17

10 1 0
                                    

Again! Guys, coba tebak coba tebak!! Visual siapa yang aku bawa? Visualnya anna, atau viana, atau dara, atau salsa, atau mungkin orang lain.... Tunggu kelanjutannya ya!!


Back to story

Juna menyetir mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesekali menengok pada yuna yang sudah kehilangan setengah dari kesadarannya, juna sangat-sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada yuna.

Setahunya yuna hanya menium satu gelas yang ukurannya tidak terlalu besar, tapi sepertinya minuman itu memiliki kadar alkohol yang lumayan tinggi.

"Arghh!! Sialan, gue benci sama lo aril-!!!"

"Kenapa lo baru nyatain perasaan lo ke gue pas, lo udah jadi milik salsa?!"

"Padahal gue suka banget sama lo aril-!!" yuna mulai melantur ngomongnya, juna hanya menatap yuna khawatir.

"Juna! Lo juna kan?" yuna menunjuk juna.

"Gue bingung sama perasaan gue pas lagi bareng sama lo rasanya bahagia banget!!" mendengar hal itu rasanya juna sangat senang tapi akan lebih senang lagi saat yuna sedang dalam keadaan sadar, sedikit kecewa tapi tak apa juna memaklumi lagian ini juga bukan kesalahan yuna sepenuhnya.

"Gue suka sama lo!"

"Gue nyaman sama lo!"

"Argh!!"

"Juna lo tuh ganteng bangett!!!" yuna berteriak sebelum akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri.

Baper. Tentu saja, juna memendam perasaannya pada yuna tapi ia segera menepis perkataan yuna karena ia paham yuna mengucapkan itu dalam keadaan tak sadar, ucapannya ngelantur dalam keadaan mabuk itu biasa terjadi saat seseorang sedang mabuk.

***

Juna segara menggendong yuna ala bridal style masuk ke dalam apartemennya.

Tentang kenapa juna membawa yuna ke apartemennya adalah, karena saat dalam perjalanan ia tak bisa berfikir jernih yang ada di dalam fikirannya hanyalah tentang kekhawatirannya pada yuna.

Saat sadar bahwa ia membawa yuna ke tempat yang salah ia segera menelpon adiknya yuna mengabari bahwa kakaknya akan menginap di rumahnya, dari pada harus memutar arah menuju rumah yuna yang pasti akan sangat memakan waktu lebih lama jadi juna akhirnya tetap membawa yuna ke dalam apartemennya.

Juna membaringkan yuna di atas kasurnya, untung saja apartemennya memiliki dua kamar jadi ia tidak perlu khawatir jika nantinya akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

Juna mengusap surai hitam lembut dan wangi milik ayuna. "Maafin gue ga bisa jagain lo, selamat malam." setelah mengatakan itu juna mematikan lampu tidur yang berada di atas nakas samping ranjang lalu berjalan keluar kamar dan menutup pintu.

Juna tidak pergi ke kamar untuk tidur, melainkan duduk di ruang tv yang memiliki kaca luas menghadap langsung pada pemandangan indah di malam hari.

Juna teringat perkataan papanya yang membuat ia pergi dari rumah dan membuat mamanya menangis, ada rasa tidak tega saat melihat wanita yang ia sayangi meneteskan air matanya hanya karena kelakuan papanya yang keterlaluan, bukan hanya sang mama yang menangis tapi sang adik juga.

Flashback on

Juna baru saja keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah, tapi langkahnya terhenti saat melihat adiknya atau viana keluar dari ruangan kerja sang papa sambil menangis dan memegangi pipinya.

Juna ingin menghampiri viana ke dalam kamarnya tapi juna kalah cepat dengan viana yang sudah menutup dan mengunci dari dalam pintu kamarnya. Akhirnya juna melangkah ke arah ruangan kerja ayahnya, bisa di lihat ayahnya yang nampak membereskan sebuah pecahan kaca dari figura foto dirinya dan anak pertamanya.

My Dimple Girl (THE END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang