23. Don't Leave Me

80.6K 3.5K 143
                                        

Olivya keluar dari kamar mandi dengan perasaan gugup dan campur aduk. Ia menundukkan kepalanya malu. Mad yang melihat gadisnya baru keluar dari kamar mandi dengan menunduk, ia mengangkat wajah Olivya. Mad menahan tawa saat melihat rona merah pada pipi Olivya.

"Malu heh?" goda Mad.

Olivya menepis tangan Mad. Ia berjalan tertatih untuk menjauh dari Mad, lebih tepatnya menyembunyikan rona merah di pipinya.

Mad yang melihat itu, ia langsung menggendong tubuh kecil Olivya ala bridal style.

"Aku nggak mau tertawa karena melihat kau akan jatuh." gumam Mad.

"Ish, aku nggak akan jatuh."

Mad meletakkan tubuh Olivya diatas kursi roda. Mad berjongkok didepan Olivya. Kedua telapak tangan besarnya menggenggam tangan Olivya. Tangan satunya ia lepas untuk merapikan anak rambut Olivya yang hampir menutupi wajahnya.

"Dengar ini sayang. Kau akan tetap menjadi milikku, selamanya milikku. Aku takkan melepaskan mu begitu saja. I'm yours and you mine. Aku mencintaimu tulus. Kau ingat sesuatu?"

Olivya menggeleng pelan tanda tak tahu.

"Biarkan aku bercerita. Dulu, saat usiaku tujuh belas tahun, aku tinggal oleh orang tua ku. Dan aku sudah menjadi mafia termuda saat itu. Ditinggal orang yang kita sayangi memang sangat berat untuk kita, dan terkadang kenangan masih melekat indah. Bukan itu yang ingin ku ceritakan. Saat di pagi hari, aku berjalan untuk menenangkan diri. Menjadi mafia muda memang sangat berat untukku saat itu. Aku berjalan-jalan disebuah taman yang indah. Hampir saja pikiran ku tenang saat itu, tapi sepertinya Tuhan tidak membiarkan hal itu terjadi padaku. Aku mendengar isak tangis seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. Aku mencari suara tangis gadis itu.

Setelah aku menemukan pemilik suara tangis itu, betapa kagetnya aku saat menemukan seorang gadis kecil yang mungil, putih, dan rambut yang panjang sepunggung. Aku menghampiri nya, saat ia melihatku, aku terkejut lagi. Aku terpesona dengan mata indah gadis itu. Apalagi ditambah bulu matanya yang lentik. Saat kutanya mengapa gadis cantik itu menangis, ternyata ia memiliki kesedihan yang sama denganku. Orang tuanya meninggal dunia. Aku turut berduka saat itu.

Namun, tak lama, segolongan anak nakal datang dan melempari ku batu dan mengenai kepalaku hingga berdarah. Namun, gadis mungil ini sangat pemberani, ia mengancam anak nakal ini dengan membawa balok kayu dan anak nakal itu pergi. Lalu, gadis mungil ini juga memberikan sweaternya untuk menutupi luka di kepalaku yang berdarah. Dia mengajakku ke sebuah panti dan menyuruhku untuk duduk di bangku panti dan ia masuk kedalam panti. Tak lama, ia keluar dengan membawa P3K. Dia mengobati luka di kepalaku dengan sangat telaten. Ia mem-perban kepalaku, ya.. walaupun sedikit kurang rapi, tapi aku menerimanya. Setelah itu aku pamit pulang dan dalam jauh, aku terus memperhatikan gadis mungil itu hingga sekarang."

Olivya yang mendengar cerita dari Mad sedikit tak asing. Ia mendengarkan tanpa terlewat sedikitpun dari telinganya.

"Ceritamu persis dengan ceritaku. Dan pria yang kutemui sepuluh tahun yang lalu namanya persis denganmu. Madrick." ujar Olivya.

"Oh, ya? Kita punya kisah yang sama dan itu benar terjadi adanya."

"Apa jangan-jangan kau juga laki-laki yang kutemui sepuluh tahun yang lalu?" tanya Olivya dengan antusias.

Mad mengangguk.

Olivya menutup mulutnya tanda tak percaya.

"Benarkah itu dirimu? Dan apa kau juga yang mengamatiku selama ini?"

Mad mengangguk lagi.

"Dan...." Olivya menggantungkan ucapannya.

"Apa kau juga yang membelikan-ku sebuah apartemen, ponsel dan transferan yang selama ini aku terima?" lanjut Olivya.

My Dangerous Mafia Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang