Part 3

146K 9.2K 361
                                        




"Seriusan lo mau cere?"

Siska bertanya setengah berteriak, membuat pandangan nyaris seluruh pengunjung restoran Jepang itu seketika tertuju pada meja yang berada di dekat pintu masuk, di mana Rinjani sedang makan siang bersama ketiga temannya.

Sementara itu, tangan kiri Endy masih menepuk pelan punggung Rea yang tersedak sushi lantaran terlalu kaget mendengar informasi yang disampaikan Rinjani.

Mereka berempat bersahabat sejak kuliah. Walaupun mengambil jurusan yang berbeda, tapi pertemuan konyol sewaktu mereka menjalani Masa Orientasi Mahasiswa Baru malah menjadikan pertemanan mereka terjalin erat hingga sekarang. Diantara keempatnya, hanya Rinjani yang telah berrumah tangga. Siska dan Endy masih betah menjomlo, sedangkan Rea sudah bertunangan dengan laki-laki yang dipacarinya dari masa putih abu-abu.

Batuk-batuk kecil Rea sudah mereda setelah gadis itu meminum jus jeruknya. Tangannya kemudian mengusap lembut punggung tangan Rinjani yang berada di atas meja. "Kalo lo belum siap cerita sekarang engga apa-apa, kita bakalan nunggu sampe lo siap berbagi beban hidup lo sama kita-kita," ucap Rea pengertian.

Memang Rea-lah yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Gadis keturunan Jawa tulen itu juga yang acapkali memberikan kalimat-kalimat yang menenangkan setiap kali sahabatnya sedang menghadapi masalah, karena ia memang seorang psikolog. Kalau Siska masih melanjutkan kuliah S-2 nya, sementara Endy sudah menjadi Arsitek yang cukup terkenal di kota mereka.

Senyum tulus terbentuk di bibir ranum milik Rinjani. Ia tahu mereka saling menyayangi satu sama lain. Jadi tidak salah kan kalau ia ingin berbagi beban hidupnya dengan sahabat-sahabatnya?

"Dia punya perempuan lain," ungkap Rinjani mencoba membagi perih dalam hati.

"Berengsek!"

Umpatan beserta suara gebrakan meja oleh tangan Siska lagi-lagi berhasil merebut atensi pengunjung yang lain. Siska yang berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang dan rambut potongan sebahu memang yang paling tidak bisa mengontrol emosi diantara mereka berempat. Perempuan berdarah blasteran Betawi-Batak ini juga tidak suka berbasi-basi. Siska selalu mengungkapkan apa yang ada di hatinya tanpa tedeng aling-aling.

"Kecilin suara lo bego!" tegur Endy. Tangannya kemudian terulur untuk menjitak kepala Siska. Sebagai satu-satunya laki-laki di meja itu, ia takut orang-orang menyangka umpatan Siska ditujukan untuknya.

"Sorry ...." Siska meringis sambil mengusap kepalanya.

Lalu ... dengan suara pelan, mengalirlah semua cerita tentang rumah tangganya dari mulut Rinjani. Sesekali ia menghela napas berat seolah mencoba mengurai sesak yang memenuhi rongga dada. Rea yang lebih dulu memeluknya erat setelah Rinjani selesai bercerita, disusul Siska, lalu Endy.

Rinjani bersyukur dalam hati, ia dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu menyayanginya. Tidak ada air mata yang mengalir, ia memang sudah bertekad, air matanya di malam itu adalah air mata terakhirnya untuk Wira. Pelukan mereka terurai, Rea yang duduk di sebelah kanan Rinjani menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Lo berhak dapet yang lebih baik," kata Rea lembut.

"Kayak gue misalnya, gue lebih segala-galanya dari suami lo, Jani ...." Endy menyambar sembari menawarkan diri.

"Ngimpi lo, lo itu cuma remahan peyek tau nggak!" Siska ikut menimpali.

Tidak terima dengan hinaan Siska, Endy kembali bersuara tak kalah pedas. "Enak aja kalo ngomong lo. Lo tuh perempuan tapi bar-bar banget. Makanya jadi jomlo sepanjang masa."

Terikat Dusta (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang