Di dalam mobil sampai satu jam perjalanan yuna tetap sama, ia masih marah kepada juna, namun hal itu justru membuat juna senang ketika melihat wajah yuna yang cemberut dan menatapnya tajam itu justru menggemaskan.
Tapi jika lama kelamaan keadaan hening, yuna hanya bungkam tidak bereaksi, itu jusrtu membuat juna bosan dan merasa bersalah. "Yuna udah dong ngambeknya."
Tidak ada jawaban dari yuna, mereka masih berada di dalam mobil. "Udah sampe masa masih cemberut?"
Sikap acuh yuna membuat juna frustasi, ia mengakui kesalahannya tapi ini juga demi kebaikannya, toh lambat laun semuanya akan terbongkar. "Yuna gue ngajak lo kesini buat lepas rindu gue, bukan malah di cuekin gini.."
Kini yuna menatap juna. "Gue ga suka lo ingkar janji..!"
"Astagaa yuna..." juna mendasah panjang nama yuna menyandarkan kepalanya pada jok mobil pengemudinya, mengusap wajahnya gausar.
"Mau sampai kapan lagi sih, toh lambat laun semuanya akan tau tentang hubungan kita.."
"Tapi ini bukan saatnya jun.."
"Terus kapan? Mau nunggu lo sama gue putus dulu baru lo kasih tau iya?!" jujur yuna sakit mendengar itu. "Sebenernya lo nanya gue serius apa engga sama hubungan kita atau ternyata lo yang ga serius?"
"Gue serius na..."
Kini juna menatap mata yuna yang mulai berkaca-kaca. "Terus kenapa lo larang semua orang tau soal hubungan kita, bahkan orang tua kita yang wajib tau aja ga di bolehin, lo sebenernya serius atau cuman main-main yun?"
Gagal sudah pertahanan yuna yang berusaha kuat di hadapan juna, air matanya mengalir membasahi wajahnya yang cantik. Karena tidak tega juna pun merengkuh tubuh yuna masuk ke dalam pelukannya, ia tau ia salah karena telah membuat yuna menangis tapi ini memang harus karena ia jengah dengan tingkah yuna yang menyembunyikan hubungannya dari semua orang, hal itu memang di setujui oleh juna tapi tidak dengan hatinya yang bertolak belakang dengan mulutnya.
"Maafin gue, gue cuman ga mau ada masalah yang bikin kita berpisah jun, gue takut.."
Mendengar suara serak yuna membuat hati juna sungguh teriris. "Selama ada gue lo ga perlu takut yun, lo harus percaya sama gue, gue akan selalu lindungin lo.."
Juna melepaskan pelukannya menangkup wajah yuna lalu mengusap air matanya yang masih mengalir bebas. "Jangan nangis, hati gue sakit liat itu..."
Chupp
Satu kecupan panjang mendarat tepat di kening yuna, yuna memejamkan matanya merasakan hal aneh dan rasa hangat merayap di seluruh tubuhnya, kecupan panjang itu sungguh membuat yuna tenang, hingga akhirnya juna menghentikannya yuna membuka matanya dan tersenyum kepada juna. "Maafin gue.." bisik yuna, dan di angguki oleh juna dengan senyum manisnya.
Mereka berdua turun dari mobil menuju tempat tujuan, namun sebelum itu juna menyuruh yuna untuk menutup matanya, dengan ragu yuna mengiyakan kemauan juna dengan tuntunan dari juna, yuna dengan perlahan melangkahkan kakinya takut apabila nanti ia terjatuh karena tidak melihat saat berjalan.
"Na..jauh banget sih, buka sekarang ya?"
"Ehh jangan, bentar lagu kok." juna menutup mata yuna dengan kedua telapak tangannya di dahapan mata yuna. "Sebentar lagi kok, bertahan sebentar..."
Setelah sekian lamanya berjalan akhirnya mereka berhenti. "Udah sampe?" tanya yuna yang merasakan tubuhnya berhenti di tuntun oleh juna.
"Sekarang lo boleh buka mata lo."
Yuna membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah sesuatu yang gemerlap dari cahaya lilin, selain itu di hadapannya ada sebuah kolam renang yang langsung di suguhkan dengan pemandangan alam yang asri, sungguh yuna terpukau dengan ini semua, saat hendak berbalik yuna di kagetkan dengan sebuah tangan kekar yang melingkar sempurna di pinggangnya.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan juna, lelaki itu menaruh dagunya di bahu yuna. "Lo suka ga?" tanya juna.
Yuna melirik juna. "Gue suka banget, kok bisa ada tempat se-indah ini jun?"
Juna membalikan posisi yuna mengarah padanya, tanpa melepaskan tangannya dari pinggang ramping yuna. "Ini villa punya papa, pas papa ga pulang waktu bertengkar sama gue ternyata papa beli villa ini dan tingga di sini." yuna masih terdiam menunggu perkataan juna selanjutnya. "Tadinya gue mau jelasin ini ke lo pas kemarin sore, tapi lo malah pengen pulang jadi terpaksa gue jelasinnya sekarang."
"Tapi gapapa, yang penting lo suka sama tempat ini.." yuna langsung menarik tubuh juna mendakat padanya, memeluk lelaki itu sangat erat seolah-olah ia tidak ingin melepaskannya.
"Maafin sikap gue jun, gue terlalu banyak fikiran kemarin..." mendengar hal itu justru juna melepaskan pelukan yuna dan menatap gadisnya dalam.
"Lo mikirin apa yun?"
Sesaat yuna berfikir apakah harus ia menceritakaan semuanya kepada juna bahwa akhir-akhir ini yuna sering mendapatkan petanda-petanda aneh akan hubungannya, tapi menurutnya ini belum waktunya jadi biarlah menjadi rahasia untuk saat ini. "Engga, gue cuman lagi banyak fikiran tetang sekolah.."
Juna sedikt lebih tenang, ia kembali memeluk yuna mendaratkan gadunya di atas kepala yuna. "Gue sayang sama lo.."
"Gue juga.."
Makan malam mereka berjalan dengan hikmat sampai akhir, setelah selesai makan malam juna mengajak yuna untuk terduduk di ayunan berwarna putih di dekat kolam renang. "Yun, lo suka ga sama villa ini?" tanya juna yang menyandarkan kepalanya pada bahu yuna.
Yuna hanya mengangguk sebagai jawaban. "Gimana kalau setelah kita nikah nanti, kita tinggal di sini."
Jujur, yuna sangat tersentuh mendengar itu ia salah tentang juna ia kira juna hanya bermain-main dengan hubungan mereka, tapi ternyata juna sudah merencanakan tentang masa depan bahkan sampai pernikahan mereka. "Nanti pas kita udah punya anak, gue bikinin taman bermain di sebelah sana buat anak kita." ucap juna sambil menunjuk sebuah halaman yang lumayan luas di ujung sana.
"Ohh ya, lo mau punya anak berapa yun, kalo gue sih pengen banyak kalo bisa kita bikin geng kaya, geng halilintar hahah..."
Yuna masih terdiam, sebenarnya ia mendengarkan perkataan juna hanya saja fikirannya tidak tau ke mana, yuna masih terfokus pada firasat buruk yang ia rasakan akhir-akhir ini. "Yun kok diem aja sii, harusnya kita rencanain semuanya dari sekarang, cepet bilang lo pengen apa buat masa depan kita sama anak kita nanti..."
"Lo ngaco ya, belum aja lulus udah ngomongin anak.."
Juna mengangkat kepalanya menatap yuna. "Ya ga ngaco lah, abis lulus kita langsung nikah gimana?"
Tentu saja yuna terkejut. "Gila, gue ga mau nikah muda juna lagian belum tentu gue nikah sama lo..."
"Kalo gue ga bisa nikahin lo, itu berarti ga ada yang bisa nikahin lo juga, selamanya lo cuman milik gue..!!" juna kembali mendaratkan kepalanya pada bahu yuna kini tangannya ikut memeluk tubuh yuna dari samping.
Yuna sebenarnya senang begitu mendengar ucapan tulus juna yang begitu mendambakkan hidup bersama yuna sampai akhir, tapi suatu hari takdir bisa saja berkata lain bukan, tidak ada yang mengetahui apa rencana tuhan selanjutnya.
Tbc
Gumushh author tuu sama mas juna hikdd, tapiii kok author mencium bau-bau sad ending ya? Duhh semoga aja engga dehh, tapii kalian harus komen gimana kedepannya tinggal beberapa chapter lagi inii...
Semoga menghibur and see you.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimple Girl (THE END)
Teen FictionKisah ayuna dan juna Berawal dari pertemuan yang tidak di sengaja, karena rumah mereka yang bertetanggan alhasil mereka berteman sangat baik hingga berujung dengan sebuah ikatan saling memiliki namun cinta mereka harus di uji dengan kehadiran cinta...