Cahaya matahari pagi masuk melalui sela-sela tirai kamar gue. Setengah tidur, gue mendudukkan daksa kemudian meregangkan otot-otot.
Seperti hari-hari biasa, gue buru-buru menyalakan ponsel yang sejak malam hari gue matikan ketika tengah mengisi daya baterai.
Baru saja ponsel gue terbuka, ratusan notifikasi masuk secara beruntun. Gue yang terkejut buru-buru mengusap kedua kelopak mata yang buram.
Drrt!
Ponsel yang bertengger di telapak tangan gue secara tiba-tiba bergetar membuat rasa kantuk gue sirna seketika. 'Kak Hyunjin' nama tersebut terpampang di layar.
Bukan merupakan hal yang lumrah jika kak Hyunjin menelepon gue apalagi pada dini hari seperti ini. Biasanya kak Hyunjin akan meminta seseorang untuk menelepon gue dibanding menelepon langsung.
Gue segera menyeret simbol hijau disana dan menempatkan ponsel gue tepat di telinga. "Halo kak?" Kata gue untuk mengawali pembicaraan.
"(y/n) lo buruan berangkat sekolah, kalo udah sampe langsung ke ruang OSIS. Kita mau rapat dadakan. Pip!" Pinta kak Hyunjin langsung mematikan sambungan telepon.
Gue membelalak terkejut. Sebenarnya rapat dadakan memang sering diadakan oleh anak-anak OSIS, tapi apa harus sepagi ini?!
Lantas gue yang masih setengah mengantuk langsung melompat dari kasur dan berlari cepat menuju kamar mandi.
• • •
Brak!
"Kak Chanwoo, Anterin gue ke sekolah dong! Buru-buru nih, ayo!" Seru gue setelah berhasil mendobrak pintu kamar kakak semata wayang gue.
Sang empu yang masih tertidur langsung membelalak terkejut. Bukannya terbangun, ia justru menutupi wajahnya dengan bantal yang tengah ia gunakan.
"Pergi lo, setan!" Seru kak Chanwoo dengan suara sengau khas orang bangun tidur lantas ia kembali terlelap tanpa memperdulikan gue.
Gue menarik paksa bantal miliknya kemudian berteriak, "Ayo, kak! Gue ada rapat dadakan! Serius ini gue dalam bahaya kalo ga dateng!"
Kak Chanwoo bangun dengan wajah cemberut, terlihat sekali bahwa dirinya tengah kesal. "Kenapa ga minta dianterin papa atau mama?"
"Papa sama mama masih tidur. Gue ga mau ganggu soalnya mereka kecapean," Jelas gue kemudian melempar wajahnya dengan bantal.
Pemuda berpipi gembul tersebut lantas menghela napas kemudian menutupi wajahnya dengan selimut, "Halte bus ga jauh dari rumah."
Sialan emang.
Memilih untuk menyerah, gue segera keluar dari kamarnya lantas memakai sepatu dan memanggul tas ransel. Iya, gue mau pergi ke halte.
Sebenarnya, gue bisa saja meminta tolong Haruto untuk berangkat bersama gue karena kebetulan dia membawa kendaraan sendiri. Namun, gue yakin dia masih tertidur sekarang.
Gue berlari cepat menuju gerbang perumahan sembari sesekali melirik jam di layar ponsel gue. Lima belas menit berlalu sejak panggilan suara dari kak Hyunjin.
Membangunkan kak Chanwoo benar-benar membuang waktu gue. Padahal sudah bagus gue mandi dalam hitungan detik. Mana jalanan di perumahan ini luas banget, gue keburu capek duluan.
KAMU SEDANG MEMBACA
boyfriend ; treasure✓
Fanfiction↬ completed Bagaimana rasanya dikelilingi tiga belas laki-laki yang menyukaimu?
