6.4K 223 2
                                        


"Kantin yuk laper banget gue,gara-gara istirahat pertama ga kekantin,jadi kek gini deh nasib gue" melas Dania,mereka berlima memang tidak ke kantin waktu istirahat pertama,karna mendengar ada yang berantem sama anak Wolves,dan untungnya itu bukan Zidan ataupun Arka.

"Iya nih,gue juga laper banget,ntar kalau gue sakit gimana? Ga ada yang ngawasin Kak Arka dong"lanjut Isna,dipikirannya hanya ada Arka,Arka dan Arka.

"Arka mulu otaklu"

"Hei Zid suka-suka gue dong,otak otak gue juga,ngapain lu ga suka" balas Isna pada Zida

"Terusin aja berantemnya,gue sama Vava mau ke kantin"

Kavita berdiri dari tempat duduknya,diikuti Vava.
Yang lain juga mengikuti dari belakang.

"Tunggu bentar" ucap Zida memberhentikan teman-temannya.

"Kenapa?" Tanya Kavita

"Itu kaki Lu kenapa Va? Ga sakit emang?" Zida menunjuk kaki bagian Vava yang sedikit lebam.

"Gapapa" balas Vava singkat

"Jangan ngomong karna Nadia juga"ucap Isna

"Gue yakin seyakin yakinnya kalau itu pasti perbuatan Nadia,ya kan? Jangan ada yang lu sembunyiin"lanjut Dania

"Tadi waktu jatuh kaki gue ga sengaja kena kursi yang ada didepan kelasnya,cuma dikit doang kok"

"Dikit tapi sakitkan? Gue dari awal lu masuk kelas udah tau kalau jalan lu ga normal,tapi gue diem,karna gue pengen lu cerita dengan sendirinya,tapi malah diem,coba Zida ga ngomong,pasti ga bakal ketauan kek gini kan?!" Kesal Kavita,ia tau Vava tak akan menceritakannya jika tak dipaksa.

Vava mengangguk,memang kakinya sakit. Saat istirahat pertama ia membujuk temannya agar tak kekantin karna alasan ada yang berantem,karna ia tak kuat jika harus berjalan jauh.

"Kita obatin ke uks dulu" ucap Kavita

"Gausah Kav,tadi udah gue kasi betadine waktu pelajaran. Kasihan Isna sama Dania juga yang udah kelaperan kaya kucing" Kavita melirik Mereka berdua,dan benar muka mereka sudah sedikit pucat,ia yakin pasti karna nahan laper.

"Lu yakin?" Kavita menyakinkan. Dibalas anggukan oleh Vava.

Kavita menggandeng tangan Vava agar memberi sedikit kemudahan saaat berjalan,ia tak mau sahabatnya ini memaksa kan diri.

Sedangkan Isna dan Dania berada di depan mereka,dan Zida disamping Vava sesekali membantunya.

"Duduk dipojo aja ya,gue pesenin kata biasa gimana?" Ucap Isna yang dibalas anggukan oleh sahabatnya.

"Bantuin gue Zid" Zida mengangguk.

Yang lain pun duduk ditempat biasanya.

....

Dari tempat duduknya,Arka memperhatikan Vava,tangannya selalu digandeng oleh Kavita,jalannya ga seperti biasanya.

"Kayaknya adek lu sakit tuh Dan" ucap Ares kepada Zidan.

"Iya tuh,gak lu samperin? Tanya in gitu" lanjut Priya.Zidan hanya diam memperhatikan adek kesayangannya itu. Jika ia mendekat Vava pasti akan marah,sebab Vava tak ingin banyak siswa yang tau kalau mereka adek kakak,hanya beberapa siswa saja yang tau hal itu.

Itu karena jika banyak yang tau,pasti akan ada banyak cewek yang akan berlomba-lomba untuk menjadi temannya,agar mudah mendekati Zidan.

Arka menoleh ke arah Zidan,ia masih diam menatapi adeknya. Arka menyenggol tangan Zidan yang ditaruh diatas meja tempat mereka duduk. Zidan menoleh ke arah Arka,Arka mengangkat sebelah alisnya,Yang dibalas dengan angkatan bahu oleh Zidan.

ARKA & VAVATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang