mudah daripada menerimanya.
🍁🍁🍁
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gaun putih menjuntai hingga menutupi kaki Vira yang terbalut kaos kaki putih. Ia duduk sembari menghadap kaca dengan lampu yang menyala disekitarnya. Vira menyentuh hijab putih yang melilit kepalanya. Lalu tatapannya jatuh pada hena putih yang menghias punggung tangannya. Ia menunduk, menurunkan tangannya yang berhias indah. Ia membalikkan tangannya, dan mendapati nama orang yang akan menjadi suaminya. Syafiq.
"Dek, ayo ke depan. Akadnya udah mau dimulai" Ajak seorang wanita berhijab biru yang tadi mendandaninya. Vira hanya mengangguk. Kemudian berjalan menuju ke depan dan berhenti dibalik pagar besi yang melingkar dari tangga bawah.
Dibawah sana sudah ramai. Ada ayah, penghulu, saksi, para tetangga, kerabat, dan tamu undangan. Juga Syafiq, lelaki yang akan menjadi suaminya beberapa menit lagi. Lelaki itu memakai jas putih dengan kalung bunga sedap malam berwarna putih yang melingkari lehernya. Ia memakai kopyah putih dengan ukiran indah pernak-pernik berwarna keperakan. Vira menatap semuanya dari atas. Ia menunggu dengan kehampaan yang mengisi relungnya. Ia tidak gugup ataupun merasakan debaran cepat di jantungnya. Rasanya hampa. Ia hanya merasakan bingung.
Ia terus menatap ke bawah dengan perasaan kosong. Saat tangan calon suaminya menggenggam tangan ayahnya, lalu mengucap qobiltu dalam satu tarikan napas, Vira merasa air matanya jatuh dengan sendirinya. Ia tidak terharu, ia juga tidak merasa sedih. Ia tidak merasakan apapun, tapi entah mengapa air matanya perlahan turun ke pipinya.
Ucapan sah, alhamdulillah, dan doa-doa penuh kebahagiaan bertebaran di sekitarnya. Vira dibawa turun menuju suaminya. Anita tersenyum lalu memeluknya, ia mendengar jika ibunya itu memnyuruhnya mencium tangan suaminya. Vira hanya mengangguk dengan wajah datar. Ia meraih tangan lelaki itu, lalu menciumnya. Dirasakan usapan lembut membelai pucuk kepalanya, Vira memejamkan mata. Merasakan kehangatan yang masuk ke relung batinnya lewat sentuhan hangat tangan suaminya.