"Maaf ya kalo lama nunggu." ucapnya nampak menyesal.
"Santai aja kali, kita juga baru sampe kok." jawan lelaki berwajah bule tersebut yang di ketahui bernama farzan.
Iya, yuna memiliki janji temu bersama farzan bukan hanya farzan tapi darrel juga karena yang ia ketahui adalah juna dekat dengan kedua lelaki tersebut, anna memberikan nomer farzan pada yuna hal itu segera yuna mengirim farzan pesan agar sore ini yuna meminta untuk bertemu.
"Oke. langsung aja kalo gitu gue mau nanya nihh, Soal juna." ucap yuna bergerak gelisah.
Farzan dan darrel nampak menunggu pertanyaan dari yuna. "Lo pada tau ga soal masa lalu juna, atau orang spesial yang pernah hadir di kehidupan juna?"
Farzan dan darrel nampak bertukar pandangan seolah menyampaikan sesuatu lewat pandangan tersebut, yuna nampak kikuk di tempatnya takut apabila ia salah mengungkapkan pertanyaan.
"Maksutnya gwen?"
Perfect. Lelaki bermuka kalem yang sedari tadi menyimak akhirnya mengeluarkan suaranya dan kebetulan pertanyaan itulah yang yuna tunggu-tunggu.
"Jadi lo tau?" yuna mengubah posisinya memajukan dirinya lalu menopang dagu dengan kedua tangannya.
Lelaki bermuka bule itu nampak mengingat sesuatu. "Gwen siska pandhita?" darrel dan yuna kompak memandangi farzan.
Yuna semakin yakin kalau pertanyaan di fikirannya akan segera terjawab. "Emang ada apa sama dia?" tanya yuna penasaran.
"Gwen itu masa lalunya juna."
Benar. Ternyata benar apa yang ia fikirkan, pemilik nama tersebut adalah seseorang dari masa lalu juna.
"Emang ada masalah apaan sih?" tanya darrel yang mulai penasaran kenapa yuna meminta dirinya dan farzan untuk bertemu dan membahas soal masa lalu juna.
Akhirnya yuna menceritakan kejadian kemarin malam di mana ia menemukan juna di sebuah taman sampai ketika juna bermimpi memanggil nama 'Gwen' dan berujung yuna yang menjadi sangat-sangat penasaran akan itu.
"Gini. Jadi dua tahun yang lalu juna itu deket sama cewek namanya gwen siska pandhita, bisa di bilang itu cinta pertama dia cewek yang paling dia sayang setelah mama sama adiknya, hubungan mereka baik baik aja waktu itu tapi tiba-tiba gwen minta putus karena dia mau pergi ke negri orang. Gue denger siih katanya dia mau di jodohin, semenjak hari di mana juna di tinggal sama gwen dia jadi berubah dia dulu orang yang humor, ceria, suka banget ketawa terus ga lama dari itu kakaknya kecelakaan dan nyawanya pun melayang bukan cuman itu keluarganya pun jadi kacaw di situ gue ngerasa juna kayanya tertekan banget dan sikap-sikap aslinya yang asik mendadak hilang." jalas farzan panjang lebar.
Yuna terdiam, ternyata juna memendam rasa sakitnya sendiri selama ini. Ternyata juna yang ia kenal adalah orang yang memiliki banyak masalah, ia nampak kuat tapi sebenarnya ia rapuh.
Lalu apa yang harus yuna lakukan untuk membalas kebaikan juna? Pada akhirnya mereka bertiga pamit untuk pulang, yuna sudah berada di sebuah taksi sambil memandangi jalanan kota yang mulai di padati oleh pengendara lainnya, fikirannya kembali tertuju pada juna bagaimana bisa lelaki itu memendam rasa sakitnya sendirian.
Yuna berfikir untuk tetap berada di sisi juna, menemani lelaki itu sampai masalah benar-benar selesai selain itu yuna juga ingin membalas kebaikan juna.
***
Yuna sedang berada di rumah juna, setelah tadi pulang ke rumahnya dan memberi tahu kepada sang ayah bahwa hari ini ia akan pulang malam sempat di larang oleh sang ayah tapi yuna mencoba mencari alasan yang sekiranya membuat sang ayah mengijinkannya, meskipun harus berbohong tapi ini demi kebaikan juna.
Yuna mencoba mendekati ranjang terlihat ada sesuatu yang melembung di tutupi selimut berwarna abu abu muda, yuna menghampiri ranjang dan mendudukan dirinya di tepi ranjang dengan perlahan.
Membuka selimut yang menutupi mukanya, nampak seseorang sedang memejamkan matanya pertanda bahwa seseorang tersebut tengah tertidur. Sangat damai membuat yuna mengelus rambutnya perlahan.
Tapi nampaknya perlakuan yuna mengusik seseorang tersebut buktinya matanya terbuka dan berusaha tersenyum, di sambut dengan keterkejutan wajah yuna.
"Udah pulang?" suara serak milik seseorang tersebut terdengar di telinga yuna, seseorang tersebut nampak berusaha bangun dari tidurnya dan bersandar pada penyangga ranjang.
"Gimana keadaan lo?" alih-alih menjawab pertanyaan juna, yuna malah balik bertanya, pandangannya teralihkan pada sebuah obat dan semangkuk bubur yang masih utuh.
"Gue udah baikan kok, harusnya lo istirahat aja di rumah pasti cape kan pulang sekolah?" suaranya masih serak khas sekali orang bangun tidur.
"Kan gue udah bilang bakal ke sini, lagian lo baru aja sembuh. Itu kenapa bubur sama obatnya ga di makan?"
Juna terkekeh geli mendengar omelan yuna. "Kan udah sembuh, gue pengen mandi nihh gerah" ucapnya sambil menatap yuna dengan simrik yang membuat yuna menatap juna seolah bertanya.
"Apaan?!"
"Mandiin." wajah tanpa dosa itu ingin sekali yuna tonjok jika saja tidak menggemaskan.
"Stres ni orang, lo bangun dari sakit bukannya sembuh malah makin gila ya? Makanya di minum obatnya!" yuna bergidik ngeri.
"Udah cepet mandi." titah yuna ia mendirikan dirinya lalu menyeret lengan juna.
"Gausah di seret-seret juga kali, ga sabaran banget pengen mandi bareng!"
Yuna melebarkan matanya. "Apa lo bilang!?" juna segera menarik lengannya dari seretan yuna dan berlari memasuki kamar mandi, berniat kabur dari kemarahan yuna.
Suara gelak tawa terdengar dari balik pintu kamar mandi yang terletak di kamar milik juna, yuna hanya menggelengkan kepalanya sembari menunggu juna ia mencoba merapihkan ranjang yang sudah tidak jelas bentuknya dan turun ke bawah untuk menyiapkan makan untuk juna.
Berbincang-bincang kecil bersama bi lastri rupanya wanita paruh baya ini memiliki humor yang mampu membuat siapapun merasa nyaman walaupun baru kenal sehari, buktinya yuna terlihat akrap dengan bi lastri,Yuna membuat sebuah sup ayam di bantu dengan bi lastri.
Juna menuruni anak tangga, menghampiri bebauan yang membuat perutnya berbunyi lalu ia menghampiri berasalnya bebauan tersebut.
Juna menarik kursi meja makan hal itu mengusik dua wanita yang tengah berkutik dengan masakan yang merela buat. "Udah selesai?" tanya yuna yang mengambil mengkuk lalu menuangkan sup dari panci.
Juna hanya berdehem wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi lebih mendingan dari tadi sebelum mandi. "Makan dulu, udah gue buatin sup mumpung masih anget." yuna meletakkan mangkuk sup di atas meja makan bersamaan dengan sepiring nasi.
Juna mengambil sendok untuk mencicipi rasa sup tersebut, ia berhenti sejenak mencoba merasakan rasa yang ada di mulutnya. "Eum..enak, lo bisa masak juga?" juna menyuapkan suapan kedua ke mulutnya dan mulai memakan nasinya.
Yuna nampak senang melihat respon juna yang nampak menikmati masakannya. "Di bantuin bi lastri tadi."
Merasa namanya terpanggil akhirnya bi lastri ikut bergabung dengan juna dan yuna. "Bibi cuman ngiris bumbu doang kok den." ucapnya sambil tersenyum tak lupa sebuah rantang berwarna pink ia letakkan di atas meja.
"Ini rantangnya neng.." yuna mengangguk dan tersenyum.
"Buat siapa..?" tanya juna sambil melirik rantang tersebut, yuna mengikuti arah pandang juna.
"Ini buat tante yura."
Juna hampir saja lupa bahwa mamanya sedang sakit dan di rawat, ia bersyukur sudah di ingatkan oleh yuna. Lantas ia segera menghabiskan makananya sedangkan yuna ia menunggu di sampingnya sambil mengetik sesuatu di atas benda bernama ponsel.
Tbc.
Heiiyoo gengs! Makasii nii yang udah baca ceritaku, terharu banget walaupun belum banyak tapi aku bersyukur banget dan berterimakasih sama kalian semua. Semoga aja ceritaku ini bisa menghibur kalian ya gengs!
See you.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimple Girl (THE END)
Teen FictionKisah ayuna dan juna Berawal dari pertemuan yang tidak di sengaja, karena rumah mereka yang bertetanggan alhasil mereka berteman sangat baik hingga berujung dengan sebuah ikatan saling memiliki namun cinta mereka harus di uji dengan kehadiran cinta...