2.Orang Misterius

236K 8.5K 267
                                        

Italy, Milan

Olivya POV On

Sejak pertemuanku dengan Bryan waktu itu, aku dan Bryan lebih sering berkomunikasi membahas hal yang menurutku tak penting. Soal pesan dari orang yang tak dikenal kemarin, aku anggap hanya pesan dari orang iseng. Buktinya aku tak menyesal sedikitpun menerima pertemanan Bryan. Justru aku merasa senang, karena aku tak merasa kesepian seperti dulu lagi.

Saat ini aku sedang membaca novel yang aku beli kemarin. Oh ralat, lebih tepatnya dibelikan oleh Bryan. Aku duduk disofa balkon apartemen mewahku yang merupakan hadiah dari kepala panti asuhanku dulu. Sekarang aku sedang menikmati semiliran angin malam sambil ditemani coklat panas dan novel ditanganku. Sungguh nikmat dunia bagiku.

Aku menutup novelku lalu berdiri dari dudukku dan berjalan menuju pembatas balkon. Aku menatap keatas, dimana ada bulan bersinar dengan dikelilingi bintang-bintang yang juga menyinari malam ini. Sungguh indah. Aku tersenyum saat angin malam menerpa wajahku. Aku jadi teringat oleh Ibuku dan Kakakku, dimana saat kita bertiga berada ditaman belakang rumah sambil menatap indahnya bintang bertaburan.

Flashback On

Aku,Ibu,dan kakakku sedang bertiduran diatas rumput dengan alas kain. Saat ini kami sedang menatap indahnya langit malam dengan bintang yang menghiasinya.

"Olivya, jika suatu saat kakak dan ibu sudah berada diatas sana apa yang kamu lakuin?" tanya kakakku bernama Ranelly Macrime.

"Aku akan ikut kalian" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku pada bintang.

"Jika kami menghadap Tuhan sekalipun?" kali ini Ibuku yang bertanya. Nama Ibuku yaitu Orlan Macrime.

"Ya, aku akan ikut. Kalian adalah bagian dari hidupku, kemanapun kalian pergi aku akan ikut. Menghadap Tuhan sekalipun" jawabku dengan enteng.

Ranelly bangun dari tidurnya dan menatapku yang masih posisi terlentang.
"Tidak Olv, kau tak boleh ikut. Ada masa depanmu yang sedang menantimu, kau akan bahagia dengan suamimu kelak yang begitu menyayangimu" ucapnya penuh keyakinan.

Aku pun bangun dan duduk. Aku menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum.

"Tidak kak, kebahagiaanku hanya bersama kalian" balasku.

"Kau memang keras kepala Olv" ketus Kakakku dan kembali menidurkan badannya. Begitu juga denganku, ikut merebahkan tubuhku.

Entah mengapa perkataan kak Ranelly begitu nyata bagiku atau aku hanya sedang berhalusinasi.

"Oh ternyata kalian disini" itu adalah suara ayah, seorang ayah yang sangat pekerja keras walau terkadang gajinya tak cukup untuk kami makan. Tapi ayah bukanlah seorang yang pantang menyerah begitu saja dan ia rela tak makan hanya untuk Kak Ranelly dan Aku makan. Bahkan ia tak pernah mengeluh lapar. Pernah saat itu, aku terbangun tengah malam untuk mengambil minum, dan kulihat ayah sedang makan sisa makananku dan Kak Ranelly yang tak habis, aku merasa kasihan padannya, segitu besarkah rasa perhatiannya pada keluarga kecilnya? Sungguh aku sangat beruntung punya ayah sepertinya.

"Ayah? Sudah pulang?" Ibuku bangun dan menghampiri ayah yang berdiri didekat pintu yang menghubungkan taman belakang dan rumah.

"Dari tadi loh ayah panggilin, tapi tak satupun dari kalian yang merespon" ucap ayah dengan nada seperti ingin mewek.

"Kita lagi asik berbincang yah, jadi gk tau deh kalo ayah datang. Maaf ya yah" ucapku dengan senyuman unyukku.

"Tak apa, bukan masalah bagi ayah" balas ayah. Ayahku adalah seorang sopir bus umum, ayahku bernama Armon Macrime. Ayahku adalah putra bangsawan, namun Ibunya ayahku tak menganggap Ayahku sebagai anaknya lagi karena Ayah lebih milih ibu yang tak direstui ibunya daripada keluarga egoisnya dan harta.

My Dangerous Mafia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang