Foto Omar dan Zelin di dalam ruang musik tersimpan di album handphone milik Deon. Iya dia yang ambil gambar kemarin sore.
Deon meraih tangan Adara yang hampir saja masuk ke dalam kelasnya.
Adara menghentakkan kaki dan menepis tangan Deon saking kesalnya. “MAU LO APA LAGI SIH?! LO ITU BEJAT! PREMAN KALAH BEJATNYA SAMA TINGKAH LO!”
“Sabar dulu kali. Gua kesini mau kasih tau foto yang ngenakin Ra,” ujar Deon kemudian mengeluarkan handphone miliknya dari saku celananya abu-abunya.
“GAK USAH GILA!” bentak Adara lalu melangkahkan kakinya ke dalam kelas tapi Deon menariknya keluar.
“Lo gak mau liat fotonya? Biar lo tau siapa yang lebih bejat. Gua atau si Omar?” ucap Deon. Sela beberapa detik dia menunjukkan fotonya.
Yang sebelumnya Adara ingin tetap membiarkan Deon bicara sendiri, kini kakinya seakan tidak bisa bergerak sedikitpun. Matanya terpaku dengan tatapan kosong melihat foto itu.
Secepat kilat Adara merampas handphone Deon tapi pemiliknya tertawa miring sambil mengambilnya kembali.
“Udah liat? Keliatannya dia suka sama bibir Zelin,” ujar Deon lalu bersedekap tangan di atas perut. “Bejat mana? Gua atau..”
“GUE TAU INI CUMA AKAL-AKALAN LO AJA KAN?! OMAR GAK KAYAK GITU!” elak Adara tidak kuasa menahan amarahnya.
Deon tertawa sambil melihat respon Adara tadi. “Gini aja, lo mau foto nih dua orang kesebar atau lo jalan sama gua balik sekolah?”
“GAK MAU! GUE TAU KOK OMAR GAK SE-BEJAT LO!”
“Ck, lo udah liat sendiri gambarnya? Udah si, lo ikut gua aja. Temenin gua hari ini Ra. Lo tau kan akibatnya kalo lo nolak ajakan gua?” tanya Deon, lebih jelasnya dia mengancam.
Bagaimana pun juga, Adara tidak ingin Omar dapat masalah baru lagi. Adara menghela berat, mengangguki ajakan Deon untuk pertamakalinya.
“Iya gue mau,” jawab Adara.
Deon tersenyum tipis lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Adara dan berbisik pelan. “Hari ini lo milik gua.” Kemudian pergi dengan menusuki lidahnya ke pinggir mulut dalamnya.
Adara yakin dia tidak akan menyesali kesepakatannya dengan Deon.
——
Omar tidak kelihatan sama sekali hari ini di sekolah, bahkan William dan Jeka yang sudah dekat tidak dapat kabar. Adara mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan bertanya dimana dia sekarang dan apakah baik-baik saja, dia tidak ingin Omar makin memikirkan masalah barunya.
Mereka berempat berkumpul di meja kantin.
“Ra, lo udah nanya dimana si Omar?” tanya Jeka.
Adara menggeleng. “Belum.”
“Lo kan pacarnya sekarang, tanya aja gak usah takut gak dibales. Dia emang gak tiap waktu megang hp tapi lo berhak nanya,” ujar Jeka.
“Omar emang orangnya suka diem-diem Ra, suka gak ngasih tau kalo dia ada masalah. Kadang gua sama Jeka aja cuma dapet cerita sedikit. Biasa banget bilang santai dia,” ungkap William.
“Yang gue bingung tuh kenapa Zelin juga gak masuk hari ini? Dia kan gak suka sama Adara, apa jangan-jangan ada sesuatu antara Omar dan Zelin?” tanya Darin. “Maaf ya Ra, gue ngomong begitu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ADAROMAR
Novela JuvenilMenginjak tahun ketiga di SMA Djuanda, perempuan bernama Adara Lashita bertemu dengan ketua angkatannya, Omar Dasaad. Adara menjahili Omar karena sikap galak dan cuek yang dimiliki laki-laki itu, hingga suatu saat perasaan Adara tumbuh tanpa disadar...
