"Begitu susahnya kah dirimu untuk berubah?"
"Tidak usah untuk membuatku berubah, Dad. Tapi Dady hafal aku dengan baik bukan? Aku harus mendapatkan apa yang aku mau. Termasuk Mad, aku menginginkannya. Aku ingin dicintai nya."
"Oh God. What happend with you? You want Mad loving you? That's impossible, Violin."
"Yeah, that's impossible. Maka dari itu aku menggunakan cara yang licik. Aku tahu ini salah, tapi aku mencintainya Dad."
"Dad, please. Bisakah kau menolong putrimu ini?"
"Maaf, Dady tak bisa menolong mu untuk mendapatkan Mad. Itu tak mungkin. Mad hanya akan mencintai Olivya. Seharusnya kau mengerti itu."
Violin menghembuskan nafasnya dengan gusar. Saat ini, Gaston dan Violin berada di apartemen milik Violin tinggal. Gaston yang membelikannya saat umur Violin menginjak tujuh belas tahun.
"Whatever if you want not help me. Aku akan merebutnya sendiri."
"Berhentilah berlaku seperti seorang pelacur!!" bentak Gaston yang mulai muak dengan putrinya.
"Ya!! Aku memang pelacur. Aku mengejar seorang lelaki yang mencintai orang lain!"
"Yang kau lakukan bukanlah cinta, tapi obsesi."
"Bukankah obsesi berawal dari cinta? Takkan ada orang yang terobsesi dengan orang lain jika bukan karena cinta."
"Caramu sangat menjijikkan, itu sang--"
"STOP DADY!! STOP!" Violin berteriak sambil berdiri. "Okay, jika Dady ingin aku berhenti mengejar Mad. Aku akan berhenti. Berhenti dari apapun. Jangan harap aku akan mengenal Dady lagi."
Violin berjalan meninggalkan Gaston.
Brakk
Pintu apartemen ditutup begitu kencang. Gaston tak berniat menghentikan langkah putrinya. Kepalanya sangat pening. Ia memijit pelipis kepalanya.
"Ya Tuhan, jaga putriku."
Violin berjalan sepanjang lorong apartemen. Langkahnya terhenti didepan pintu lift. Jari lentiknya memencet tombol lift.
"Hai." sapa seseorang yang baru saja datang dan berdiri disebelah Violin.
Violin menoleh sekilas kearah pria yang menyapanya tadi.
"Hay." balas Violin dengan cuek.
"Ingin ke lantai bawah?" tanya pria itu mencoba basa basi.
"Ya."
Pintu lift terbuka, Violin dan laki-laki itu masuk. Jari Violin memencet tombol yang akan membawanya ke lantai dasar atau loby apartemen lebih tepatnya.
"I'm Javier."
"Violin."
"Good name. How old are you?"
"Tidak jauh beda denganmu."
"Ah, ya. Apakah--"
"Aku harus pergi." potong Violin saat pintu lift terbuka. Ia langsung berjalan menjauh dari lift. Ia juga mendengar teriakan Javier yang memanggilnya.
Violin berhenti. Ia menunggu sebuah taksi yang lewat. Tak lama kemudian, taksi berhenti tepat dihadapannya. Violin masuk kedalam taksi.
"Black room 961"
"Oke."
***
Mad, Verlyn dan Olivya sedang berada di dalam sebuah kamar. Mereka berdua sedang bersenda gurau satu sama lain. Olivya juga, ia mulai bisa melupakan kejadian kemarin yang hampir membuatnya mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dangerous Mafia
ActionOlivya adalah seorang gadis lugu yang masuk dalam kehidupan seorang mafia. Ia terserang oleh obsessi dan cinta dari mafia yang telah menculiknya. Trauma akan mafia, perlahan akan menghilang sejak ia mengenal sosok Madrick Vallencio yang menjabat seb...
