Tiga Puluh Dua

85 19 37
                                        

Happy reading!❤️
Sori kalo ada typo, author masih noob.

***

Tidak mau Shania ingat-ingat tentang apa yang terjadi setelah mobil kembali melaju. Intinya, sekarang dia tengah menenggelamkan diri dalam bath up. Aromaterapi mampu meredakan segala yang bergejolak dalam jiwanya.

Sesekali kepala Shania timbul untuk mengambil napas, kemudian kembali tenggelam. Kalau orang lain suka menyamarkan tangis dengan berdiri di bawah hujan, Shania tidak. Dia cukup berendam dalam air hangat.

Dadanya masih sesak mengingat kejadian tadi siang. Redaf, orang yang dia percaya akan mengajak Shania di negeri dongeng justru berakhir seperti mimpi buruk. Namun, apakah tadi itu memang akhir dari mereka?

Tidak tahu. Shania tak mengerti apa pun. Terlalu tolol kata Nala. Apa yang harus dilakukan sekarang? Marah? Menangis? Sedih? Shania menggeleng sambil mengambil napas lagi.

"AAAA!" Jeritan tersebut hanya dapat didengar oleh busa dalam bath up. Gadis itu tersedak air basa karena sabun. "Huek, pahit!"

Sudah lama dia tidak melakukan ritual rutinnya, mengkhayal. Andai saja kisah cinta Shania semulus novel yang dia baca. Bertemu, pendekatan, jadian, langgeng, menikah, punya anak, hidup bersama sampai tua.

Kalau Redaf tidak putus dari Thesa, apakah dia masih mendekati Shania? Misal Redaf tidak terjebak masa lalu, akankah semuanya berjalan sesuai harapan?

Harapan, ya? Apa itu harapan? Keinginan dari hati yang egois? Pemikiran kuno otak manusia? Gunanya berharap itu apa? Untuk dipatahkan oleh orang yang diharapkan?

Lagi-lagi Shania tidak mengerti cara kerja dunia. Yang jelas, dia harus berpikir tampang seperti apa ketika dia datang ke sekolah nanti. Banyak kakak kelas yang akan menertawakan pasti. Kalau bertemu Redaf wajah seperti apa yang mesti ditampilkan?

Shania belum ingin cerita pada Nala tentang hal ini. Bisa-bisa penilaian Redaf di matanya kian buruk, dia tidak mau. Gadis itu menarik napas, berusaha menetralisir hatinya. Tidak boleh berlebihan, sikap yang ditunjukkan harus biasa saja.

Besok Senin, harus lekas tidur malam ini. Sejak tadi dia nonaktifkan ponsel karena dirasa mengganggu. Lepas bilas dan memakai piyama, Shania membanting tubuh ke kasur, bergelung dalam selimut dengan mata terpejam. Dia berharap semua yang terjadi hari ini hanya mimpi. 'Cause it such a nightmare.

***

Turun dari mobil Niko dan berpamitan, Shania menatap ragu gedung sekolahnya. Seketika dia geleng-gelengkan kepala, ayo, semangat!

"Kesurupan lo?" Pertanyaan itu meluncur mulus dari bibir Nala yang baru saja datang.

Shania melirik sahabatnya, lalu menggeleng cepat-cepat. "Enggak."

"Ya udah, buruan masuk. Sepuluh menit lagi upacara," katanya, "lo bawa topi, 'kan?"

Seluruh gerakan Shania terhenti, pun dengan napasnya. Dia rasa sudah taruh di tas, pasti ada. Berusaha tenang, dia buka semua bagian tas. Dari depan, saku samping, belakang, tak kunjung ditemukan. Shania mulai panik dan menampilkan wajah kucing memelas---lagi.

"Hueee, Nala!"

Sudah Nala duga akan begitu. Dia menyeret kucing---dibaca Shania---itu ke kelas mereka. Dasar Shania mudah panik, begitu saja sudah mau menangis.

Sebagai teman yang sangat baik, Nala menyarankan agar Shania dapat beristirahat di UKS. Tentu saja gadis itu menolak mentah-mentah.

WAIVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang