52. THE END

6 2 3
                                    

Setelah kejadian tadi keluarga yuna berkumpul di ruang tv, fani masih menangis dalam pelukan frans, sedangkan yuna kini sedang manatap tengannya yang bergetar.

Ryan di samping yuna pun merasa iba dengan kakaknya itu, meskipun menurutnya yuna adalah orangnya yang bawel dan bikin pusing tetapi yuna tetaplah kakaknya yang akan selalu ia sayang dan ia lindungi, sungguh ia kecewa dengan juna bisa-bisanya mengkhianati yuna.

Frans di posisinya benar-benar kacau, sebagai seorang ayah ia merasa tidak terima bahwa anaknya di perlakukan seperti ini, terlebih ia kecewa karena kepercayaannya di hancurkan. "Ibu, ayah, ryan.." panggil yuna dengan nada yang masih sesenggukan karena habis menangis.

"Yuna udah ambil keputusan buat lanjutin kuliah di inggris, besok pagi yuna berangkat." perkataan yuna mengundang keterkejutan di wajah keluarganya, terutama fani yang langsung terduduk tegap menatap yuna dengan wajah serius.

"Kamu bercanda?" tanya fani sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.

Kini yuna mengubah posisinya menghadap fani, menggenggam kedua tangan fani dengan arat. " yuna beneran bu. Ibu, pliss sekali ini aja. Yuna cape bu, yuna sakit hati banget, ibu bisa ngertiin yuna kan?" mata fani mulai berkaca-kaca dan sedetik kemudian air mata itu mulai tak terbendung.

"Tapi kak, lo ga bisa tinggalin kita gitu aja, gue tau ini berat banget buat lo tapi kita juga butuh lo kak." ryan mulai angkat bicara.

Yuna menoleh pada wajah adiknya itu dan tersenyum. "Ryan, gue ga pergi buat selamanya kok, gue cuman pengen tenangin diri dulu. Bukannya ini bagus buat lo?" yuna menarik nafas sesaat tak lupa untuk menghembuskannya kembali. "Lo bisa pake mobil gue sepuasnya, lo bisa ambil jatah makan gue, lo bisa pake kamar gue, dan lo bisa dapet kasih sayang lebih dari ibu sama ayah.." pupus sudah harapannya untuk terlihat kuat di hadapan mereka bertiga, yuna mulai menundukan wajahnya tak kuasa menahan air mata dan rasa perih di dalam sana.

Ryan segera memeluk yuna dari samping sangat erat. "Gue ga butuh itu semua kak, gue ga mau lo pergi.." ini sengat berat untuk yuna, sangat berat untuk meninggalkan keluarga yang sudah membuatnya merasa kenyamanan, keluarga yang selalu ada di sisinya, keluarga yang sudah menjadi belahan jiwanya.

"Ayah kasih ijin, kalau ini buat nenangin fikiran kamu..." fani menatap frans tidak percaya.

"Engga, ibu ga akan pernah kasih ijin. Yuna ga boleh pergi!"

Frans mencoba untuk menenangkan fani dengan memeluknya, memberikan kehangatan agar fani bisa mengerti posisi yuna saat ini. "Sayang dengerin aku." ucap frans lembut. "Yuna butuh ketenangan setelah apa yang terjadi, ini berat banget buat dia, kita harus hargai dan support apapun yang udah dia pilih, lihat anak kita sekarang sudah dewasa dia berhak untuk memilih jalannya sendiri.."

Frans menarik tubuh fani dan memegang kedua bahunya. "Jadi apapun itu, yuna berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.."

Tidak, fani sangat tidak terima dengan ini semua. "Kalau begitu kita harus ikut dengan yuna.." usul fani.

Dan hal itu di tolak dengan gelengan oleh frans. "Sayang, kumohon." pintanya dengan menatap mata fani dalam.

Yuna dan ryan masih dalam posisinya, mendengar ayahnya yang sedang membujuk ibunya sangatlah menyakitkan apalagi sikap fani yang tidak bisa merelakan yuna pergi. "Ahh tapi aku tidak bisa membiarkan anak perempuanku pergi.." fani kembali memeluk frans sambil menangis, frans mencoba memejamkan matanya melihat betapa malangnya keluarganya malam ini.

Yuna mengelap air matanya dengan punggung tangannya, melepaskan pelukan ryan. "Yuna pergi ke kamar dulu." ucapnya sambil beranjak dari duduknya untuk menaiki tangga dan pergi ke kamarnya.

My Dimple Girl (THE END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang