22- Rahasia yang Terbongkar

3.9K 404 28
                                        

Dont forget follow, vote and comment

Happy reading😊

Pagi ini Violet sedang berada di dalam sebuah mobil yang disampingnya ada seorang pria tua yaitu kakeknya.

"Kakek gak perlu antar Vio sampe depan pintu koridor," kata Violet dengan ramah.

"Gak papa dong sayang, supaya kamu gak perlu capek capek jalan dari gerbang kesini," kata kakeknya.

"Ya udah kalau gitu Vio masuk dulu ya," kata Violet lalu menyalim tangan kakeknya.

"Iya, belajar yang rajin," kata kakeknya.

"Iya, assalammualaikum kek," kata Violet.

"Waalaikumsalam," jawab Kakeknya.

Lalu Violet turun dari mobil kakeknya.

Sesampainya di kelas disana sudah ada Jane yang duduk di bangku sebelah kursi Violet.

"Hai," sapa Jane.

"Hai," balas Violet.

Violet duduk dikursinya, setelah itu datang beberapa siswa lainnya ke dalam kelas. Jane mencuri pandang ke Violet. Ia memperhatikan ketika Violet membaca novelnya. Violet tahu jika Jane memperhatikannya, lalu ia menutup novelnya dan menatap ke arah Jane.

"Ada yang mau lo omongin?" tanya Violet dingin.

Jane tampak ragu ragu untuk berbicara.

"Eh itu- gu-e hm aduh gimana ya," kata Jane dengan gugup.

"Tumben lo gugup," kata Violet.

"Gue mau nanya soal ke--," ucapan Jane terpotong

"Selamat pagi anak anak," kata bu Juita masuk tiba tiba ke kelas.

"Pagi bu," jawab anak anak.

"Nanti aja deh," bisik Jane ke Violet.

Violet hanya mengangguk kecil.

******

Violet dan Jane menuju kantin saat sampai di kantin mareka menduduki meja kantin yang sudah ada ke lima temannya disana.

Tidak seperti biasanya kali ini mereka hanya diam baik Sheina yang biasa memulai percakapan.

Violet tentu merasa aneh dengan hal ini, Violet memang cuek dan terlihat tidak perduli tetapi sebenarnya Violet lah yang paling peka diantara mereka.

Violet mencoba mengingat sesuatu yang membuat teman temannya hanya diam. Tiba tiba terukir senyum tipis di bibirnya, ia mengingat ada suatu kesalahan.

Sambil mengaduk jus di depannya "kalian marah ama gue?" tanya Violet dengan dingin.

Pertanyaan itu membuat teman temannya yang sibuk dengan makanannya menjadi berhenti dan menatap Violet dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. Tapi Violet hanya melihatkan ekspresi datarnya.
Tidak ada yang menjawab satupun padahal pertanyaan itu sudah dua menit yang lalu ia tanyakan.

VIOLET (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang