Olivya terbangun. Ia melihat langit-langit kamar yang bercat putih. Ia tahu ini kamar siapa, dari bau maskulin yang begitu khas menyambut indera penciumannya.
"Ssshh.." Olivya mendesis saat merasakan nyeri dikakinya. Ia mengingat kejadian yang membuat kakinya sakit. Ia merintikan airmata nya. Ia sangat trauma dengan suara tembakan dan kini ia menjadi korban tembakan.
"Hiks..." Olivya menangis. Nyeri hebat menyerang kakinya.
Olivya mencoba mendudukkan dirinya dengan bantuan kedua tangannya. Cukup sulit baginya karena harus menahan nyeri dikakinya. Setelah berhasil merubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia melihat dua gadis yang tengah meringkuk diatas sofa yang lumayan besar. Olivya tahu siapa gadis itu. Ia haus, namun tak tega membangunkan dua gadis itu. Dengan sekuat tenaga, Olivya meraih gelas yang berisi air diatas nakas. Tangannya gemetar saat hendak meraih gelas tersebut.
Pyarr
Suara pecahan gelas membuat Verlyn dan Violin terbangun. Ia mendapati Olivya yang tengah mencoba meraih gelas, namun justru membuat gelas tersebut jatuh. Verlyn pun tergesa-gesa menghampiri Olivya.
"Oliv, kenapa kau tak membangunkan aku jika butuh sesuatu?" tanya Verlyn dengan lembut.
"Aku tak ingin mengganggu tidur kalian." balas Olivya dengan lesu.
"Kau haus? Baiklah aku akan mengambilkanmu minum. Tunggu sebentar. Violin, tolong jagakan Olivya sebentar ya?" Violin mengacungkan jari jempolnya tanda setuju.
Verlyn melangkah keluar kamar.
"Bagaiman keadaanmu? Apakah sudah baikan?" tanya Violin.
Olivya masih sangat canggung dengan Violin. Ia pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Jangan malu padaku, aku akan dengan senang hati berteman denganmu." kata Violin, seakan tahu apa isi pikiran Olivya.
Verlyn pun kembali dengan membawa segelas air. "Ini, diminum." Verlyn menyodorkan gelas berisi air putih kepada Olivya. Olivya pun menerima gelas itu.
"Terima kasih" ucap Olivya dengan tulus. Verlyn berjongkok dan mulai mengambil satu persatu pecahan gelas untuk ia buang.
"Kenapa kau repot membersihkannya? Disini banyak pembantu kan?" tanya Violin.
"Mungkin kau terbiasa menyuruh orang lain, tapi aku tidak. Aku dari kecil selalu diajari oleh mama untuk melakukan hal apapun dengan mandiri tanpa bantuan orang lain selagi itu masih bisa kulakukan." ucap Verlyn melanjutkan aksinya.
"Mama? Apakah itu sebutan bagi seorang ibu?" tanya Olivya dengan bingung. Pasalnya, di negara ini lebih sering menyebut dengan sebutan Momy.
"Ya, di Indonesia banyak yang menyebut mama." balas Verlyn. Ia berdiri dan menuju tempat sampah untuk membuat sisa pecahan gelas.
"Aku jadi ingin bertemu Momy. Aku merindukan wajah Momy yang selama ini aku dambakan." ujar Violin dengan mimik cemberut.
"Kalau begitu, ikutlah ke Indonesia." ujar Verlyn.
"Benarkah? Kapan?" tanya Violin dengan antusias.
"Mungkin bulan depan." jawab Verlyn.
"Baiklah, aku ikut."
"Aku juga ingin tahu Indonesia." sahut Olivya. "lama aku tak keluar negara." sambungnya.
"Mintalah izin kepada Mad, jika dia mengizinkanmu, kau boleh ikut bersama kami." ucap Violin.
"Perlu kah aku meminta izin padanya? Apa hak dia?" tanya Olivya dengan jengkel.
"Karena dia yang peduli padamu." balas Verlyn.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dangerous Mafia
AcciónOlivya adalah seorang gadis lugu yang masuk dalam kehidupan seorang mafia. Ia terserang oleh obsessi dan cinta dari mafia yang telah menculiknya. Trauma akan mafia, perlahan akan menghilang sejak ia mengenal sosok Madrick Vallencio yang menjabat seb...
