STORY=53

1.1K 149 26
                                        


   Happy reading
   Mian for typo and don't forget to vote and coment..

   Btw Ulan lupa nama bapaknya icung gaiss...Wee Notenya ilang entah kemana. Jadi kalo ada yg kebeda sama chap sebelumnya bilang yg Yeorebun.

_________________




    Jongseok, Park Jongseok seorang raja yang terasingkan, ah!tidak lebih tepatnya Raja yang mengasingkan diri dari kerajaannya.

    Kerajaan di sebuah negeri yang dulunya damai, tentram dan sejahtera seketika berubah menjadi sebuah tanah neraka yang kejam bagi siapa pun yang tinggal di sana.

   Bukan tidak bertanggung jawab, bukan ia melepas tangan dari tanggungjawab. Hanya saja, situasi yang membuat ia mengasingkan diri bersama sang istri. Pergi jauh sejauh mungkin dari kerajaannya.
    Sedikit ada rasa penyesalan dan rasa bersalah dalam dirinya mengingat semua yang ia jaga kini telah hancur lebur, ia bukanlah sosok raja yang baik, bukan juga sosok kepala rumah tangga yang baik.

    Dimana sumpahnya, di mana janjinya saat ia di Lantik oleh sang ayah untuk menggantikan beliau yang sudah berumur kalah itu, apa yang akan beliau katakan jika mengetahui dan melihat kerja anaknya yang tidak becus dan tak bertanggung jawab, bahkan. Mengambil sebuah keputusan saja ia sangat bodoh. Dan malah mengorbankan yang paling utama untuk yang sampingan.

   Ia bahkan lupa akan janjinya kepada istrinya dulu, dulu saat anak laki-lakinya baru di lahirkan kedunia. Ia berjanji untuk menjaga dan melindungi putra semata wayang mereka yang nantinya akan menjadi penerus baginya di masa depan, tapi apa? Dia bahkan tidak bisa mewujudkan janji itu, janji manis yang ia ucapkan pada sang istri hanya menjadi sebuah bualan semata dan dusta. Ia menyesal. Sangat menyesal.
     

    Manik mata kelamnya yang tersorot kesedihan, penyesalan, dan juga emosi menatap jauh langit yang terbentang luas di atas sana. Pikirannya melalang buana dalam dimensi waktu yang di namakan sebuah kenangan. Ia hanya bisa mengingat, ia hanya bisa menyesal, ia hanya bisa pasrah. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
   
   Bola kristal es yang ada di tangannya ini menjadi satu bukti tertinggal dan nyata kalau ia telah membuat suatu keputusan yang buruk, sangat buruk. Bola kristal yang dalamnya terdapat beberapa kelopak bunga yang sepuluh tahun silam di tinggalkan putranya. Menjadi bukti nyata kalau apa yang ia lakukan dan pilih kalah itu adalah sebuah bencana, adalah sebuah awal kehancuran dari dirinya juga semuanya.

    Jongseok selalu memikirkan anaknya, tak ada waktu dan detik ia tidak memikirkan putranya itu, ia terlalu rindu tapi juga terlalu malu.
   Ia sadar, apa yang ia lakukan kalah itu adalah sebuah luka besar untuk putranya, luka yang tak mungkin bisa sembuh dengan hanya meminta maaf.

   Sesungguhnya.
     Kata maaf hanyalah sebuah penutup bagi sebuah luka, bukan untuk menyembuhkan luka tersebut, bagaikan kata maaf adalah sebuah perban tampa alkohol untuk membersikan dan me untaskan luka itu benar-benar sembuh.

   Dengan kata maaf tidak bisa membuat luka yang ia torehkan sembuh dengan sekejap, luka itu akan terus membekas dan terus ada, tak akan pernah hilang dan luntur dari batin putranya. Ia sadar hal itu tak akan terjadi.
   Ia hanya berharap keajaiban datang padanya.

  Keajaiban dimana anaknya, putra nya, Jisung kecilnya tepat berada di depan matanya, berdiri tersenyum dan menyapanya dengan memanggilnya ayah. Keajaiban di mana ia bisa memeluk dengan sayang tubuh anaknya dengan erat, merengkuh anaknya dan istrinya dalam satu dekapan keluarga yang hangat seperti dulu.

   Lagi-lagi ia sadar.

    Bahwa hal itu tak akan terjadi,
Mungkin saja!mungkin saja di luar sana, anaknya telah mendapatkan kebahagiaannya, dan mungkin sudah sangat membenci dirinya dan enggan mengganggap pria bodoh ini sebagai ayahnya. Jisung mungkin saja terlalu benci dan malu untuk sekedar menyebut dirinya ayah.

Park Jisung [ END | Revisi ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang