34

162 15 1
                                    

Happy reading !🤗😉

Stay healthy, keep smiling, and be happy !😉😙🤗

"You are the sunshine of my life and you're the one that light up my day. Your anger is making every part of my world dark. Please come back to me and light up my world. I'm sorry for all my mistakes ! Please forgive me, Sugar !"

~Danish Luthfi Marq~

***
Langkah kaki Lily menuruni anak tangga membuat tiga pasang mata yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu kompak menoleh. Senyumnya merekah membuat ketiga orang itu melakukan hal yang sama.

Tanpa kata Dean langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sang adik yang masih berada di puncak anak tangga. Menggendong adik kecilnya itu dengan mudah karena tubuh Lily yang ringan.

Padahal kaki Lily sudah jauh lebih baik sekarang. Kemarin dia juga sudah diurut sebanyak 3 kali. Sekarang dia bahkan sudah tidak membutuhkan tongkatnya lagi.

Jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul tujuh pagi. Dan anak perempuan itu baru turun karena kembali tidur setelah sholat Subuh tadi. Dia baru bisa turun sekarang setelah bersih-bersih terlebih dahulu.

Lily duduk di samping ayahnya dan langsung bergelantung manja di lengan kiri sang ayah. Armando hanya tersenyum melihat tingkah anak perempuannya itu. Tangan kanannya terangkat dan mengacak-acak rambut sang anak gemas.

Ahh, sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka bisa berkumpul seperti itu ?

"Ihh, papah ! Rambut Lily masih basah jangan dipegang !" tawa kecil Armando terdengar melihat tingkah manja anaknya.

Rasanya benar-benar menyenangkan bisa kembali berkumpul seperti itu. Bodoh sekali dulu dia mengusir anaknya dari rumah itu. Dia sudah menyakiti hati anak bungsunya.

Bodoh sekali !

"Sayang ! Mamah bikin kue tart coklat kesukaan kamu ! Anak mamah sudah besar yaa sekarang. Nggak nyangka sudah 17 tahun aja !" mata Lily berbinar melihat kue full coklat itu.

"Telat 2 hari nggak apa-apa yaa ! Kalau mamah tau kamu mau pulang, sudah mamah bikin sebelum kamu datang !"

"Terima kasih, mah !" kata Lily terharuh. Dia yakin mamahnya pasti bangun pagi-pagi sekali untuk membuat kue itu.

Lily memotong kue itu dan memberikan potongan pertama kepada Fatimah. Potongan kedua untuk ayahnya, potongan ketiga untuk kakak tampannya dan terakhir untuk dirinya sendiri.

"Enak !" kedua mata Lily semakin berbinar saat kue itu menyentuh lidahnya.

Fatimah menatap anak gadisnya yang terlihat lebih kurus dari terakhir kali dia berada di rumah itu. Sepertinya Lily masih belum bisa terbiasa hidup berdua dengan suaminya.

Atau apakah Lily-nya menderita hidup bersama Danish ?

Apakah Lily-nya tidak bahagia ?

"Sayang ?" panggil Fatimah lembut sambil mengelus lembut rambut anaknya yang semakin panjang.

"Kenapa, mah ?" jawab Lily sambil menoleh pada ibunya.

"Ibu tidak tau apa yang sedang terjadi dengan rumah tanggamu, nak. Dan ibu tidak tau ada masalah apa antara kau dan Danish. Tapi mamah harap Lily bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin. Jangan pernah mengambil keputusan disaat hati dan pikiran kalian masih panas !" nasehat Fatimah masih sambil mengelus lembut kepala anak gadisnya.

Senyum Lily sedikit luntur mendengar penuturan ibunya. Padahal dia sudah berusaha agar kedua orang tuanya juga kakaknya tidak tahu dengan masalah rumah tangganya.

WHAT IS LOVE?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang