50. Ar-Rahman untuk Vira🍁

1.4K 133 60
                                    

Bila kau ragu, tanyakan pada hati kecilmu. Kamu akan temui jawaban itu di sana.

Surabaya, 06 Januari

Jangan main-main sama keseriusan seorang lelaki, atau... Tanggung sendiri akibatnya.

🍁🍁🍁

"5 menit!" ujar Vira tegas.

Alen mendekat, Vira masih tak mau menghadapnya. Ia hanya bisa menghela napas pasrah, bagaimana pun ini juga salahnya.

"Aku minta maaf karena nggak bisa nepatin janji," ujar Alen.

Hening.

Vira tetap diam.

"Aku selalu kirim pesan lewat email yang kamu kasih dulu, tapi kamu nggak pernah sekali pun membalasnya."

Omong kosong!

Vira bangkit dari duduknya, Alen meraih lengan Vira, menahannya. Lalu segera melepasnya ketika sadar ia sudah melakukan kesalahan.

Vira menatap lurus ke depan, Alen berdiri di belakang Vira tanpa berani mendekat. Lelaki itu menatap Vira dengan perasaan berkecamuk.

"Kamu tahu? Aku takut..." lelaki itu mulai membuka suara.

"Selama ini aku tahu kamu seperti kupu-kupu. Terbang kemanapun yang kamu mau, dan jika bersamaku, aku tak bisa menjanjikan hal itu." Alen menahan gemuruh di dadanya.

"Aku selalu bertanya dalam hati. Apa kamu masih mau terjebak bersamaku dengan rutinitas yang membosankan? Ada perusahaan yang harus ku urus. Aku mungkin akan sangat sibuk, dan tidak punya cukup waktu luang untuk menemanimu setiap saat. Memikirkan itu semua membuatku gila. Selama ini aku tak pernah menakutkan apapun, semua ketakutan ini membelengguku dan itu semua tentangmu."

Vira bergeming.

"Ketika aku memutuskan menerimamu, seharusnya kamu tak perlu lagi memikirkan itu. Aku sudah tahu, itu mungkin saja terjadi  Tetapi aku tetap menerimamu." ujar Vira dengan mata yang berkaca-kaca.

Alen mendekat, berdiri tepat di samping Vira dan membalik tubuh gadis itu agar menatapnya.

"Aku tak pernah ingin melepasmu, tapi aku juga tak mungkin memaksamu untuk terjebak bersamaku." Wajah lelaki itu terlihat sangat frustrasi.

"Kumohon... Maafkan aku," ujar Alen seraya menunduk. Vira pergi tanpa berkata-kata lagi, air matanya semakin deras di setiap langkahnya.

Ia tak peduli dengan orang-orang yang berpapasan dengannya. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah.

Vira mengunci kamarnya. Tubuhnya merosot. Ia memeluk kedua lututnya, menangis. Ia terlalu lemah, dan ia benci dirinya yang sekarang ini.

Vira mengangkat wajahnya karena teringat sesuatu, ia mengusap airmatanya kasar. Kemudian beranjak untuk meraih laptop dan membukanya. Dengan tergesa ia membuka laman email.

Ia termenung cukup lama.

Vira bergegas membuka laci-laci yang ada di kamarnya, mencari sesuatu. Kamarnya sudah acak-acakan, tapi yang dicari belum juga ditemukan. Vira memijat pangkal hidungnya, di mana?

Ia terduduk, mendongak menatap bola lampu di kamarnya. Berusaha mengingat-ingat di mana benda yang dicarinya.

Hingga ia teringat sesuatu, lalu keluar dari kamar dan membuka laci di ruang keluarga. Meraih rangkaian kunci, Vira pun berlari menuju ke gudang. Ia sudah berdiri di depan pintu gudang, Ia membuka pintu dengan kunci di tangannya. Udara pengap langsung menyambutnya, ia menekan saklar lampu dan suasana menjadi temaram. Tapi ini lebih baik daripada gelap. Ia meraih tangga dan menyandarkannya pada sebuah lemari tua di gudang itu.

FEELING OF BEING AN ENEMY  [End]✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang