STORY=51

928 131 8
                                        


   Alooo hehehe mian Yorobum
Waee Jan pada ngamok loh waloyoo...:')

  Happy reading
Mian for typo
And don't forget to vote and coment

Baca Ampe abis gais, ada info penting ;')

________________________






     Matahari nampak bersinar cerah di langit ACESYAS, embun pagi membuat suasana menjadi lebih tentram dan damai. Suara merdu dari kicauan burung seperti melodi tersendiri yang berpadu cantik suara dedaunan yang terkena terpaan angin.

  
     Mark dan dan lainnya berjalan santai menuju ruang makan yang di sediakan Yeonjun untuk  mereka, sebenarnya mereka sudah menolaknya tidak enak terlalu banyak merepotkan Yeonjun di negerinya. Padahal mereka hanya tamu, bahkan Jaemin sekalipun merasa dirinya hanya tamu di negeri indah ini.
    Akan tetapi, suara alami yang berasal dari perut Haechan dan Jeno tampak tak bisa berbohong. Jadilah mereka bertujuh menyetujui ajakan sarapan pagi Yeonjun.

    Selama berjalan menuju ruang makan, perjalanan mereka di isi dengan percakapan-percakapan kecil, gurauan atupun sedikit topik serius, tak sering mereka tertawa karna candaan yang lainnya, atau kesal karna ledekan yang di timpali, sampai tak terasa mereka bertujuh sudah sampai di depan pintu ruang makan, pintu itu terbuka oleh seorang pelan dari dalam, pelan itu seorang perempuan yang sekitaran berumur 20an tahun, yah!terlihat dari wajahnya yang tampak masih muda.

    Setelahnya pelan perempuan itu menunduk hormat saat Mark, Jeno Renjun, Jaemin , Haechan, Chenle dan Jisung berjalan masuk melewati pelan tersebut.

   Di meja makan sendiri tampak sudah ada Renjun yang duduk di sisi kanan meja, jadi ya ia duduk langsung berhadapan dengan pintu tadi, otomatis juga langsung menghadap kearah mereka bertujuh.
   Langka kaki mereka mulai mendekati meja makan yang sudah ada Yeonjun yang duduk manis di sana, Chenle Jeno dan Mark mengambil tempat duduk di sisi kanan juga, dan Jaemin, Haechan , Jisung dan Renjun di sisi kiri, saat Jaemin menarik kursi yang berhadapan dengan Yeonjun, pemuda Choi itu menghentikan Jaemin di detik yang sama.

    "Tunggu!kau tidak bisa duduk di situ"ujar Yeonjun pada Jaemin.

    Jaemin lantas mengerutkan keningnya, menatap lekat ke arah Yeonjun.

   "Kenapa tidak?"tanya Jaemin.

   "Yah, karna tempat duduk mu seharusnya di tengah yang mulia, dan yah....seharusnya aku tidak duduk di sini"balas Yeonjun. Lagi-lagi Jaemin tidak mengerti dengan ucapan Yeonjun

   "Owh....aku baru ingat!kau kan raja di negeri ini Jaemin, kau sudah seharusnya duduk di kursi makan raja......dan katakanlah, Yeonjun itu seperti penasehatmu atau Mentri...ah ataupun, prajurit kepercayaanmu"ujar Mark.

   "Benar apa yang di katakan Mark Hyung....kau sudah seharusnya duduk di kursi makan raja, tuh tempatmu di tengah itu tuh"ujar Haechan sembari menunjuk kursi tersendiri di ujung mejah antara sisi kanan dan kiri, tepat pula di sisi kiri Jaemin yang berdiri.

    "Eh..i-itu... tidak-tidak aku duduk di sisi saja hehehe...iya di sini saja"ujar Jaemin kikuk, sesungguhnya ia masih merasa canggung dengan sekitarannya yang mana selalu menyebut kata Raja dan Yang mulia.
  
   Terlahir dengan simbol Pardick membuat ia nyaman dengan status arti simbol Pardick itu sendiri, tak heran jika ia merasa canggung dengan status baru dari simbol ACEY itu sendiri.

    Untuk saat ini Yeonjun tak mempermasalahkan hal ini, ia mengerti rasa canggung yang di alami Jaemin. Ia pasti masih sangat terkejut dan belum bisa menerima dengan begitu saja hal seperti ini.
    Ia dan juga Penjaga kekuatan Suci ACEY yang terdahulu termasuk kakeknya dan kedua orangtuanya telah sangat lama menunggu kedatangan Raja baru yang terpilih, untuk memimpin dan menjadi perwujudan baru dari keempat bunga kehidupan yang mulia. bahkan sejak beratus-ratus tahun lamanya, menunggu sedikit lagi bukan perkara besar buhkan. Setidaknya, ia sudah mengetahui siapa yang terpilih menjadi perwujudan baru itu sendiri.

Park Jisung [ END | Revisi ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang