27. Flashback

57.3K 2.5K 5
                                        

Aku berlari, terus berlari tanpa arah dan tujuan. Sesekali aku menengok ke belakang, suara derap kaki yang bersahutan semakin membuatku menambah kecepatan berlari ku. Aku terjebak, entah jalan apa yang ku lalui ini. Rasanya sepi dan hampir tak ada orang. Kanan dan kiri ku penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Aku menengok ke belakang, suara derap kaki itu semakin dekat, aku bingung. Kaki ini mengajakku pada sebuah tong besar yang berada hampir ditengah hutan. Sampai ku di depan tong besar ini, aku memasukkan tubuhku guna untuk bersembunyi. Aku menutup mulut ku. Suara kaki itu semakin dekat, apakah aku akan bernasib sama dengan kedua orang tua ku? Tidakkk, aku tidak ingin seperti itu. Masa depanku masih panjang.

"Sialan, dimana anak itu?" samar-samar ku dengar seseorang yang sedang mengumpat. Aku yakin, itu masih seseorang yang tadi mengejar ku.

Oh Tuhan, kenapa ini terjadi padaku? Kenapa? Kenapa tidak pada orang lain yang mampu menjalani ini semua? Aku menangis, ku sandarkan punggung ku pada dinding tong besar. Ku mengadah kan kepalaku melihat langit-langit sore hari. Mataku mengeluarkan banyak air mata. Bagaimana nasib ku hari ini jika aku berhasil ditangkap?

Aku terus meramalkan doa kepada Tuhan. Semoga, Tuhan memberikanku keselamatan. Sedikit samar-samar ku dengar suara derap kaki yang menjauh. Aku sedikit bernafas lega, aku berencana untuk mencari kedua orang tua ku.

Aku sedikit mulai berdiri dan mengitip sedikit dari dalam tong. Sepi, ku sempurnakan mengangkat tubuhku. Dengan tubuhku yang sedikit pendek ini, aku menjadi sedikit kesusahan untuk keluar dari dalam tong. Namun, bukan sangat sulit untukku, Dady ku pernah mengajariku untuk loncat tinggi dan aku berhasil. Kedua kaki ku telah menapak pada tanah dengan sempurna, ku edarkan pandanganku, jalan mana yang harus ku tempuh? Aku sama sekali tak tahu jalan ini. Heh, jalanan macam apa ini? Sepi sekali. Aku mengusap sisa air mata yang hampir mengering di pipi ku. Kaki ku mulai berjalan kemana angin membawaku. Tak heran jika aku berjalan lebih dalam lagi kearah hutan. Aku harus minta tolong kepada siapa lagi? Jikalau aku menyerahkan diriku pada mafia yang mengejar ku tadi, aku takkan bisa menyelamatkan kedua orang tua ku. Ya aku tahu, di umur ku yang menginjak empat belas tahun ini, akan kecil peluang untuk melawan seorang mafia. Dady ku sendiri seorang mafia, tapi ia bukanlah seorang mafia yang kejam ataupun jahat. Dady ku adalah mafia yang digemari banyak orang, termasuk aku dan momy ku. Dady juga tak keberatan jika harus menolong seseorang yang memang harus di tolong. Mafia sebagai jabatannya, karena Dady suka sekali membunuh seseorang yang suka mencari masalah dengan Dady. Istilahnya Jangan kau ganggu macan yang sedang tidur, jika ia bangun karena mu, nyawa sebagai ganti permohonan maaf. Itulah yang sering kali Dady katakan padaku.

Aku menoleh ke belakang, kabut putih menutupi separuh jalan, matahari mulai tenggelam. Bukan cerita horor atau mistis, tapi hanya cerita seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun yang berjalan sendirian di hutan yang sepi tanpa senjata. Aku berhenti, aku melihat dari kejauhan sebuah rumah yang minimalis dengan cat warna abu-abu yang hampir semua mengelupas. Rumah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan mansion milik Dady. Tanpa ragu, aku berjalan kearah rumah minimalis itu. Siapa tahu, aku akan mendapatkan bantuan disana. Setidaknya secuil makanan dan tidur sehari. Walau untukku masih sangat susah untukku untuk tinggal di tempat kumuh seperti itu, namun mau bagaimana lagi? Aku tak ingin mati konyol dengan dimakan hewan buas disini.

Langkahku semakin dekat, ya, mendekati rumah minimalis itu. Pintunya tertutup, aku berjalan kearah jendela. Mengintip isi dari dalam rumah itu. Rumahnya sangat rapi, namun bagian luarnya saja yang begitu. Aku tak percaya, rumah minimalis yang sudah ku nilai buruk, isi dari dalam rumah itu sangat rapi. Tanpa menunggu lama, aku mengetuk pintunya. Cukup lama aku mengetuk, kaluarlah seorang wanita paruh baya dengan menggunakan celemek. Sudah dapat diduga, pasti ia usai memasak atau memang sedang memasak. Wajah wanita paruh baya ini sangat ramah, tak kulihat sedikitpun ke galakan dari dalam dirinya.

My Dangerous Mafia Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang