47. Tanda-tanda?

4.7K 243 9
                                        

Happy Reading:*

Elang menghentikan motornya didepan cafe dekat sekolahannya.
Ia turun dari motornya diikuti oleh Bintang.
Bintang sendiri juga bingung, mengapa Elang mengajak nya kesini? Ia mengerutkan dahinya.

Elang yang melihat Bintang kebingungan hanya tertawa pelan. "Udah ikut aja! Ayo masuk," ucapnya lalu masuk kedalam cafe tersebut diikuti oleh Bintang.

"Tumben lo. Ngapain kesini? Biasanya juga gue yang ajak, ketemuan sama cewek?" ucap Bintang ketika mereka sudah duduk.

Bintang bertanya seperti itu karena tak biasanya Elang kesini. Biasanya dia kesini hanya kalau Bintang yang mengajak atau jika hanya dengan keempat temannya yang lain.

"Lo yang kenapa? Cerita," jawab Elang. Bintang cukup terkejut namun tetap menampakkan wajah datarnya.

"Cerita apaan?" ujar Bintang.

"Gue gak bego kali, kita udah temenan lama lagi, Tang. Gue tau lo ada masalah," ucap Elang.

"Masalah apa coba? Ada-ada aja lo," jawab Bintang tetap mengelak. Bukannya ia tidak mau memberi tahu Elang tentang masalahnya, tetapi ia tidak mau membebani sahabatnya yang satu ini.

"Udah jangan ngelak terus! Lo itu kalau ada masalah cerita napa! Jangan pendem sendiri! Lo dulu yang selalu ngajak gue ke cafe ini kalo gue ada masalah. Sekarang gue balik ke lo," cetus Elang.

"Gak ada masalah apa-apa gue," ucap Bintang masih saja bersih keras tidak mau berbagi ceritanya.

"Yakin lo? Gue tanya Pelangi aja, jelas ada hubungannya dengan pacar lo itu," Ancam Elang dan ia langsung berdiri pura pura mau pergi dari cafe itu.

Bintang juga langsung ikut berdiri mencegah Elang dengan menarik bajunya.

"Iye-iye! Gue cerita, tapi jangan cerita semua ini ke Pelangi," ucap Bintang dengan menghembuskan nafasnya pasrah.

Elang pun tersenyum lalu duduk kembali. Memang sangat gampang membujuk Bintang, hanya dengan membawa nama Pelangi.

"Kayak sama siapa aja lo. Cepet!" ucap Elang tak sabar.

Bintang menghembuskan nafasnya panjang.
"Tadi malem waktu di margol, Ananta bilang ke gue, kalo dia jatuh cinta sama gue," ucap Bintang.

"Hah?" ujar Elang dengan cukup keras.

"Anjirt lo! Pelanin dikit suara lo napa!" cibir Bintang dengan melirik ke sekitarnya pada orang-orang yang sudah menatap kearah Elang dan Bintang.

"Eh eh beneran, Tang? Masa iya, si Ananta suka sama lo? Kan dulu kita bertiga janji gak bakal bawa perasaan lebih antara satu sama lain," ujar Elang.

"Beneran, gue juga bingung, kok bisa Ananta suka sama gue?" ujar Bintang.

"Lo ganteng, sih! Terus si Pelangi mau lo kemana in?" ujar Elang masih sempat-sempatnya buat bercanda.

"Gue tetep setia ke Pelangi. Sebenernya Ananta minta gue putus sama Pelangi, kalo gue gak putusin si Pelangi, dia bakal buat cara licik, minta bantuan si Bayu. Lo kan tau kalo gue, Ananta, sama Bayu dulunya temenan. Meskipun gue udah gak sekarang, tapi si Ananta masih deket dengan Bayu," ujar Bintang.

"Anjir beneran? Bahaya juga tuh cewek! Wagelaseh! Kita liat aja dulu bro gimana cara permainannya? Kalo udah keterlaluan baru turun tangan, si Bayu mah kecil!" jawab Elang.

"Gue takutnya si Ananta bakal apa-apa in si Pelangi," ucap Bintang.

"Iya juga sih, Ananta bisa lebih bahaya dari pada Sonya," cetus Elang.

BINTANG (GOLDEN) [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang