15. Gang sempit

6.5K 266 0
                                        

Happy Reading:*

Malam malam Pelangi sedang berjalan menuju fotocopy didepan gang rumahnya yang cukup jauh, ia berjalan sebab Abangnya tidak mau mengantarnya. Bumi malah asyik bermain Play station.
Sebenarnya ia berniat fotocopy kemarin, namun ada teman temannya yang menginap di rumahnya, dan kelupaan, akhirnya sekarang ia berjalan sendirian ditepi gang.

Ia menundukkan kepalanya kebawah karena takut.

"Eh ada neng cantik, malam malam gini gak boleh Kluyuran loh," Tiba tiba ada sekitar 5 orang laki laki remaja menggunakan jaket yang sama, sepertinya mereka termasuk anggota geng.

Pelangi pun mendongakkan kepalanya karena kaget, karena tak biasanya seperti ini.

"Abang anterin ya, neng," satu dari mereka ikut membuka mulut.

"Jangan lah bos, nanti kau bawa kemana mana lagi," sahut yang lain lagi.

"Jangan ganggu gue!" Entah dorongan dari mana, Pelangi bisa berucap seperti itu. Ia juga ingin pergi, namun dikepung.

"Eh cantik cantik kok galak!"

"Jual mahal banget neng,"

"Udah bos, bawa aja ke markas,"

"Bagus juga ide lo,"

"Ayo ikut gue!" ujar seseorang yang dipanggil bos oleh yang lain, mungkin bosnya, ia menarik paksa tangan pelangi.

Pelangi meronta tinta melepaskannya namun nihil, tak bisa. Ia berharap Abangnya akan datang saat ini juga, kalo tidak Abangnya, orang lain juga boleh lah, Pelangi sangat butuh bantuan kali ini.

Bugh

Tiba tiba ada tinjuan mentah mentah dari seseorang pada orang yang menarik tangan Pelangi tadi, lantas orang itu pun terjatuh namun ditolong oleh kedua temannya.

"Ooo ada pahlawan kesiangan ternyata," ujar orang itu.

"Kesiangan mata lo! Malem gini, dikata siang, buta lo?" ujar seseorang yang berusaha melawan rombongan itu, dia adalah Bintang Angkasa.

"Pelangi! Minggir! Sini ke belakang gue! Dan kalian semua, jangan pada bacot! Ayo maju kalo berani!" lanjutnya pada Pelangi.

Pelangi sontak langsung berlari ke arah Bintang.

Setelah itu, Bintang langsung memukuli kelima orang itu.

"Pergi kalian, bangsat!" teriak Bintang sudah kesetanan seperti monster.

Kelima orang itu langsung tergesa-gesa pergi dari tempat itu.

"Lo gak apa apa kan?" tanya Bintang pada Pelangi.

"Gue gak papa, lo yang kenapa kenapa," Omel Pelangi.

"Makasih, gue pikir tadi gue udah gak ada yg nolongin lagi," lanjutnya.

"Gue tadi gak sengaja liat," ujar bintang.

"Itu di sudut bibir lo berdarah," ucap Pelangi dengan sedikit meringis.

Sontak Bintang langsung memegangi sudut bibir nya yang berdarah, mungkin karena tinjuan salah satu dari mereka tadi.

"Ayo, ke rumah gue aja, gue bersihin luka lo," ajak pelangi pada bintang.

"Bentar, lo tadi mau kemana?" tanya bintang.

"Oh iya mau fotocopy, sampe lupa!" ujar pelangi sambil menepuk jidatnya.

"Ayo, gue anter lo dulu," jawab Bintang.

"Eh tapi muka lo babak belur gitu, gue obatin muka lo dulu, ayo pulang," ujar pelangi balik kebelakang untuk balik ke rumahnya namun tangannya ditarik oleh bintang.

"Ayo naik! Gue anterin dulu," ujar Bintang.

"Pulang dulu!" tolak pelangi mentah mentah.

"Naik sendiri apa gue gendong?" ujar Bintang, mengancam lagi, membuat Pelangi pasrah menurutinya.

"Dasar keras kepala!" maki pelangi.

"Lo juga sama, gausah ngatain," jawab Bintang.

Setelah pelangi fotocopy bersama Bintang, mereka pun menuju rumah pelangi.

"Eh kenapa, Tang?" Tanya Bumi diruang keluarga melihat Pelangi datang bersama Pelangi bersama
Bintang dengan wajah babak belur.

"Tadi gue dikepung ama preman! Lo gak nganterin gue jadi kek gini! Gue tadi dikepung ama preman! Untung ada Bintang!" ujar pelangi mengomel panjang lebar.

"Iya-iya, mending lo obatin Bintang sana! Kasian dia!" ujar Bumi.

"Ngalihin pembicaraan,"  cibir Pelangi langsung melangkahkan kakinya untuk mengambil kotak obat.

"Emangnya beneran, Tang?" tanya Bumi memastikan.

"Beneran bang, tadi Pelangi dikepung sama anak anak silver," ujar Bintang.

"Kok bisa? Emang silver udah dibangun lagi?" tanya Bumi bingung.

"Udah kali bang, gue tadi liat jaketnya sama semua, sama persis kayak jaket silver tahun lalu," ujar Bintang.

"Emangnya siapa ketuanya?" tanya Bumi lagi.

"Mungkin si Bayu, anak kelas 11 sma Cakrawala, musuh gue dulu waktu SMP," ujar Bintang.

Bumi hanya mangut mangut mendengarnya.

"Dan untung nya gue tadi gak pakek jaket golden bang, coba aja kalo gue make terus dia tau kalo gue ketua golden, pasti Pelangi juga ikut diincer, kan gue tolongin tadi," ujar Bintang.

"Iya juga, lo hati hati aja, dia kalo nyerang suka mendadak,"  jawab Bumi.

"Stop dulu bicaranya!!! Gue mau ngobatin Bintang," ujar pelangi yang datang dengan membawa p3k.

"Iye iye, berasa obat nyamuk gue anjir," celetuk bumi.

"Emangnya lo pikir gue ama Bintang ngapain?" ujar pelangi sirik.

"Gak gak gak, udah lanjutin sono ngobatinnya," ujar bumi lalu melanjutkan bermain play Station nya.

Setelah Pelangi mengobati Bintang, ia pun pamit pulang.

"Gue udah boleh pulang kan?" tanya Bintang.

"Boleh lah, yakali aja lo nginep disini," jawab Bumi.

"Yoi laahh, kalo gitu gue pulang dulu, Pel, bang!" Bintang berpamitan.

"Lo kira gue pel pelan apa lo panggil gitu?" ujar Pelangi tak terima.

"Gapapa, penting cantik! Dahlah gue pulang dulu," ujar Bintang lalu pergi dari rumah pelangi.

"BINTANG SETAN!!!"

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

*SEE YOU NEXT STORY:*

BINTANG (GOLDEN) [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang