Milan, Italy 07.30 A.M
Olivya berjalan tergesa-gesa masuk kedalam Universitas. Ia lupa jika hari ini dia akan ada presentasi. Dijalan pun, pak sopir mengeluh jika sakit perut, mengharuskan ia dan pak sopir harus mampir terlebih dahulu ke toilet umum yang berada di pom bensin.
Saat sudah sampai didepan kelas, Olivya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan. Tangannya yang sudah memegang handle pintu segera mendorong pintu itu hingga terbuka. Banyak pasang mata yang menatapnya, termasuk guru killer yang bernama Yoseline itu.
"Maaf bu, saya terlambat." ujar Olivya dengan sopan dan ramah.
"Apa kamu bilang? Maaf? Gara-gara kamu, kita menunda presentasi. Kamu tahu kan jika hari ini adalah giliran mu untuk presentasi?" tanya Yoseline dengan nada tinggi, lebih tepatnya membentak.
"I-i-iya, bu. Ingat."
"Hm, lalu.. kenapa telat? Melayani bapak-bapak dulu?"
Olivya mengangkat kepalanya, ia menatap tak percaya dengan ucapan Yoseline.
"Tidak bu. Saya tidak serendah itu." elak Olivya dengan mata yang sudah memanas.
"Bohong itu, jelas-jelas dia dekat sekali dengan seorang mafia kejam itu. Gak malu apa? Selisih umurnya sepuluh tahun. Cih." teriak salah satu gadis. Olivya menatap gadis itu, ia mengerutkan dahinya.
Caryn? batin Olivya dengan bingung.
Olivya berjalan kearah Caryn. Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan, Ia menggebrak meja Caryn hingga membuat si empu dan seluruh kelas terkejut.
"Tutup mulutmu. Kau menyebar fitnah yang tak kau ketahui faktanya." ujar Olivya dengan geram.
"Tentu saja aku tahu, mafia mana yang tak haus akan seorang gadis kecil sepertimu? Kau tak laku kah hingga beralih ke bapak-bapak? Kasihan." sindir Caryn.
Plak.
Olivya menampar pipi Caryn. Tidak keras, hanya sebatas layangan.
Plakk
Olivya memegang pipinya yang terasa panas. Yoseline menampar Olivya dengan kekuatan penuh. Terasa nyeri dan panas, itulah yang dirasakan oleh Olivya di pipi nya yang usai ditampar. Air matanya lolos begitu saja.
"Berani sekali kau tampar ponakan tersayang ku hah?!" desis Yoseline.
Olivya mengangkat wajahnya. Ia menatap tajam Yoseline dengan mata yang sudah merah akibat air mata.
"Oh, jadi ini ponakan anda? Pantas, kelakuan dan mulutnya sama. Sama seperti cabai."
"Akhh.." ringis Olivya saat rambutnya ditarik kuat oleh Yoseline. Air matanya sudah mengguyur deras di pipinya. Olivya memegang tangan kanan Yoseline yang sedang meremas kuat rambutnya.
"Coba katakan sekali lagi."
"Bu!! Anda melakukan kekerasan, bisa saya laporkan." teriak Carson dari belakang. Ia tak tahan melihat kejadian memalukan ini bagi Olivya. Dimana posisi Olivya yang terpojokkan. Carson juga tak tega melihat kondisi berantakan Olivya saat ini.
Yoseline melepaskan remasan nya pada rambut Olivya dengan kasar. Olivya meringis kesakitan. Carson berjalan mendekat kearah Olivya, ia mengajak Olivya untuk menuju UKS yang tersedia. Carson menidurkan Olivya diatas ranjang, ia juga membuatkan Olivya teh hangat.
"Apakah masih nyeri?" tanya Carson dengan gejurat kekhawatiran.
"Tidak." balas Olivya dengan bohong. Jelas-jelas nyeri di pipi kanan dan kulit kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dangerous Mafia
AksiOlivya adalah seorang gadis lugu yang masuk dalam kehidupan seorang mafia. Ia terserang oleh obsessi dan cinta dari mafia yang telah menculiknya. Trauma akan mafia, perlahan akan menghilang sejak ia mengenal sosok Madrick Vallencio yang menjabat seb...
