15. Terungkap Seorang Mad.

74.2K 3.8K 70
                                        

Mad senantiasa duduk disebelah Olivya yang tengah berbaring. Ia menatap lekat wajah pucat gadisnya. Rasanya begitu tak tega melihat gadisnya yang tengah melawan rasa sakitnya. Tertembak memang bukan luka kecil, apalagi mengeluarkan peluru harus dengan dokter ahlinya.

Mad memegang tangan Olivya. Dingin, itulah yang ia rasa saat menggenggam tangan Olivya. Telapak Mad satunya bergerak menyisikan rambut Olivya yang hampir menutupi wajah cantiknya. Ingin sekali Mad mencium habis bibir ranum milik Olivya. Dengan perlahan, Mad memajukan kepalanya hingga nafasnya menyapu permukaan wajah Olivya. Dengan pelan, Mad berhasil mencium bibir ranum Olivya. Hanya kecupan, ia tak ingin gadisnya terbangun hanya karenanya. Mad menarik kepalanya, ia tersenyum. Walau dengan kondisi Olivya belum sadar karena efek obat bius, Mad berhasil mencuri first kiss gadisnya.

Tok tok tok

"Masuk!" ucap Mad pada orang dibalik pintu.

Seseorang yang mengetuk pintu pun masuk dengan menenteng plastik putih yang berisi obat.

"Tuan, ini obatnya nona Olivya." ucap anak buahnya.

"Letakkan diatas meja dan keluarlah." balas Mad. pria tersebut pun menuruti perintah Mad. Setelah meletakkan obat, Pria itupun melenggang keluar.

Mata Mad tak sedikitpun beralih pada wajah Olivya. Hingga suara deringan ponsel berbunyi menggagalkan Mad yang sedang menikmati wajah damai Olivya. Mad mengambil ponselnya didalam saku celananya. Ponsel yang elegan berlogo apel digigit dengan warna yang ia sukai yaitu hitam. Mad membaca sebuah pesan yang dikirim oleh salah satu anak buahnya. Mad melangkah keluar kamar, Ia segera menuju ruang tamu. Mad menggulung lengan kemejanya hingga kesiku. Menuruni anak tangga dengan lincah.

Saat sampai diruang tamu, Mad mendapati dua orang pria. Yang satu bersetelan jas elegan, Mad tahu pria itu kaya, namun tak sebanding dengan kekayaannya.

"Selamat siang Mad, apakah aku mengganggu harimu?" tanya Pria bersetelan jas mahal itu dengan angkuh.

"Sangat mengganggu!" balas Mad dengan dingin. Mad duduk disofa besar yang hanya dikhususkan untuknya. Siapapun tidak ada yang boleh duduk disana.

"Apakah tidak ada secangkir kopi untukku?" tanya Pria itu.

"Apakah kau miskin? Sehingga tidak mampu membeli secangkir kopi?" cibir Mad.

"Ah sepertinya kau lupa siapa aku--"

"Untuk diingat pun itu tidaklah penting." potong Mad.

"Baiklah, Tuan Madrick Vallencio yang terhormat, apakah kau sudah menyiapkan pistol yang aku pesan?" tanya Warmon dengan santai.

Mad menyunggingkan senyuman, "Tentu saja sudah."

"Bisa kulihat pistolnya?"

"Tentu. Gaston!!" Mad memanggil Gaston dengan suara lantangnya. Gaston sudah berdiri didepan Mad.

"Iya tuan?" tanya Gaston dengan sopan.

"Ambilkan pistol yang sudah kusiapkan untuk dia." ucap Mad.

Gaston mangangguk lalu pergi dari hadapan Mad.

"Apakah aku harus menunggu lama?" tanya Warmon.

"Sepertinya kau takkan kembali ke rumahmu." balas Mad.

"Apa maksudmu?" tanya Warmon dengan sinis.

"Aku hanya bercanda, tenang saja."

***

Olivya terbangun dari tidurnya. Ia melihat langit-langit kamar yang putih. Bau maskulin yang khas dalam kamar ini, membuatnya tahu ini kamar siapa. Olivya mencoba bangun, tiba-tiba rasa nyeri menjalar dikakinya.

My Dangerous Mafia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang