41. Dika atau Kevin?

104 10 0
                                    

Happy Reading!😉😙

"Semudah menjatuhkan hati pada seseorang, semudah itu pula menghapus cinta. Jika memang seperti itu, mengapa sejak awal harus ada cinta? Itu hanya akan membunuh hati yang sudah terlanjur mencintai."

~Audy~

***
Manusia adalah makhluk yang berakal budi, artinya makhluk yang paling sempurna dari seluru makhluk di muka bumi ini. Manusia adalah makhluk yang berpolitik, bermasyarakat, berbudaya, berbahasa, berbicara, pun adalah makhluk yang berperasaan.

Karena manusia adalah makhluk yang berperasaan, menyebabkan defenisi akan sesuatu hal selalu berbeda-beda. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing. Meski tak sama, bukan berarti pendapat mereka salah dan pendapatmu yang benar. Karena dalam hal berpendapat tidak ada kata salah atau benar, melainkan tepat atau kurang tepat.

Begitu pun dengan cinta. Setiap orang mungkin saja memiliki definisi mereka sendiri tentang cinta. Cinta yang katanya adalah sumber kebahagiaan paling indah karena selalu sepaket dengan kasih sayang. Tapi tak menutup kemungkinan bahwa ada seseorang yang malah mengartikan sebaliknya. Bahwa cinta adalah sumber malapetaka.

Lagi-lagi karena perbedaan definisi, seseorang terkadang tanpa sadar saling menyakiti satu sama lain. Semua karena keegoisan masing-masing. Terlalu ingin menang sendiri, hingga lupa dengan orang-orang yang telah dengan tulus mencintainya.

Suasana kafe yang belum terlalu ramai nampak lebih tenang dari biasanya. Hanya ada beberapa pelanggan lain yang silih datang dan pergi. Kafe pun terasa jauh lebih luas karena hanya ada beberapa meja yang terisi.

Anehnya, Risa malah merasa begitu sesak berada di sana. Dadanya seperti ditekan beban berat yang membuatnya kesulitan menghirup oksigen. Air matanya masih mengalir membuat hidungnya tersumbat. Suara isakannya pun masih terdengar sesekali.

Kevin masih mencoba menenangkan Risa. Mengelus lembut lengan gadis itu agar bisa sedikit lebih tenang. Keduanya masing mengatupkan bibir mereka rapat-rapat. Belum ada yang membuka suara lagi setelah Risa meluapkan semua yang mengganjal di dadanya.

Risa tahu itu memalukan, sangat. Tapi ia tidak ingin diam lagi. Ia tidak ingin hanya terus memendamnya sendiri. Menyerah sebelum berjuang, Risa tak ingin seperti itu.

Bahkan setelah perjuangan pertamanya telah gagal total, setidaknya ia harus kencoba lagi untuk yang kedua kalinya. Jika memang ia masih gagal, ia akan berhenti setelah itu.

"Boleh aku bicara sekarang, Sa?" tanya Kevin hati-hati. Suaranya begitu lembut, seakan begitu takut Risa akan terluka jika suaranya tinggi sedikit saja.

Risa mengangguk. Menghela napas panjang berulang kali. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mempersiapkan hatinya untuk mendengar jawaban Kevin. Yang mungkin saja akan kembali menghujamnya keras. Yang bisa saja adalah bom atom untuknya.

Kevin melepaskan pelukannya pada Risa. Sedikit menggeser kursinya menjauh dari Risa agar bisa memposisikan diri duduk menghadap gadis itu dengan sempurna. Kedua tangannya berada di lengan Risa. Membuat Risa otomatis menghadap padanya.

Terdengar helaan napas berat dari Kevin. Seperti ada beban berat yang juga menghimpit dadanya. Sesak. Wajahnya jelas tak sama lagi dengan tadi. Sedikit pun tak ada lagi raut kebahagiaan di sana. Hanya ada kesenduan yang tersisa.

"Risa...mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama," ucap Kevin telak. Ia menatap Risa dengan tatapan serius.

Air mata Risa kembali tumpah, namun kali ini ia berusaha sebisa mungkin menahan isakannya.

"Maksudnya? Kenapa tidak, Vin?"

Hah!

Kevin kembali menghembus napa berat. Bahkan itu mungkin lebih sesak tadi yang sebelumnya.

WHAT IS LOVE?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang